Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 902 tentang Melempar jumrah dan sa'i adalah untuk dzikir kepada Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan hikmah utama di balik ibadah melempar jumrah dan sa'i antara Safa dan Marwah, yaitu untuk menegakkan dzikir kepada Allah ﷻ. Ini menunjukkan bahwa ibadah-ibadah tersebut bukan sekadar ritual fisik tanpa makna, melainkan sarana untuk menghidupkan hati dengan mengingat Allah, mengagungkan-Nya, dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap gerakan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

"Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan..." (QS. Al-Hajj [22]: 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah haji secara umum, termasuk di dalamnya melempar jumrah dan sa'i, memiliki tujuan utama untuk berdzikir dan mengingat Allah ﷻ.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa hikmah melempar jumrah adalah untuk menghinakan setan dan mengagungkan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya, serta sebagai bentuk dzikir dan ketaatan.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menekankan bahwa seluruh rangkaian ibadah haji adalah sarana untuk menghidupkan dzikir kepada Allah dan menguatkan tauhid.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat ibadah. Ibadah dalam Islam tidak pernah terlepas dari ruh dzikir dan penghambaan diri kepada Allah ﷻ.

1. Makna "Li Iqamati Dzikrillah" (Untuk Menegakkan Dzikir kepada Allah)

Frasa ini menunjukkan bahwa tujuan utama dari disyariatkannya melempar jumrah dan sa'i bukanlah pada gerakan fisiknya semata, tetapi pada makna spiritual yang terkandung di dalamnya.

  • Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ketika seorang hamba melempar jumrah, ia sedang melakukan sebuah simbol perlawanan terhadap setan dan hawa nafsunya. Setiap kali ia melempar, hatinya harus hadir mengingat Allah, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan memohon perlindungan dari godaan setan yang terkutuk.
  • Imam As-Sa'di menambahkan bahwa sa'i antara Safa dan Marwah mengingatkan kita pada kisah Siti Hajar yang berlari mencari air untuk putranya, Nabi Ismail. Ini adalah bentuk tawakal dan kepasrahan total kepada Allah. Dzikir dalam sa'i bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan hati yang merasakan kedekatan kepada Allah.

2. Hikmah di Balik Ritual Ibadah

Hadits ini juga mengajarkan bahwa setiap ritual dalam Islam memiliki hikmah dan tujuan. Tidak ada satu pun ibadah yang sia-sia.

  • Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan shahih, menunjukkan bahwa sanadnya kuat dan dapat dijadikan hujjah.
  • Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi'i, sangat memperhatikan aspek dzikir dalam ibadah. Mereka mengajarkan bahwa ibadah tanpa kehadiran hati hanyalah gerakan kosong.

3. Peringatan agar Tidak Terjebak pada Formalitas

Hadits ini juga menjadi peringatan bagi kita agar tidak terjebak pada formalitas ibadah tanpa menghadirkan ruhnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sering mengingatkan bahwa amal ibadah yang diterima adalah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai sunnah, serta diiringi dengan kehadiran hati.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Imam Fudhail bin 'Iyadh — seorang ulama besar yang sangat zuhud — pernah ditanya tentang makna ibadah. Beliau menjawab dengan air mata berlinang, "Ibadah adalah ketika hatimu hadir bersama Allah, lisammu berdzikir kepada-Nya, dan seluruh anggota tubuhmu tunduk melaksanakan perintah-Nya. Jika semua itu telah menyatu, maka itulah hakikat ibadah."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para salafus shalih sangat memahami bahwa dzikir adalah ruh dari setiap ibadah. Mereka tidak pernah memisahkan antara gerakan fisik dan kehadiran hati.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan setiap ibadah — termasuk melempar jumrah dan sa'i — semata-mata untuk menegakkan dzikir dan mengagungkan Allah ﷻ.
  2. Hadirkan hati saat beribadah. Jangan biarkan gerakan fisik berjalan tanpa makna. Rasakan kebesaran Allah dalam setiap langkah dan lemparan.
  3. Perbanyak dzikir dalam setiap rangkaian ibadah, baik dengan lisan maupun dengan hati yang khusyuk.
  4. Ambil pelajaran dari setiap ritual ibadah bahwa semuanya adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar tradisi atau kebiasaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?