Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan beberapa sunnah Nabi ﷺ saat menuju Muzdalifah dan Mina, yaitu bergegas di Wadi Muhassir, menjaga ketenangan (sakinah), melempar jumrah dengan kerikil kecil, dan isyarat beliau tentang kemungkinan tidak bertemu lagi. Hadits ini mengajarkan adab dan tata cara ibadah haji yang penuh ketenangan serta kesadaran akan perpisahan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Haji, Bab Apa yang Dikatakan tentang Iffadah dari Arafah, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Teks hadits lengkap dengan harakat:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، وَبِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ، وَأَبُو نُعَيْمٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَوْضَعَ فِي وَادِي مُحَسِّرٍ . وَزَادَ فِيهِ بِشْرٌ وَأَفَاضَ مِنْ جَمْعٍ وَعَلَيْهِ السَّكِينَةُ وَأَمَرَهُمْ بِالسَّكِينَةِ . وَزَادَ فِيهِ أَبُو نُعَيْمٍ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَرْمُوا بِمِثْلِ حَصَى الْخَذْفِ وَقَالَ " لَعَلِّي لاَ أَرَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا " . قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ جَابِرٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ .
Terjemahan: "Jabir berkata: 'Nabi ﷺ bergegas melalui Wadi Muhassir.' Bishr menambahkan: 'Dia berangkat dari Jam (Muzdalifah) dengan tenang dan dia memerintahkan mereka untuk tenang.' Abu Nu'aim menambahkan: 'Dan dia memerintahkan mereka untuk melempar dengan kerikil kecil.' Dan beliau bersabda: 'Mungkin aku tidak akan melihat kalian setelah tahun ini.'"
Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang ketenangan dan dzikir saat menuju Mina:
QS. Al-Baqarah [2]: 198
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ ۚ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Terjemahan: "Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'aril Haram (Muzdalifah). Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
- Bergegas di Wadi Muhassir: Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Wadi Muhassir adalah tempat yang terletak antara Muzdalifah dan Mina. Nabi ﷺ bergegas (أَوْضَعَ) di tempat ini, yang berarti mempercepat langkah. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hikmahnya adalah karena tempat ini adalah tempat turunnya azab kepada kaum yang durhaka (kaum yang menyerang Ka'bah dengan gajah). Bergegas di sini adalah bentuk menjauhi tempat azab dan mengingat kekuasaan Allah.
- Ketenangan (Sakinah): Bishr menambahkan bahwa Nabi ﷺ berangkat dari Muzdalifah (Jam') dengan tenang dan memerintahkan para sahabat untuk tenang. Ini menunjukkan bahwa meskipun beliau bergegas di Wadi Muhassir, secara umum beliau tetap menjaga ketenangan dalam beribadah. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa ketenangan adalah ciri ibadah haji yang diterima, karena haji adalah perjalanan spiritual yang penuh dzikir dan tawadhu.
- Melempar dengan Kerikil Kecil: Abu Nu'aim menambahkan bahwa Nabi ﷺ memerintahkan untuk melempar jumrah dengan kerikil seukuran hasha al-khadhf (kerikil yang biasa dilempar dengan jari). Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini menunjukkan sunnah menggunakan kerikil kecil, bukan batu besar, karena tujuan lemparan adalah simbol ketaatan, bukan untuk melukai.
- Isyarat Perpisahan: Sabda Nabi ﷺ, "Mungkin aku tidak akan melihat kalian setelah tahun ini," adalah isyarat bahwa beliau mungkin tidak akan bertemu lagi dengan para sahabat setelah haji tersebut. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini adalah bentuk nasihat agar para sahabat semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengambil pelajaran dari haji. Ini juga menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ dan kesadaran akan perpisahan.
Para ulama seperti Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, sehingga dapat dijadikan dalil dalam masalah adab dan tata cara haji. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i juga menggunakan hadits ini sebagai landasan sunnah bergegas di Wadi Muhassir dan menjaga ketenangan saat ifadah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan haji wada' (haji perpisahan), beliau menunjukkan kepada para sahabat tata cara haji yang benar. Di Wadi Muhassir, beliau mempercepat langkah sebagai bentuk menjauhi tempat yang pernah menjadi lokasi azab. Sementara di Muzdalifah, beliau mengajarkan ketenangan dan dzikir. Para sahabat seperti Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan peristiwa ini dengan detail, sehingga umat Islam setelahnya dapat mengikuti sunnah beliau. Kisah ini mengingatkan kita bahwa haji adalah ibadah yang penuh dengan simbol dan pelajaran, serta kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum kemungkinan perpisahan dengan dunia.
Kesimpulan Praktis
- Saat melewati Wadi Muhassir, disunnahkan untuk bergegas, sebagai bentuk menjauhi tempat azab dan mengingat kekuasaan Allah.
- Jagalah ketenangan (sakinah) dalam setiap rangkaian ibadah haji, terutama saat berangkat dari Muzdalifah menuju Mina.
- Gunakan kerikil kecil saat melempar jumrah, sesuai perintah Nabi ﷺ.
- Ambillah pelajaran dari isyarat Nabi ﷺ tentang perpisahan, dengan memperbanyak amal saleh dan memperbaiki diri.
- Hadits ini mengajarkan kita untuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan penuh adab dan kesadaran.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.