Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ meningkatkan ibadah dan kesungguhan beliau pada sepuluh malam terakhir Ramadhan melebihi malam-malam lainnya. Ini menunjukkan keutamaan khusus sepuluh malam terakhir, terutama karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar. Umat Islam dianjurkan meneladani beliau dengan memperbanyak shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur'an di waktu tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Puasa, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dan beliau menilainya hasan shahih gharib.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنِ الأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا
Terjemahan: Aisyah berkata: "Rasulullah ﷺ sangat berusaha (melaksanakan shalat lebih) di sepuluh malam terakhir lebih dari yang beliau lakukan di malam-malam lainnya."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Qadr [97]: 1-3
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
QS. Al-Baqarah [2]: 185 (potongan)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
Terjemahan: "Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)."
Hadits pendukung dari kitab shahih:
Hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Terjemahan: "Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah)."
Kaitan dengan ulama: Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dan menilainya hasan shahih. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "mengencangkan sarung" sebagai kiasan dari kesungguhan ibadah dan menjauhi hubungan suami istri untuk fokus beribadah. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim juga menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir dan membangunkan keluarga untuk ibadah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan sunnah Nabi ﷺ yang sangat penting: beliau tidak menyamakan seluruh malam Ramadhan dalam hal kesungguhan ibadah. Sepuluh malam terakhir mendapat perhatian khusus. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa para salaf sangat bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang terluput dari Lailatul Qadar, maka ia terluput dari kebaikan yang sangat besar.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "ijtihad" (kesungguhan) Nabi ﷺ di sini mencakup memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan i'tikaf. Beliau juga membangunkan keluarganya agar tidak hanya beliau sendiri yang meraih keutamaan, tetapi juga orang-orang terdekat.
Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa hikmah dari peningkatan ibadah di akhir Ramadhan adalah karena Ramadhan akan segera berakhir, sehingga seorang hamba perlu menutup amalnya dengan sebaik-baiknya. Juga karena Lailatul Qadar ada di dalamnya, dan amal di malam itu lebih baik dari amal seribu bulan.
Imam At-Tirmidzi menyebut hadits ini hasan shahih gharib. Gharib di sini bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan bahwa jalur periwayatannya dari Aisyah melalui Ibrahim an-Nakha'i dari al-Aswad bin Yazid dari Aisyah adalah jalur yang relatif tunggal pada sebagian tingkatan. Namun hadits ini memiliki penguat dari riwayat Al-Bukhari dan Muslim, sehingga maknanya sangat kuat dan disepakati.
Para ulama dari daftar yang disebutkan, seperti Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan as-Sa'di, juga menekankan pentingnya menghidupkan sepuluh malam terakhir dengan ibadah, terutama i'tikaf dan qiyamul lail. Ibn Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memiliki perhatian khusus pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan, dan sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah salah satu waktu paling utama.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa beliau pernah melihat Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dalam keadaan yang tidak beliau lihat pada malam-malam lain. Nabi ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Aisyah juga pernah bertanya tentang apa yang harus diucapkan jika menemui Lailatul Qadar, dan Nabi ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Terjemahan: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku." (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih)
Hikmahnya: Nabi ﷺ tidak hanya beribadah untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengajak keluarganya. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin keluarga hendaknya menjadi teladan dan mengajak keluarganya kepada kebaikan, terutama di waktu-waktu yang penuh keutamaan.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak shalat malam (qiyamul lail) pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, meskipun hanya beberapa rakaat, yang penting konsisten dan khusyuk.
- Hidupkan malam-malam tersebut dengan dzikir, doa, istighfar, dan membaca Al-Qur'an.
- Bangunkan keluarga untuk ikut beribadah, sebagaimana Nabi ﷺ membangunkan keluarganya.
- Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama doa Lailatul Qadar: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
- Jika mampu, lakukan i'tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir, karena Nabi ﷺ biasa beri'tikaf.
- Jangan sia-siakan malam-malam ini, karena bisa jadi Lailatul Qadar ada di dalamnya dan kita tidak menyadarinya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.