Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 770 tentang Puasa Dawud sehari selang sehari paling utama

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa puasa yang paling utama dan paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud 'alaihissalam, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ini adalah puasa yang paling seimbang dan paling berat bagi hawa nafsu, namun paling utama di sisi Allah. Hadits ini juga mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak hanya tekun beribadah, tetapi juga harus berani dan tidak lari dari medan pertempuran ketika membela kebenaran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Puasa, Bab tentang Menyambung Puasa, nomor 770. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مِسْعَرٍ، وَسُفْيَانَ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "أَفْضَلُ الصَّوْمِ صَوْمُ أَخِي دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا، وَلَا يَفِرُّ إِذَا لَاقَى".

Terjemahan: Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama adalah puasa saudaraku Dawud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari, dan ia tidak melarikan diri ketika berhadapan (dengan musuh)."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang Nabi Dawud:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Dan Allah memberikan kekuasaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 247)

Ayat ini menunjukkan keutamaan Nabi Dawud yang diberikan kekuatan ilmu dan fisik oleh Allah, yang kemudian beliau gunakan untuk beribadah dan berjuang di jalan Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

1. Makna "Puasa Saudaraku Dawud"

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyebut Nabi Dawud dengan panggilan "saudaraku" sebagai bentuk kasih sayang dan persaudaraan antar para nabi. Ini menunjukkan bahwa para nabi adalah bersaudara dalam risalah, meskipun berbeda masa dan syariat.

2. Hikmah Puasa Sehari dan Berbuka Sehari

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa yang paling utama karena:

  • Ia tidak memberatkan badan sehingga ibadah lain tetap bisa dilakukan dengan optimal
  • Ia melatih jiwa untuk konsisten dan istiqamah
  • Ia menyeimbangkan antara hak Allah dan hak tubuh
  • Ia tidak membuat seseorang merasa bosan karena ada jeda berbuka di tengahnya

3. Keutamaan Puasa Dawud Menurut Para Ulama

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa sebagian ulama berkata: "Puasa yang paling utama adalah engkau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan dikatakan bahwa ini adalah puasa yang paling berat."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa yang paling utama secara mutlak bagi orang yang mampu melakukannya, karena ia adalah puasa yang paling seimbang. Namun jika seseorang khawatir tidak mampu atau akan mengganggu kewajiban lainnya, maka ia boleh berpuasa sesuai kemampuannya.

4. Makna "Tidak Melarikan Diri Saat Berhadapan (dengan Musuh)"

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa penyebutan sifat keberanian ini setelah menyebut puasa Dawud mengandung pelajaran penting: ibadah tidak boleh membuat seseorang lalai dari kewajiban membela agama dan kehormatan. Nabi Dawud adalah seorang raja dan panglima perang yang kuat, namun tetap rajin berpuasa. Ini menunjukkan bahwa ibadah sunnah tidak menghalangi seseorang dari tugas-tugas utamanya.

5. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Puasa yang Paling Utama

Para ulama berbeda pendapat tentang puasa sunnah yang paling utama:

  • Pendapat pertama (mayoritas ulama termasuk Imam Ahmad dan para pengikutnya): Puasa Dawud adalah yang paling utama, berdasarkan hadits ini.
  • Pendapat kedua: Puasa tiga hari setiap bulan (ayyam al-bidh) adalah yang paling utama, karena lebih mudah dan bisa dilakukan terus-menerus sepanjang tahun.

Namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama, karena Nabi ﷺ secara eksplisit menyebut puasa Dawud sebagai puasa yang paling utama. Adapun puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa yang setara dengan puasa setahun penuh, namun bukan berarti lebih utama dari puasa Dawud.

6. Adab dalam Berpuasa Sunnah

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa puasa Dawud adalah puasa yang paling afdhal bagi yang mampu, namun jika seseorang tidak mampu atau khawatir akan mengganggu pekerjaan dan tanggung jawabnya, maka ia boleh memilih puasa yang lebih ringan. Yang penting adalah keikhlasan dan tidak memaksakan diri di luar batas kemampuan, karena Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu pada awalnya ingin berpuasa setiap hari dan shalat malam sepanjang malam. Ketika hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda kepadanya:

"Wahai Abdullah, apakah benar engkau berpuasa setiap hari dan shalat malam sepanjang malam?"

Abdullah menjawab, "Benar, wahai Rasulullah."

Nabi ﷺ bersabda: "Engkau tidak akan mampu melakukannya. Berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah. Berpuasalah tiga hari setiap bulan, karena satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, dan itu seperti puasa setahun penuh."

Abdullah berkata, "Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu."

Nabi ﷺ bersabda: "Berpuasalah sehari dan berbukalah dua hari."

Abdullah berkata, "Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu."

Nabi ﷺ bersabda: "Kalau begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, karena itu adalah puasa Dawud 'alaihissalam, dan itu adalah puasa yang paling utama."

Abdullah berkata, "Sesungguhnya aku mampu lebih dari itu."

Maka Nabi ﷺ bersabda: "Tidak ada yang lebih utama dari itu."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Beliau tidak ingin sahabatnya memaksakan diri hingga akhirnya merasa berat dan meninggalkan ibadah sama sekali. Inilah hikmah puasa Dawud: ibadah yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan lebih dicintai Allah daripada ibadah yang banyak namun tidak istiqamah.

Kesimpulan Praktis

  1. Puasa Dawud (sehari puasa, sehari berbuka) adalah puasa sunnah yang paling utama menurut Nabi ﷺ.
  2. Niatkan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau merasa hebat.
  3. Jaga keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, keluarga, dan istirahat. Jangan memaksakan diri di luar kemampuan.
  4. Jadikan ibadah sebagai sarana penguat, bukan penghalang dari kewajiban lain seperti mencari nafkah dan membela kebenaran.
  5. Konsistensi lebih utama daripada kuantitas. Sedikit tapi istiqamah lebih dicintai Allah daripada banyak tapi putus di tengah jalan.
  6. Teladani keberanian Nabi Dawud — seorang yang kuat ibadahnya juga kuat dalam membela kebenaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?