Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat Tirmidzi ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa berpuasa tiga hari setiap bulan tanpa menentukan hari tertentu, sehingga memberi kelapangan bagi umat. Puasa sunnah tiga hari setiap bulan adalah amalan yang dianjurkan, dan yang utama dilakukan pada hari-hari putih (13, 14, 15), namun boleh di hari lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 184
أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍۖ
"(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka siapa di antara kamu yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang ditinggalkan) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." (Ayat ini menunjukkan puasa wajib Ramadhan, namun puasa tiga hari setiap bulan termasuk puasa sunnah yang dianjurkan.)
Hadits yang dimaksud:
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ يَزِيدَ الرِّشْكِ، قَالَ سَمِعْتُ مُعَاذَةَ، قَالَتْ قُلْتُ لِعَائِشَةَ: أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قُلْتُ: مِنْ أَيِّهِ كَانَ يَصُومُ؟ قَالَتْ: كَانَ لَا يُبَالِي مِنْ أَيِّهِ صَامَ. قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. [جامع الترمذي، رقم 763]
Terjemahan: Yazid Ar-Rishk berkata: Aku mendengar Mu’adzah berkata: Aku bertanya kepada Aisyah, “Apakah Rasulullah ﷺ berpuasa tiga hari setiap bulan?” Aisyah menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Hari yang mana beliau berpuasa?” Aisyah menjawab, “Beliau tidak mempermasalahkan hari yang mana beliau berpuasa.”
Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam al-Tirmidzi (w. 279 H) dalam kitabnya. Juga dikuatkan oleh riwayat lain, seperti hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ mewasiatkan tiga perkara, di antaranya puasa tiga hari setiap bulan (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Muslim menjelaskan bahwa puasa tiga hari setiap bulan adalah sunnah muakkad. Beliau juga menyebutkan bahwa hari yang paling utama adalah hari-hari putih (13, 14, 15) sebagaimana hadits dari Abu Dzar dan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum. Namun, hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada keharusan hari tertentu, karena Nabi tidak mempedulikan harinya.
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menegaskan bahwa puasa tiga hari setiap bulan dapat dijalankan kapan saja, tetapi dianjurkan pada ayyamul biid berdasarkan hadits-hadits lain.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi, yang mengetahui kebiasaan beliau. Jawaban Aisyah bahwa “beliau tidak mempermasalahkan hari yang mana beliau berpuasa” mengandung makna bahwa puasa tiga hari setiap bulan tidak terikat dengan tanggal tertentu. Ini memberikan kemudahan bagi umat.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa menjelaskan bahwa seseorang boleh memilih tiga hari dalam bulan sesuai kemampuannya, misalnya di awal, tengah, atau akhir bulan, asalkan tidak bertepatan dengan hari yang terlarang (seperti hari raya). Namun, yang terbaik adalah pada 13, 14, 15 karena keutamaan yang disebutkan dalam hadits.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) rahimahullah dalam Syarh Riyadhus Shalihin menguatkan bahwa puasa tiga hari setiap bulan termasuk amalan ringan yang berpahala besar. Beliau mencontohkan bahwa Nabi biasa melakukannya secara konsisten. Jika seseorang hanya mampu di hari pertama, itu pun diperbolehkan.
Para ulama dari kalangan tabi’in seperti Muhammad bin Sirin (w. 110 H) dan Sa’id bin al-Musayyib (w. 94 H) juga menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan tanpa menetapkan hari khusus, sebagaimana terdapat dalam atsar mereka (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf).
Story Telling
Suatu ketika Mu’adzah – seorang tabi’iyyah yang dikenal rajin beribadah – penasaran tentang kebiasaan Rasulullah. Ia bertanya langsung kepada Aisyah, yang semasa hidupnya tidak pernah lepas dari Nabi. Aisyah menjawab dengan sederhana, tanpa panjang lebar, tetapi sarat ilmu. Dari pertanyaan itu, kita belajar bahwa para sahabat dan tabi’in sangat perhatian terhadap sunnah-sunnah ringan yang jarang ditinggalkan Nabi. Mu’adzah tidak bertanya “apakah boleh?”, tetapi “apakah beliau lakukan?”. Karena inti ibadah adalah meneladani, bukan sekedar menghalalkan. Semangat seperti ini yang menghidupkan sunnah di kalangan generasi awal.
Kesimpulan Praktis
- Puasa tiga hari setiap bulan adalah sunnah yang dianjurkan, minimal setiap bulan.
- Tidak wajib pada hari tertentu; boleh dipilih hari yang mudah, misalnya Senin-Kamis atau hari apa saja.
- Paling utama pada hari-hari putih 13, 14, 15 Qamariyah (selain tanggal 13 di bulan Dzulhijjah bagi yang sedang haji).
- Konsistensi lebih baik daripada banyak tetapi tidak rutin.
- Bagi yang berat, cukup satu atau dua hari pun tetap mendapat pahala.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.