Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 740 tentang Puasa terbaik setelah Ramadan adalah bulan Muharram

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa sunnah yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Ini adalah keutamaan besar bagi siapa saja yang ingin berpuasa di luar Ramadan, karena bulan ini adalah bulan yang dimuliakan Allah. Namun, perlu diingat bahwa keutamaan ini bersifat umum untuk seluruh hari di bulan Muharram, dan bukan hanya hari Asyura (tanggal 10) saja, meskipun hari Asyura memiliki keutamaan khusus yang disebutkan dalam hadits-hadits lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Teks hadits yang Anda berikan adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ أَبِي بِشْرٍ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ صِيَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ " . قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ .

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadan adalah bulan Allah Al-Muharram." Imam At-Tirmidzi berkata: Hadits Abu Hurairah ini adalah hadits hasan.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (Kitab Puasa, Bab Keutamaan Puasa Muharram) dengan lafaz yang semakna.

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman tentang kemuliaan bulan-bulan haram (termasuk Muharram):

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang haram itu." (QS. At-Taubah [9]: 36)

Penjelasan Ulama tentang maksud "bulan Allah":

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa penyandaran bulan ini kepada Allah (yaitu "bulan Allah") adalah bentuk pemuliaan dan pengagungan, sebagaimana dikatakan "Baitullah" (rumah Allah) dan "Rasulullah" (utusan Allah). Ini menunjukkan bahwa bulan Muharram memiliki kemuliaan khusus di sisi Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan yang kami rujuk menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

  1. Keutamaan Puasa Muharram Secara Umum: Hadits ini dengan tegas menyatakan bahwa puasa sunnah yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram. Ini mencakup seluruh hari di bulan tersebut. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa keutamaan ini mencakup semua puasa di bulan Muharram, baik di awal, pertengahan, maupun akhir bulan.
  2. Makna "Bulan Allah": Imam Ibn Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa penyebutan "bulan Allah" (شَهْرُ اللهِ) adalah bentuk pengagungan. Dalam kaidah bahasa Arab, jika sesuatu disandarkan kepada Allah, maka itu menunjukkan kemuliaan dan keagungannya. Ini seperti penyebutan "Baitullah" untuk Ka'bah.
  3. Hubungan dengan Puasa Asyura: Hadits ini tidak secara khusus menyebutkan hari Asyura (tanggal 10 Muharram), tetapi hadits-hadits lain menyebutkan keutamaannya secara khusus. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan umum seluruh bulan Muharram, sementara hadits tentang puasa Asyura menunjukkan keutamaan khusus pada hari tersebut. Keduanya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.
  4. Pendapat Ulama tentang Penerapannya: Para ulama berbeda pendapat tentang apakah yang dimaksud adalah seluruh bulan Muharram atau hanya sebagiannya. Namun, pendapat yang lebih kuat dan hati-hati adalah bahwa keutamaan ini mencakup seluruh bulan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram, dan jika ia mampu berpuasa sebulan penuh (di luar hari raya yang diharamkan puasa, yaitu tanggal 9, 10, dan 11 Muharram tidak ada larangan), maka itu baik. Namun, yang terpenting adalah memperbanyak puasa di bulan ini, minimal pada hari Asyura dan sebaiknya ditambah sehari sebelumnya (Tasua') atau sesudahnya.
  5. Hikmah di Balik Keutamaan: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah mengistimewakan bulan-bulan haram (Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) karena di dalamnya pahala amal shalih dilipatgandakan, dan dosa juga lebih besar. Oleh karena itu, puasa di bulan Muharram adalah kesempatan emas untuk meraih pahala yang berlipat ganda.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Beliau bertanya tentang hal itu, dan mereka menjawab bahwa itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari kejaran Firaun, maka Musa berpuasa sebagai rasa syukur. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kisah ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Nabi ﷺ terhadap bulan Muharram, khususnya hari Asyura. Ini juga mengajarkan kita untuk bersyukur atas nikmat Allah dengan berpuasa, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi terdahulu.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak puasa di bulan Muharram karena ia adalah puasa sunnah paling utama setelah Ramadan.
  2. Utamakan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) dan sebaiknya digabung dengan puasa Tasua' (tanggal 9) atau tanggal 11, untuk menyelisihi kebiasaan orang Yahudi.
  3. Jangan lupa untuk memperbanyak amal shalih lainnya di bulan ini, seperti sedekah, membaca Al-Qur'an, dan menjaga lisan dari perbuatan dosa, karena bulan ini adalah bulan yang dimuliakan Allah.
  4. Niatkan semua amal karena Allah semata, agar mendapatkan pahala yang sempurna.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?