Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 736 tentang Puasa Sya'ban dan Ramadan secara berturut-turut

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kebiasaan puasa Nabi ﷺ, yaitu tidak pernah beliau berpuasa dua bulan penuh berturut-turut kecuali pada bulan Sya'ban yang beliau sambung dengan bulan Ramadan. Ini menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa di bulan Sya'ban sebagai persiapan menyambut Ramadan. Hadits ini hasan menurut Imam At-Tirmidzi dan dikuatkan oleh riwayat 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Utama (At-Tirmidzi no. 736):

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلَّا شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ

"Saya tidak melihat Nabi ﷺ berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali Sya'ban dan Ramadan."

Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits Ummu Salamah ini adalah hadits hasan."

Hadits Pendukung (dalam bab yang sama, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha):

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ، كَانَ يَصُومُهُ إِلَّا قَلِيلًا، بَلْ كَانَ يَصُومُهُ كُلَّهُ

"Saya tidak melihat Nabi ﷺ pada suatu bulan lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya'ban. Beliau berpuasa hampir seluruhnya, bahkan beliau berpuasa sebulan penuh."

Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. Al-Baqarah [2]: 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ

"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits 'Aisyah dan Ummu Salamah saling melengkapi: 'Aisyah menyebut Nabi ﷺ berpuasa hampir seluruh Sya'ban, sedangkan Ummu Salamah menyebut beliau menyambung Sya'ban dengan Ramadan.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa puasa Sya'ban adalah sunnah yang dianjurkan dan merupakan persiapan sebelum Ramadan.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ — mengabarkan bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi ﷺ berpuasa dua bulan penuh secara berturut-turut, kecuali Sya'ban yang langsung disambung dengan Ramadan. Artinya, Nabi ﷺ menjadikan Sya'ban sebagai bulan yang hampir seluruhnya beliau isi dengan puasa, lalu langsung masuk ke Ramadan.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

  1. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan puasa Sya'ban, dan bahwa Nabi ﷺ memperbanyak puasa di dalamnya melebihi bulan-bulan lain selain Ramadan. Beliau juga menjelaskan hikmahnya: Sya'ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia karena berada di antara Rajab dan Ramadan, sehingga Nabi ﷺ menghidupkannya dengan puasa.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits Ummu Salamah dan 'Aisyah tidak bertentangan. 'Aisyah mengatakan Nabi ﷺ berpuasa hampir seluruh Sya'ban (tidak penuh), sedangkan Ummu Salamah menyebut beliau menyambungnya dengan Ramadan. Keduanya bisa dipahami bahwa Nabi ﷺ berpuasa sebagian besar Sya'ban, dan pada akhir Sya'ban beliau sambung dengan puasa Ramadan sehingga seolah-olah dua bulan berturut-turut.
  3. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa puasa Sya'ban memiliki keistimewaan karena amal-amal diangkat kepada Allah pada bulan itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain. Beliau juga menyebut bahwa Sya'ban adalah "bulan qurra'" (bulan para pembaca Al-Qur'an) di kalangan salaf.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa disunnahkan memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, namun tidak boleh berpuasa setelah pertengahan Sya'ban bagi yang belum terbiasa, berdasarkan hadits larangan puasa setelah nishfus Sya'ban. Adapun bagi yang sudah terbiasa berpuasa, atau yang menyambung dengan puasa sebelumnya, maka boleh.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Sebagian memahami bahwa Nabi ﷺ berpuasa seluruh Sya'ban (berdasarkan zhahir hadits 'Aisyah: "beliau berpuasa sebulan penuh").
  • Sebagian lain memahami bahwa beliau berpuasa sebagian besar Sya'ban, bukan seluruhnya (berdasarkan riwayat 'Aisyah yang lain: "beliau berpuasa hampir seluruhnya, kecuali sedikit").
  • Pendapat yang paling kuat (sebagaimana ditarjih oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi): Nabi ﷺ berpuasa sebagian besar bulan Sya'ban, dan pada akhirnya beliau sambung dengan Ramadan. Ini menggabungkan seluruh riwayat dan menghindari pertentangan.

Story Telling

Diceritakan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, seorang istri Nabi ﷺ yang mulia, memperhatikan dengan seksama ibadah suami tercintanya. Ia melihat bahwa di bulan Sya'ban, Nabi ﷺ hampir tidak pernah meninggalkan puasa. Ketika Sya'ban berakhir, beliau langsung masuk ke Ramadan tanpa jeda. Ummu Salamah pun menyampaikan pengamatannya ini kepada kaum muslimin, agar mereka meneladani Nabi ﷺ dalam memuliakan bulan Sya'ban.

'Aisyah radhiyallahu 'anha juga menguatkan hal ini. Beliau berkata bahwa tidak ada bulan yang lebih banyak Nabi ﷺ berpuasa padanya selain Sya'ban. Bahkan beliau menyebut Nabi ﷺ berpuasa hampir seluruh bulan itu.

Hikmah: Para salaf memahami bahwa Sya'ban adalah "pemanasan" sebelum Ramadan. Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa para salaf berlomba-lomba berpuasa dan membaca Al-Qur'an di bulan Sya'ban, agar jiwa mereka siap menyambut Ramadan. Ini adalah adab dan kesungguhan para kekasih Allah dalam beribadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Disunnahkan memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, terutama bagi yang ingin meneladani Nabi ﷺ.
  2. Menyambung puasa Sya'ban dengan Ramadan adalah sunnah, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
  3. Bagi yang belum terbiasa, hendaknya tidak memaksakan diri berpuasa setelah pertengahan Sya'ban, kecuali yang sudah rutin berpuasa (seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Daud).
  4. Jadikan Sya'ban sebagai bulan persiapan: perbanyak puasa, tilawah Al-Qur'an, dan istighfar, agar masuk Ramadan dengan hati yang bersih dan semangat ibadah yang tinggi.
  5. Teladani kelembutan dan konsistensi Nabi ﷺ dalam beribadah — beliau tidak berlebihan, tetapi juga tidak meninggalkan sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?