Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 703 tentang Jarak antara sahur dan shalat sekitar lima puluh ayat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan para sahabat makan sahur, lalu setelah itu mereka langsung bersiap untuk shalat (yakni shalat Subuh). Jarak antara selesai sahur dan masuk shalat hanya sekitar waktu membaca lima puluh ayat Al-Qur'an, yang menunjukkan bahwa sahur dilakukan di akhir malam, mendekati terbitnya fajar. Ini menjadi dalil disunnahkannya mengakhirkan sahur.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — Jami' At-Tirmidzi no. 703

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhuma:

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاةِ

"Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian kami berdiri untuk shalat."

Anas bertanya: "Berapa lama jarak antara keduanya?" Zaid menjawab: "Sekitar (bacaan) lima puluh ayat."

Ayat terkait — QS. Al-Baqarah [2]: 187

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makanlah serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar."

Hadits pendukung — Shahih Al-Bukhari & Muslim

Dari Anas bin Malik, dari Zaid bin Tsabit, Nabi ﷺ bersabda tentang sahur:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

"Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat keberkahan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan ulama:

  • Qatadah bin Di'amah (perawi dalam sanad ini) termasuk Tabi'in yang meriwayatkan hadits ini dari Anas.
  • Imam at-Tirmidzi mencatatnya dalam kitab Jami'.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "lima puluh ayat" sebagai ukuran waktu.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas sunnah mengakhirkan sahur.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Zaid bin Tsabit menceritakan bahwa mereka makan sahur bersama Nabi ﷺ, lalu setelah selesai mereka langsung berdiri menuju shalat. Ketika Anas bertanya berapa lama jarak antara sahur dan shalat, Zaid menjawab "sekitar lima puluh ayat." Para ulama memahami bahwa yang dimaksud adalah shalat Subuh, dan ukuran "lima puluh ayat" adalah perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk membaca sekitar lima puluh ayat Al-Qur'an dengan bacaan sedang — kira-kira setara dengan waktu yang dibutuhkan untuk bersuci dan berwudhu.

Pemahaman para ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengakhirkan sahur hingga mendekati fajar. Ini adalah pendapat yang disepakati oleh mayoritas ulama dari kalangan Ahlus Sunnah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ukuran "lima puluh ayat" adalah cara para sahabat menggambarkan waktu dengan sesuatu yang familiar bagi mereka, yaitu bacaan Al-Qur'an. Beliau juga menegaskan bahwa mengakhirkan sahur adalah sunnah yang dianjurkan, berbeda dengan menyegerakan berbuka.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ biasa mengakhirkan sahur, dan ini termasuk petunjuk beliau yang sempurna dalam menjaga kekuatan badan untuk berpuasa.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa mengakhirkan sahur termasuk sunnah yang membedakan puasa umat Islam dengan puasa ahli kitab sebelumnya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang batas akhir sahur — apakah harus berhenti sebelum fajar atau boleh hingga fajar. Namun pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah yang berhenti pada terbitnya fajar shadiq (fajar yang sebenarnya), sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 187 di atas. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik.

Hikmah mengakhirkan sahur:

  1. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara langsung.
  2. Menambah kekuatan fisik untuk menjalani puasa.
  3. Membedakan ibadah puasa umat Islam dari puasa umat sebelumnya.
  4. Mendapatkan keberkahan sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang mulia dan penulis wahyu Nabi ﷺ, suatu ketika duduk bersama Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Anas bertanya tentang pengalaman Zaid makan sahur bersama Nabi ﷺ. Zaid menjawab dengan singkat namun penuh makna: "Kami makan sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian kami berdiri untuk shalat."

Anas yang ingin mengetahui detailnya bertanya lagi: "Berapa lama jarak antara sahur dan shalat?" Zaid menjawab: "Sekitar lima puluh ayat."

Jawaban ini menggambarkan betapa dekatnya waktu sahur dengan shalat Subuh. Para sahabat tidak berlama-lama setelah sahur, mereka langsung bersiap untuk shalat. Ini menunjukkan kedisiplinan dan kesungguhan mereka dalam beribadah, serta betapa mereka mengikuti setiap detail sunnah Nabi ﷺ dengan penuh perhatian.

Hikmah: Para sahabat sangat memperhatikan sunnah Nabi ﷺ hingga dalam hal waktu sahur sekalipun. Mereka tidak hanya makan sahur, tetapi juga mencatat dan meriwayatkan detail waktunya agar umat setelah mereka dapat mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dengan tepat.

Kesimpulan Praktis

  1. Disunnahkan mengakhirkan sahur hingga mendekati terbitnya fajar, tidak terlalu awal dan tidak melewati batas fajar.
  2. Sahur mengandung keberkahan sebagaimana sabda Nabi ﷺ, maka jangan meninggalkannya meskipun hanya dengan makanan atau minuman ringan.
  3. Bersegera menuju shalat setelah sahur, sebagaimana yang dicontohkan para sahabat.
  4. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam setiap detail ibadah, termasuk waktu sahur, adalah tanda kecintaan dan ketaatan kepada beliau.
  5. Membedakan diri dari umat sebelumnya dalam hal mengakhirkan sahur adalah bagian dari syiar Islam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?