Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan keutamaan besar bulan Ramadan: siapa yang berpuasa di siang hari dan menghidupkan malamnya dengan shalat (tarawih, tahajud, qiyamul lail) disertai keimanan dan pengharapan pahala kepada Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. Begitu pula siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan iman dan ihtisab, dosanya diampuni. Syarat utamanya ada dua: iman (yakin akan janji Allah) dan ihtisab (murni mengharap pahala Allah, bukan pamer atau sekadar kebiasaan).
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Al-Baqarah [2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
Terjemahan ringkas: "Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia... Maka siapa di antara kalian yang menyaksikan bulan itu, hendaklah ia berpuasa..."
QS. Al-Qadr [97]: 1–3
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه, dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi no. 683, Kitab Puasa, Bab Keutamaan Bulan Ramadan. At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini shahih." Hadits senada juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafaz tentang puasa Ramadan dan qiyam Ramadan, serta tentang Lailatul Qadar.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna "imanan wa ihtisaban".
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menguraikan syarat amal diterima: iman dan ikhlas.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan Ramadan dan Lailatul Qadar.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna Lailatul Qadar dan keutamaannya.
Penjelasan Rinci
Makna "imanan wa ihtisaban" (إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا):
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa:
- Imanan (إِيمَانًا): membenarkan janji Allah bahwa amal tersebut berpahala, meyakini kewajibannya, dan mengakui keutamaannya.
- Ihtisaban (احْتِسَابًا): memurnikan niat hanya untuk Allah, mengharap pahala dari-Nya, bukan untuk riya', pujian manusia, atau sekadar kebiasaan.
Imam an-Nawawi menegaskan bahwa dua syarat ini adalah ruh amal: tanpa iman, amal tidak sah; tanpa ihtisab (ikhlas), amal tidak bernilai pahala. Beliau berkata bahwa maknanya: "Mengerjakannya karena iman kepada Allah dan mengharap pahala dari-Nya, bukan karena riya' atau sum'ah."
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebut bahwa Ramadan adalah musim bagi hati untuk kembali kepada Allah, dan ampunan dosa yang dijanjikan berlaku bagi yang memenuhi dua syarat tersebut, bukan sekadar rutinitas.
Tentang "ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi" (diampuni dosa yang telah lalu):
Ibnu Hajar dan an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa dosa besar (kaba'ir) memerlukan taubat khusus. Ini sesuai kaidah: amal saleh menghapus dosa kecil, sedangkan dosa besar butuh taubat.
Tentang Lailatul Qadar:
Ibnu Katsir dalam tafsir QS. Al-Qadr menjelaskan bahwa malam itu penuh berkah, lebih baik dari seribu bulan, dan siapa yang menghidupkannya dengan iman dan ihtisab akan diampuni dosanya. Ibnu Rajab menambahkan bahwa menghidupkan malam Lailatul Qadar tidak harus mengetahui kapan tepatnya, tetapi hendaknya bersungguh-sungguh di seluruh malam sepuluh terakhir Ramadan.
Catatan sanad dari At-Tirmidzi:
At-Tirmidzi menyebut bahwa jalur Abu Bakr bin 'Ayyasy dari Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah adalah gharib (jalur tunggal), sedangkan jalur yang lebih shahih menurut Muhammad bin Isma'il (yakni Al-Bukhari) adalah dari Al-A'masy dari Mujahid secara mursal (perkataan Mujahid, bukan marfu' kepada Nabi ﷺ). Namun hadits pokok tentang keutamaan puasa Ramadan dan qiyam Ramadan tetap shahih melalui jalur-jalur lain yang disepakati Al-Bukhari dan Muslim.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri (seorang tabi'in yang masyhur) pernah ditanya tentang orang yang berpuasa dan shalat malam tetapi hatinya masih lalai. Beliau menjawab dengan makna: "Sesungguhnya amal itu tidak diterima kecuali dengan iman dan ihtisab. Betapa banyak orang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar, dan betapa banyak orang shalat malam tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain begadang." (Makna ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ tentang orang yang berpuasa tanpa mendapatkan pahala.)
Hikmahnya: Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi madrasah bagi hati untuk ikhlas dan yakin kepada janji Allah.
Kesimpulan Praktis
- Puasa Ramadan wajib disertai niat ikhlas dan keyakinan akan pahala Allah.
- Shalat malam Ramadan (tarawih, tahajud, witir) hendaknya dihidupkan, bukan hanya di awal atau akhir bulan.
- Ihtisab berarti membersihkan niat dari riya', pamer, atau sekadar ikut-ikutan.
- Sepuluh malam terakhir hendaknya lebih bersungguh-sungguh untuk mencari Lailatul Qadar.
- Ampunan dosa yang dijanjikan berlaku bagi dosa kecil; dosa besar tetap memerlukan taubat yang tulus.
- Perbanyak doa, dzikir, tilawah Al-Qur'an, dan sedekah di bulan Ramadan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.