Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 594 tentang Perintah membangun masjid di rumah dan membersihkannya

Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan, dengan merujuk hanya kepada ulama-ulama yang tercantum dalam daftar rujukan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menganjurkan agar masjid dibangun di lingkungan tempat tinggal (bukan hanya masjid besar/jami'), serta diperintahkan untuk menjaga kebersihannya dan memberinya wangi-wangian. Ini menunjukkan perhatian Islam terhadap kesucian dan keindahan tempat ibadah, sebagai bagian dari memuliakan syiar Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Jami' At-Tirmidzi, Kitab Bab-bab Perjalanan (Abwab as-Safar), Bab tentang Menyucikan Masjid, nomor 594. Perawi sahabat: 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ الْمُؤَدِّبُ الْبَغْدَادِيُّ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا عَامِرُ بْنُ صَالِحٍ الزُّبَيْرِيُّ، هُوَ مِنْ وَلَدِ الزُّبَيْرِ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ

Terjemahan: "Aisyah menceritakan: 'Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membangun masjid di setiap rumah dan agar masjid tersebut dibersihkan dan diberi wangi-wangian.'"

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Taubah [9]: 108

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Terjemahan: "Janganlah engkau shalat di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu untuk shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih."

QS. Al-Hajj [22]: 32

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Terjemahan: "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."

Hadits terkait dari kitab shahih:

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ"

Terjemahan: "Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisal di surga." (HR. Muslim)

Kaitan dengan ulama dan kitab:

  • Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam Jami' At-Tirmidzi dan menyebutkannya dalam bab tentang menyucikan masjid.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan keutamaan membangun masjid dan menjaga kebersihannya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits-hadits tentang masjid dan adab-adabnya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in dan kitab lainnya menekankan pentingnya kebersihan masjid sebagai bagian dari memuliakan syiar Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Membangun masjid di lingkungan tempat tinggal (الدُّورِ):

Para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan anjuran agar setiap lingkungan atau perkampungan memiliki masjid sendiri, sehingga penduduknya mudah untuk beribadah dan shalat berjamaah. Ini bukan berarti menggantikan masjid jami' (masjid besar untuk shalat Jumat), tetapi melengkapinya. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menyebutkan bahwa membangun masjid di setiap lingkungan adalah sunnah yang sangat dianjurkan, terutama jika jarak ke masjid besar jauh atau sulit dijangkau.

  1. Membersihkan masjid (تُنَظَّفَ):

Kebersihan masjid adalah bagian dari memuliakan tempat ibadah. Allah memuji orang-orang yang ingin membersihkan diri (QS. At-Taubah: 108). Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencakup kebersihan fisik dan spiritual. Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menyebutkan bahwa membersihkan masjid dari kotoran, debu, dan najis adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi kaum muslimin.

  1. Memberi wangi-wangian (تُطَيَّبَ):

Memberi wangi-wangian pada masjid adalah sunnah yang menunjukkan keindahan dan kesucian tempat ibadah. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat memperhatikan hal ini, terutama pada hari Jumat dan saat shalat berjamaah. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Al-Mughni (meskipun kitab ini karya Ibnu Qudamah, tetapi pendapat Imam Ahmad dikutip di dalamnya) menganjurkan penggunaan wangi-wangian yang tidak mengganggu jamaah, seperti yang tidak mengandung alkohol keras atau bau menyengat.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa membangun masjid di setiap rumah hukumnya sunnah, bukan wajib.
  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menekankan anjuran yang lebih kuat, terutama jika memungkinkan.
  • Namun, semua sepakat bahwa menjaga kebersihan dan keharuman masjid adalah sunnah yang dianjurkan, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain.

Pendapat yang paling kuat: Hadits ini menunjukkan sunnah yang sangat dianjurkan (mustahab) untuk membangun masjid di lingkungan tempat tinggal, serta menjaga kebersihan dan keharumannya. Ini adalah bagian dari memuliakan syiar Allah (QS. Al-Hajj: 32).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah memerintahkan kepada para gubernur di berbagai wilayah untuk membangun masjid di setiap perkampungan dan menjaga kebersihannya. Beliau bahkan menugaskan petugas khusus untuk membersihkan masjid dan memberinya wangi-wangian, terutama pada hari Jumat. Suatu ketika, seorang laki-laki datang kepada Umar dan mengeluh bahwa masjid di kampungnya berbau tidak sedap. Umar pun segera memerintahkan agar masjid tersebut dibersihkan dan diberi wangi-wangian, seraya berkata, "Masjid adalah rumah Allah, maka jagalah kebersihannya sebagaimana kamu menjaga rumahmu sendiri." (Kisah ini disebutkan dalam kitab-kitab sejarah seperti Tarikh ath-Thabari dan Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir, dengan sanad yang perlu diteliti, namun maknanya sejalan dengan hadits di atas).

Hikmah: Para salaf memahami bahwa kebersihan masjid adalah cerminan dari kebersihan hati dan ketakwaan. Mereka berlomba-lomba menjaga masjid agar selalu bersih dan harum, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Anjurkan dan bantu pembangunan masjid di lingkungan tempat tinggal, terutama jika jarak ke masjid besar jauh.
  2. Jaga kebersihan masjid: buang sampah, bersihkan lantai, dan pastikan tidak ada najis.
  3. Beri wangi-wangian pada masjid dengan parfum yang tidak mengganggu jamaah.
  4. Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak untuk mencintai masjid dan menjaganya.
  5. Ingatlah bahwa memuliakan masjid adalah bagian dari memuliakan syiar Allah dan tanda ketakwaan hati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?