Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 561 tentang Tata cara shalat gerhana matahari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha ini menjelaskan tata cara shalat gerhana (shalat kusuf) yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu dua rakaat dengan empat kali rukuk dan empat kali sujud. Setiap rakaat terdiri dari dua kali berdiri, dua kali membaca, dan dua kali rukuk. Inilah pendapat yang dipegang Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah, sebagaimana disebutkan Imam at-Tirmidzi dalam kitabnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dalam kitab Jami' at-Tirmidzi, Kitab Bab-bab Perjalanan (Abwab as-Safar), Bab Apa yang Diriwayatkan Tentang Shalat Gerhana, nomor 561. Sanadnya: Muhammad bin Abdul Malik bin Abi asy-Syawarib, dari Yazid bin Zura'i, dari Ma'mar, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Imam at-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Teks hadits yang disebutkan dalam pertanyaan sudah lengkap dan berharakat. Berikut sebagian lafazh kuncinya:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِالنَّاسِ فَأَطَالَ الْقِرَاءَةَ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ

Terjemahan: "Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah ﷺ, maka Rasulullah ﷺ memimpin shalat bersama orang-orang. Ia membaca dengan panjang, kemudian ia rukuk dengan panjang..."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar disyariatkannya mengingat Allah saat gerhana:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

QS. Al-Isra' [17]: 59

Terjemahan: "Dan tidaklah Kami mengirim tanda-tanda (kebesaran) itu melainkan untuk menakut-nakuti."

Juga firman Allah:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

QS. Fushshilat [41]: 37

Terjemahan: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kalian benar-benar hanya menyembah kepada-Nya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah dengan lafazh yang semakna, dan menjadi landasan utama dalam bab shalat gerhana.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi ﷺ, beliau langsung mengerjakan shalat berjamaah bersama para sahabat. Shalat ini memiliki keistimewaan: setiap rakaat terdiri dari dua kali berdiri, dua kali membaca, dan dua kali rukuk, lalu dua kali sujud. Jadi total dalam dua rakaat: empat rukuk dan empat sujud.

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

  1. Imam asy-Syafi'i — sebagaimana dinukil Imam at-Tirmidzi dalam hadits ini — menjelaskan tata caranya secara rinci:
  • Rakaat pertama: membaca al-Fatihah dan surat panjang (seperti al-Baqarah) secara sirr (pelan) jika terjadi di siang hari, lalu rukuk panjang.
  • Berdiri lagi, membaca al-Fatihah dan surat (seperti Ali Imran), lalu rukuk panjang lagi.
  • Lalu sujud dua kali dengan panjang.
  • Rakaat kedua: sama seperti rakaat pertama, dengan bacaan seperti an-Nisa' dan al-Maidah.
  1. Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah — keduanya juga berpendapat shalat gerhana itu empat rukuk dalam empat sujud, sesuai zhahir hadits Aisyah ini.
  2. Imam az-Zuhri (perawi hadits ini) meriwayatkan dari Urwah dari Aisyah, dan beliau termasuk ulama Tabi'in yang menjadi rujukan dalam fiqih Madinah.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berpendapat shalat gerhana cukup dua rukuk seperti shalat biasa, berdasarkan hadits lain. Namun pendapat yang paling kuat dalam madzhab asy-Syafi'i, Ahmad, dan Ishaq — dan dikuatkan oleh Imam at-Tirmidzi dengan menyebutkan hadits ini secara khusus — adalah empat rukuk dalam dua rakaat. Ini karena hadits Aisyah ini shahih dan tegas, serta diamalkan oleh banyak sahabat.

Hikmah disyariatkannya:

  • Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah untuk mengingatkan hamba-Nya.
  • Nabi ﷺ memanjangkan bacaan, rukuk, dan sujud — menunjukkan betapa pentingnya muhasabah dan kembali kepada Allah.
  • Shalat ini disyariatkan berjamaah, dan disunnahkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, dan sedekah saat terjadi gerhana.

Story Telling

Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa ketika matahari gerhana, Nabi ﷺ berdiri shalat sangat lama hingga para sahabat yang berdiri di belakangnya hampir pingsan karena lamanya berdiri. Beliau membaca surat yang panjang, lalu rukuk sangat lama, lalu berdiri lagi dan membaca surat panjang lainnya, lalu rukuk lagi. Setelah selesai, beliau berkhutbah dan mengingatkan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian atau kelahiran seseorang, tetapi tanda kekuasaan Allah untuk menakuti hamba-Nya. Beliau memerintahkan untuk berdoa, berdzikir, dan bersedekah. (Makna ini diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah, dan disebutkan pula oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.)

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat gerhana dikerjakan dua rakaat, dengan empat rukuk dan empat sujud — ini pendapat terkuat menurut Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ishaq bin Rahuyah.
  2. Setiap rakaat: berdiri membaca, rukuk, berdiri lagi membaca, rukuk lagi, lalu sujud dua kali.
  3. Disunnahkan memanjangkan bacaan, rukuk, dan sujud.
  4. Saat gerhana, perbanyaklah dzikir, doa, istighfar, dan sedekah.
  5. Shalat gerhana disyariatkan berjamaah, dan boleh juga dikerjakan sendiri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?