Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 542 tentang Makan sebelum shalat Idul Fitri dan setelah shalat Idul Adha

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan dua sunnah penting yang diajarkan Nabi ﷺ terkait dua hari raya. Pertama, pada Hari Raya Idul Fitri, beliau ﷺ dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat. Kedua, pada Hari Raya Idul Adha, beliau ﷺ justru menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Id. Ini adalah bentuk syariat yang penuh hikmah, membedakan antara dua momen kebahagiaan yang berbeda.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Bab-Bab Hari Raya, Bab "Apa yang Dikatakan dalam Makan di Hari Fitr Sebelum Berangkat", nomor 542. Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّارُ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ ثَوَابِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

Terjemahan: Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya (Buraidah bin Hushaib Al-Aslami), ia berkata: "Nabi ﷺ tidak keluar pada hari Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Adha sampai beliau shalat."

Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "Hadits Buraidah bin Hushaib Al-Aslami ini adalah hadits gharib (hanya diriwayatkan melalui satu jalur)." Beliau juga menukil perkataan Imam Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari: "Aku tidak mengetahui Thawab bin 'Utbah memiliki hadits lain selain hadits ini."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan oleh para ulama hadits lainnya. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menerima dan mengamalkan hadits ini sebagai dasar sunnah.

Penjelasan Rinci

Hadits yang mulia ini mengandung dua bimbingan Nabi ﷺ yang sangat agung:

1. Makan Sebelum Shalat Idul Fitri

Para ulama dari kalangan Salafush Shalih sangat memperhatikan sunnah ini. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitabnya Al-Umm menjelaskan bahwa disunnahkan bagi seseorang yang hendak melaksanakan shalat Idul Fitri untuk makan terlebih dahulu, dan dianjurkan makan kurma dalam jumlah ganjil. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan jumhur ulama.

Hikmah dari makan sebelum shalat Idul Fitri adalah untuk menutup celah keraguan. Sebab, pada hari itu adalah hari pertama di mana umat Islam dihalalkan makan di pagi hari setelah sebulan penuh berpuasa. Makan sebelum shalat menjadi bukti nyata bahwa puasa Ramadhan telah berakhir dan ketaatan telah ditunaikan. Ini juga sebagai bentuk syukur kepada Allah ﷻ atas nikmat sempurnanya ibadah puasa.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad al-Ma'aad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sengaja menyelisihi kebiasaan orang-orang yang berpuasa sunnah di hari raya. Beliau ﷺ makan sebelum shalat untuk menegaskan bahwa hari itu adalah hari berbuka, bukan hari puasa.

2. Menunda Makan Hingga Selesai Shalat Idul Adha

Adapun pada Hari Raya Idul Adha, Nabi ﷺ justru tidak makan terlebih dahulu. Beliau ﷺ menunggu hingga selesai melaksanakan shalat Id, kemudian menyembelih hewan kurban, barulah beliau ﷺ makan dari daging kurbannya.

Para ulama menjelaskan bahwa hikmahnya adalah agar makanan pertama yang masuk ke perut beliau ﷺ pada hari itu adalah dari daging hewan kurban yang telah disembelih. Ini adalah bentuk pengagungan terhadap ibadah kurban dan menjadikannya sebagai pembuka makanan di hari yang penuh berkah ini.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Zaad al-Ma'aad: "Termasuk petunjuk Nabi ﷺ pada hari Idul Adha adalah tidak makan sebelum shalat, hingga beliau kembali dari shalat, lalu beliau menyembelih kurbannya dan makan darinya."

Pendapat Ulama Tentang Hukumnya

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah bersepakat bahwa makan sebelum shalat Idul Fitri dan menunda makan pada Idul Adha adalah mustahab (sunnah yang dianjurkan), bukan kewajiban. Imam At-Tirmidzi rahimahullah setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "Sebagian ulama menganjurkan agar seseorang tidak keluar pada hari Fitri hingga ia makan sesuatu, dan dianjurkan baginya berbuka dengan kurma. Dan dianjurkan pula agar ia tidak makan pada hari Adha hingga ia kembali (dari shalat)."

Ini menunjukkan bahwa para ulama dari kalangan Salaf memahami hadits ini sebagai anjuran yang penuh hikmah, bukan sebagai kewajiban yang berdosa jika ditinggalkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Buraidah bin Hushaib Al-Aslami radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang mulia. Beliau termasuk sahabat yang ikut serta dalam banyak peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Dalam hadits ini, beliau menyampaikan dengan teliti kebiasaan Nabi ﷺ dalam dua hari raya.

Perhatikanlah bagaimana para sahabat sangat memperhatikan detail-detail kecil dalam kehidupan Nabi ﷺ. Mereka tidak hanya memperhatikan perkataan beliau, tetapi juga memperhatikan gerak-gerik dan kebiasaan beliau dalam beribadah. Ini menunjukkan kecintaan mereka yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ dan semangat mereka untuk meneladani beliau dalam segala hal.

Dari sini kita belajar bahwa sunnah Nabi ﷺ tidak hanya terbatas pada ibadah-ibadah besar seperti shalat dan puasa, tetapi juga mencakup hal-hal yang tampak sederhana seperti kapan kita makan di hari raya. Semua itu adalah bagian dari kesempurnaan syariat Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Kesimpulan Praktis

  1. Pada Hari Idul Fitri: Disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Id, dan dianjurkan makan kurma dalam jumlah ganjil (satu, tiga, atau lima butir). Ini sebagai tanda berakhirnya puasa dan bentuk syukur kepada Allah ﷻ.
  2. Pada Hari Idul Adha: Disunnahkan untuk menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Id dan menyembelih hewan kurban. Makanan pertama yang masuk ke perut adalah daging kurban sebagai bentuk pengagungan ibadah ini.
  3. Hukumnya adalah sunnah, bukan kewajiban. Jika seseorang tidak melakukannya karena lupa atau uzur, maka tidak ada dosa baginya, namun ia kehilangan keutamaan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
  4. Perhatikanlah detail-detail sunnah dalam ibadah. Sebagaimana para sahabat memperhatikan kebiasaan Nabi ﷺ, kita pun hendaknya bersemangat untuk meneladani beliau dalam segala hal, termasuk hal-hal yang tampak kecil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?