Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 499 tentang Keutamaan bersegera ke shalat Jumat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar bagi orang yang bersegera menuju shalat Jum'at: semakin awal ia berangkat setelah mandi dan bersuci, semakin besar pahala yang dicatat, diibaratkan seperti menyembelih hewan kurban yang berbeda nilainya. Setelah imam keluar (naik mimbar), para malaikat berhenti mencatat dan hadir mendengarkan khutbah. Intinya: bersegeralah ke masjid pada hari Jum'at, karena setiap langkah dan waktu memiliki nilai pahala yang sangat besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Jum'at, Bab Apa yang Dikatakan Tentang Bersegera ke Jum'at (no. 499), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan beliau menilai hadits ini hasan shahih. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, dengan lafaz yang semakna.

Teks hadits yang disebutkan:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً

"Siapa yang mandi pada hari Jum'at seperti mandi junub, kemudian ia berangkat, maka seakan-akan ia menyembelih unta."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan bersegera menuju dzikir (khutbah) Jum'at:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

QS. Al-Jumu'ah [62]: 9

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bab ini secara panjang, termasuk makna "sa'at" (jam) dalam hadits. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menjelaskan makna keutamaan berangkat lebih awal. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas keutamaan hari Jum'at dan adab bersegera. Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan shahih.

Penjelasan Rinci

1. Makna "mandi seperti mandi junub" (غُسْلَ الْجَنَابَةِ)

Para ulama menjelaskan bahwa maksudnya adalah mandi yang sempurna, yaitu mandi yang mencakup seluruh badan dengan niat bersuci untuk Jum'at. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini menunjukkan disyariatkannya mandi Jum'at dan bahwa mandi tersebut hendaknya dilakukan secara sempurna seperti mandi wajib. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyebutan "ghusl al-janabah" adalah untuk menunjukkan kesempurnaan mandi, bukan berarti seseorang dalam keadaan junub.

2. Makna "rāha" (رَاحَ) — berangkat/bersegera

Kata "rāha" secara bahasa berarti berangkat pada waktu pagi menuju suatu tempat. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah berangkat menuju masjid untuk shalat Jum'at. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa semakin awal seseorang berangkat, semakin tinggi derajat pahalanya.

3. Makna "sa'at" (jam) yang lima

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "jam" di sini:

  • Sebagian ulama (seperti yang dinukil dari Imam Malik dan lainnya) memahami bahwa ini adalah pembagian waktu sejak terbit fajar hingga masuknya imam ke mimbar, dibagi menjadi lima bagian.
  • Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan beberapa pendapat dan menguatkan bahwa yang dimaksud adalah waktu-waktu sebelum khutbah, dan bahwa pembagian ini menunjukkan tingkatan keutamaan berdasarkan urutan kedatangan.

Yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan An-Nawawi — adalah bahwa ini adalah perumpamaan untuk menunjukkan perbedaan besar pahala antara yang datang paling awal dengan yang datang setelahnya, bukan pembatasan waktu yang kaku.

4. Perumpamaan hewan kurban

Unta adalah hewan kurban paling mahal, lalu sapi, lalu domba, lalu ayam, lalu telur. Ini menunjukkan penurunan nilai pahala secara bertahap sesuai keterlambatan. Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa ini adalah bentuk motivasi (targhib) agar umat bersegera.

5. "Ketika imam keluar, para malaikat hadir mendengarkan dzikir"

Maksudnya: ketika imam naik mimbar dan mulai khutbah, para malaikat yang sebelumnya mencatat kedatangan orang-orang berhenti mencatat dan hadir mendengarkan khutbah. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan mendengarkan khutbah dengan seksama dan bahwa mencatat keutamaan berhenti setelah khutbah dimulai.

6. Perbedaan pendapat tentang mandi Jum'at

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat mandi Jum'at adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), bukan wajib.
  • Imam Abu Hanifah juga berpendapat sunnah.
  • Sebagian ulama seperti Ibnu Taymiyyah menegaskan bahwa mandi Jum'at adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan tidak wajib kecuali bagi yang memiliki bau tidak sedap atau dalam keadaan junub.

Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa mandi Jum'at hukumnya sunnah muakkadah, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang memerintahkan tanpa menunjukkan kewajiban mutlak.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma — sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim — sangat bersemangat datang ke masjid untuk shalat Jum'at lebih awal. Beliau bahkan terkadang datang sebelum fajar dan menunggu di masjid. Ini menunjukkan semangat salaf dalam meraih keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah menasihatkan tentang pentingnya bersegera dalam kebaikan, dan beliau sendiri dikenal sebagai orang yang sangat menjaga waktu. Para salaf memahami bahwa keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.

Kesimpulan Praktis

  1. Mandi Jum'at — disunnahkan mandi secara sempurna pada hari Jum'at sebelum berangkat ke masjid.
  2. Bersegera ke masjid — usahakan datang lebih awal, karena semakin awal semakin besar pahala yang dijanjikan.
  3. Dengarkan khutbah dengan seksama — setelah imam naik mimbar, fokuslah mendengarkan dan jangan sibuk dengan hal lain.
  4. Jangan menunda — keterlambatan mengurangi keutamaan, meskipun shalat tetap sah.
  5. Niatkan untuk meraih keutamaan — bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi mencari pahala yang dijanjikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?