Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan shalat Dhuha empat rakaat di awal hari. Allah berjanji akan mencukupkan kebutuhan hamba-Nya di akhir hari jika ia melaksanakan shalat ini. Ini adalah motivasi besar untuk menjaga shalat Dhuha sebagai bentuk ibadah dan tawakal kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
(QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."
Hadits:
Hadits riwayat Abu Darda' dan Abu Dzar radhiyallahu 'anhuma, dari Rasulullah ﷺ, dari Allah 'Azza wa Jalla, bahwa Dia berfirman: "Wahai anak Adam, rukuklah (shalatlah) untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupkanmu di akhirnya." (HR. Tirmidzi no. 475, beliau berkata: hasan gharib)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam at-Tirmidzi (w. 279 H) menghimpun hadits ini dalam kitabnya Sunan at-Tirmidzi dan menilainya hasan gharib.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi menyatakan hadits ini shahih.
- Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) dalam Majmu' Fatawa (11/389) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan shalat Dhuha empat rakaat, dan janji Allah untuk mencukupi kebutuhan hamba-Nya di akhir hari.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits qudsi, yaitu firman Allah yang disampaikan oleh Nabi ﷺ. Makna "rukuk" di sini adalah shalat, karena rukuk termasuk rukun shalat. Waktu "awal siang" adalah setelah matahari naik setinggi tombak (sekitar 15-20 menit setelah terbit) hingga sebelum waktu zawal (condongnya matahari ke barat).
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan Imam asy-Syafi'i (w. 204 H), menganjurkan shalat Dhuha minimal dua rakaat dan maksimal delapan rakaat. Namun, hadits ini secara khusus menyebutkan empat rakaat sebagai jumlah yang dijanjikan kecukupan di akhir hari.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa janji Allah "mencukupkanmu di akhirnya" mencakup kecukupan dalam urusan dunia dan akhirat. Artinya, Allah akan menjaga dan memudahkan segala kebutuhan hamba-Nya yang rajin shalat Dhuha.
Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Fath al-Bari (5/44) mengatakan bahwa shalat Dhuha adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan dan kelapangan waktu di pagi hari. Dengan shalat ini, seorang hamba menunjukkan ketergantungannya kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Abu Darda' radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang zuhud dan ahli ibadah. Beliau selalu menjaga shalat Dhuha meskipun dalam kondisi sibuk. Suatu hari, beliau berkata: "Barangsiapa yang shalat Dhuha empat rakaat, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya di sore hari." (HR. Ahmad dalam az-Zuhd no. 138, sanadnya shahih)
Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias mengamalkan hadits ini. Mereka memahami bahwa shalat Dhuha bukan sekadar ibadah sunnah, tetapi juga sarana untuk meraih jaminan Allah dalam urusan rezeki dan kehidupan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga shalat Dhuha empat rakaat setiap pagi, karena ada jaminan kecukupan dari Allah.
- Niatkan ikhlas karena Allah, bukan karena ingin kaya atau sukses dunia semata.
- Waktu terbaik adalah setelah matahari naik setinggi tombak hingga sebelum zuhur.
- Boleh ditambah menjadi enam atau delapan rakaat, tetapi minimal dua rakaat tetap utama.
- Yakinlah bahwa Allah tidak akan mengingkari janji-Nya bagi hamba yang taat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.