Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 442 tentang Shalat malam Nabi sebanyak tiga belas rakaat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa kebiasaan Nabi ﷺ dalam shalat malam (qiyamul lail) adalah tiga belas rakaat. Ini adalah kabar dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang amalan rutin beliau ﷺ. Jumlah ini adalah yang paling sering disebutkan dalam hadits-hadits shahih, namun bukan berarti beliau tidak pernah shalat dengan jumlah lain. Yang terpenting adalah menjaga kualitas shalat malam dengan khusyuk dan istiqamah, bukan sekadar memperbanyak jumlah rakaat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat At-Tirmidzi (No. 442):

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ أَبِي جَمْرَةَ الضُّبَعِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Makna: "Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: 'Nabi ﷺ biasa shalat di malam hari sebanyak tiga belas rakaat.'"

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil (darinya), (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4)

Ayat ini menunjukkan perintah shalat malam, dan hadits ini menjelaskan praktik nyata Nabi ﷺ dalam melaksanakannya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits tentang shalat malam Nabi ﷺ dengan tiga belas rakaat adalah riwayat yang sangat kuat dan masyhur. Mari kita simak penjelasan para ulama dari daftar rujukan kita:

1. Penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidaklah selalu sama jumlahnya. Terkadang beliau shalat tiga belas rakaat, terkadang sebelas rakaat, dan terkadang lebih sedikit atau lebih banyak. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah rakaat shalat malam tidaklah baku, yang terpenting adalah kekhusyukan dan kelanjutan (istiqamah) dalam beribadah.

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa yang disyariatkan dalam shalat malam adalah witir sebagai penutup, dan jumlah rakaat sebelumnya bisa bervariasi. Beliau menukil pendapat para ulama bahwa jika seseorang ingin shalat malam, maka ia boleh melakukannya dengan jumlah rakaat yang ia mampu, lalu menutupnya dengan witir.

3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ yang istiqamah dalam shalat malam. Tiga belas rakaat ini terdiri dari shalat tahajud, dan diakhiri dengan witir. Namun beliau juga menegaskan bahwa jika seseorang hanya mampu dua rakaat, itu sudah baik. Yang penting jangan meninggalkan shalat malam sama sekali.

4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa hikmah shalat malam adalah untuk melatih jiwa, memutus kesibukan dunia, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan khusyuk. Jumlah rakaat bukanlah tujuan utama, tetapi kualitas ibadah dan keikhlasan hati.

Perbedaan Pendapat Ulama:

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang rincian tiga belas rakaat ini:

  • Sebagian ulama berpendapat bahwa tiga belas rakaat itu adalah delapan rakaat tahajud + tiga rakaat witir + dua rakaat shalat sunnah ba'diyah Isya (atau qabliyah Subuh).
  • Pendapat lain mengatakan bahwa itu semua adalah shalat malam yang diakhiri witir, tanpa perincian khusus.

Namun yang terpenting, semua ulama sepakat bahwa shalat malam itu disyariatkan dan jumlahnya fleksibel sesuai kemampuan, dengan witir sebagai penutupnya.

Story Telling

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha (istri Nabi ﷺ), beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ biasa shalat malam, dan ketika mendekati waktu subuh, beliau berdoa: 'Ya Allah, dengan rahmat-Mu aku memohon ampunan-Mu, dan dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan-Mu.'"

Kisah ini menunjukkan bahwa shalat malam Nabi ﷺ bukanlah sekadar rutinitas fisik, tetapi ibadah yang penuh penghayatan dan doa. Beliau ﷺ menghabiskan malamnya dalam sujud dan doa, memohon ampunan dan rahmat Allah. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa shalat malam adalah waktu terbaik untuk bermunajat dan memohon ampunan kepada Allah Ta'ala.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat malam semampunya, meskipun hanya dua rakaat, karena itu adalah kebiasaan Nabi ﷺ dan para salaf.
  2. Jumlah rakaat tidaklah baku — yang terpenting adalah kualitas, kekhusyukan, dan istiqamah.
  3. Akhiri dengan witir sebagai penutup shalat malam, karena witir adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
  4. Gunakan waktu malam untuk berdoa dan memohon ampunan, karena itu adalah waktu mustajab.
  5. Jangan merasa berat — mulailah dengan sedikit, lalu tingkatkan secara bertahap.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi