Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 441 tentang Tata cara shalat malam Nabi Muhammad ﷺ

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits yang Anda tanyakan (Jami' At-Tirmidzi no. 441) adalah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi melalui jalur Qutaibah dari Imam Malik dari Ibnu Syihab Az-Zuhri. Teks yang Anda sertakan adalah sanad (rantai periwayatan) yang menunjuk pada hadits sebelumnya yang semakna (mutaba'ah). Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi. Karena teksnya hanya menyebut "yang sejenis" (nahwahu), maka untuk memahami isi haditsnya, kita perlu merujuk pada hadits yang semakna yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al-Muwaththa', yaitu tentang shalat malam Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang semakna dengan riwayat ini adalah hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang shalat malam Nabi ﷺ. Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa' (Kitab Shalatul-Lail, Bab Ma Ja'a fi Shalatil-Lail) dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Az-Zubair dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

Teks Arab (potongan hadits yang semakna):

> كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ

Terjemahan: "Rasulullah ﷺ shalat malam sebelas rakaat, dan beliau witir dengan satu rakaat di antara rakaat-rakaat tersebut."

Sumber: Al-Muwaththa' Imam Malik, Kitab Shalatul-Lail; dan diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 738) dari jalur lain.

Kaitan dengan ulama dalam daftar: Imam At-Tirmidzi (dalam Jami'-nya) menilai hadits ini hasan shahih. Imam Malik bin Anas meriwayatkannya dalam Al-Muwaththa'. Ibnu Syihab Az-Zuhri adalah salah satu tabi'in besar yang menjadi perawi dalam sanad ini. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ adalah sebelas rakaat, dan ini adalah yang paling sering dilakukan, meskipun ada riwayat lain yang menyebutkan tiga belas rakaat.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits tentang shalat malam Nabi ﷺ ini memiliki beberapa riwayat yang semakna. Dalam riwayat Aisyah radhiyallahu 'anha yang masyhur, beliau menggambarkan shalat malam Rasulullah ﷺ secara terperinci. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini melalui jalur Qutaibah dari Imam Malik dari Ibnu Syihab, dan beliau menyebutkan bahwa riwayat ini semakna dengan hadits sebelumnya yang diriwayatkan dari jalur lain.

Pendapat ulama tentang jumlah rakaat shalat malam:

  1. Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa' meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ shalat malam sebelas rakaat, dan ini adalah pendapat yang paling kuat menurut jumhur ulama.
  2. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, menunjukkan bahwa sanadnya kuat dan dapat diamalkan.
  3. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ yang paling sering adalah sebelas rakaat, dan terkadang beliau shalat tiga belas rakaat. Keduanya shahih, dan yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan dan kelanjutan shalat.
  4. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa perbedaan jumlah rakaat dalam riwayat-riwayat shalat malam Nabi ﷺ menunjukkan keluwesan syariat. Yang penting adalah shalat malam dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan, baik sebelas, tiga belas, atau lebih, selama tidak memberatkan.

Hikmah dari hadits ini: Shalat malam adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Nabi ﷺ tidak memberatkan dirinya dengan jumlah yang banyak, tetapi beliau menjaga kualitas shalatnya dengan bacaan yang panjang, ruku' dan sujud yang thuma'ninah (tenang), serta doa yang khusyuk. Ini mengajarkan kita bahwa yang terpenting dalam ibadah adalah kualitas, bukan sekadar kuantitas.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang shalat malam Nabi ﷺ. Beliau menjawab dengan gamblang, "Janganlah kalian bertanya tentang bagaimana shalat malam beliau!" Kemudian beliau menceritakan bahwa Nabi ﷺ shalat malam, dan ketika beliau bangun dari tidurnya, beliau bersiwak dan berwudhu, lalu shalat. Aisyah menggambarkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan shalat malam, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Bahkan ketika sakit yang membawa wafatnya, beliau tetap shalat sambil duduk.

Kisah ini menunjukkan betapa istiqamahnya Nabi ﷺ dalam shalat malam. Beliau tidak pernah meninggalkannya, meskipun dalam keadaan lemah. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak mudah meninggalkan ibadah sunnah, terutama shalat malam, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih dan sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan Nabi ﷺ melakukannya secara rutin.
  2. Jumlah rakaat yang paling sering dilakukan Nabi ﷺ adalah sebelas rakaat, termasuk witir, dan terkadang tiga belas rakaat.
  3. Yang terpenting adalah kualitas shalat, bukan sekadar jumlah rakaat. Perbanyaklah bacaan, ruku', sujud, dan doa dengan khusyuk.
  4. Jangan meninggalkan shalat malam meskipun dalam keadaan sibuk atau lelah, karena Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkannya.
  5. Mulailah dengan yang ringan, misalnya dua rakaat sebelum tidur atau witir satu rakaat, agar istiqamah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.