Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberitakan bahwa saat munculnya Dajjal, manusia akan lari ketakutan hingga berlindung ke gunung-gunung. Ketika Ummu Syarik bertanya di mana orang Arab saat itu, Nabi ﷺ menjawab bahwa mereka hanya sedikit. Hadits ini mengajarkan agar kita tidak berbangga dengan keturunan, tetapi berbangga dengan iman dan amal, serta bersiap menghadapi fitnah besar dengan ilmu dan tauhid.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Keutamaan Rasulullah ﷺ, Bab Keutamaan Arab, nomor 3930, dari Jabir bin Abdullah dari Ummu Syarik. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Teks hadits yang disebutkan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الأَزْدِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ حَدَّثَتْنِي أُمُّ شَرِيكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ "لَيَفِرَّنَّ النَّاسُ مِنَ الدَّجَّالِ حَتَّى يَلْحَقُوا بِالْجِبَالِ". قَالَتْ أُمُّ شَرِيكٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَيْنَ الْعَرَبُ يَوْمَئِذٍ قَالَ "هُمْ قَلِيلٌ".
Terjemahan: "Manusia akan benar-benar lari dari Dajjal hingga mereka sampai ke gunung-gunung." Ummu Syarik bertanya: "Wahai Rasulullah, di mana orang Arab saat itu?" Beliau menjawab: "Mereka sedikit."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan fitnah besar dan ujian keimanan:
QS. Al-Kahfi [18]: 45
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
Terjemahan: "Dan berilah perumpamaan kepada mereka kehidupan dunia seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan angin. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia dan segala kemegahannya termasuk kebanggaan nasab akan sirna, dan yang tersisa hanyalah amal serta keimanan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyebut tanda besar hari kiamat, yaitu munculnya Dajjal. Dajjal adalah fitnah terbesar yang pernah menimpa manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Manusia akan lari ketakutan hingga berlindung ke gunung-gunung. Ini menunjukkan betapa dahsyatnya fitnah Dajjal, sampai manusia meninggalkan tempat tinggal dan harta mereka.
Ummu Syarik bertanya tentang keadaan orang Arab saat itu. Pertanyaan ini muncul karena orang Arab dikenal sebagai kaum yang memiliki keberanian dan kehormatan. Namun Nabi ﷺ menjawab bahwa mereka hanya sedikit. Ini bukan berarti merendahkan orang Arab, tetapi mengajarkan bahwa keutamaan sejati bukan pada keturunan, melainkan pada iman dan takwa.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitnah Dajjal adalah ujian besar yang akan mengguncang keimanan. Beliau menyebutkan bahwa orang yang teguh saat itu adalah mereka yang berpegang pada tauhid dan sunnah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits-hadits tentang Dajjal harus diimani sebagaimana adanya, dan kita diperintahkan berlindung dari fitnahnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa ujian dunia dan akhirat akan menyaring manusia, sehingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang benar imannya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menekankan pentingnya mempersiapkan diri dengan ilmu dan amal sebelum fitnah datang.
Adapun tentang keutamaan Arab, para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keutamaan Arab adalah karena bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an dan Nabi ﷺ berasal dari mereka. Namun keutamaan ini tidak otomatis membuat setiap orang Arab mulia di sisi Allah, karena kemuliaan di sisi Allah hanya dengan takwa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada masa fitnah besar, seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tanda-tanda kiamat. Nabi ﷺ menyebutkan Dajjal sebagai fitnah terbesar. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kami akan hidup sampai saat itu?" Nabi ﷺ menjawab: "Tidak, tetapi kabarkanlah kepada orang-orang setelah kalian." (Makna umum dari hadits-hadits tentang Dajjal).
Kisah ini mengajarkan bahwa generasi setelah sahabat pun harus bersiap dengan iman yang kuat. Imam Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal." (Makna dari perkataan beliau yang dinukil dalam kitab-kitab salaf).
Kesimpulan Praktis
- Perkuat tauhid dan iman sebelum fitnah besar datang, karena hanya iman yang bisa menyelamatkan.
- Jangan berbangga dengan keturunan atau nasab, karena kemuliaan di sisi Allah hanya dengan takwa.
- Pelajari tanda-tanda kiamat sesuai pemahaman salaf, tanpa berlebihan atau mengabaikan.
- Berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ dalam doa-doa shahih.
- Bersiaplah dengan ilmu dan amal, karena saat fitnah datang, yang tersisa hanyalah orang-orang yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.