Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu keutamaan besar bagi sahabat mulia Ubayy bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu. Isinya, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an langsung kepada Ubayy. Ini menunjukkan tingginya kedudukan Ubayy di sisi Allah dan Rasul-Nya. Di dalamnya juga terdapat pelajaran tentang hakikat agama yang lurus (Islam) dan peringatan tentang bahaya cinta dunia yang tidak pernah puas.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Bayyinah [98]: 1-8, khususnya awal surat yang dibacakan Nabi ﷺ kepada Ubayy:
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّىٰ تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
"Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata." (QS. Al-Bayyinah [98]: 1)
2. Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya, nomor 3898, dari sahabat Ubayy bin Ka'b radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
3. Kaitan dengan ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (209-279 H), salah satu ulama besar dalam daftar rujukan kita. Beliau adalah penyusun kitab Jami' At-Tirmidzi yang merupakan salah satu dari enam kitab hadits utama. Sanad hadits ini melalui Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (wafat 117 H), seorang tabi'in dan ulama tafsir serta hadits yang sangat terpercaya, yang juga termasuk dalam daftar rujukan kita.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits yang mulia ini:
1. Keutamaan Ubayy bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ubayy bin Ka'ab yang sangat besar. Beliau adalah salah satu dari empat sahabat yang Nabi ﷺ perintahkan untuk mengambil Al-Qur'an dari mereka, sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Al-Bukhari: "Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: dari Ibnu Mas'ud, Salim, Mu'adz, dan Ubayy bin Ka'ab."
Namun, yang membuat hadits ini istimewa adalah Allah secara khusus memerintahkan Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an kepada Ubayy. Ini adalah kehormatan yang tidak diberikan kepada sahabat lain. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hal ini karena Ubayy adalah seorang qari' (pembaca Al-Qur'an) yang paling mahir di kalangan sahabat, dan Allah ingin memuliakannya dengan cara ini.
2. Makna "membacakan Al-Qur'an"
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa "membacakan" di sini bukan berarti Nabi ﷺ mengajarkan sesuatu yang belum diketahui Ubayy, karena Ubayy sudah hafal Al-Qur'an. Tetapi ini adalah bentuk penghormatan dan pengajaran langsung dari Nabi ﷺ, serta untuk meneguhkan hati Ubayy. Ini juga menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an di hadapan orang lain adalah perbuatan yang mulia dan dianjurkan, sebagaimana Nabi ﷺ membacakannya kepada Ubayy.
3. Hakikat agama yang lurus
Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ membacakan kepada Ubayy: "Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah yang Hanif, Muslim, bukan Yahudi, bukan Kristen, dan bukan Majusi." Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa "Hanif" berarti condong kepada kebenaran dan menjauhi kebatilan, dan "Muslim" berarti berserah diri kepada Allah. Inilah agama yang benar di sisi Allah, yaitu Islam yang dibawa oleh para nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ. Agama-agama selain Islam, baik Yahudi, Nashrani, maupun Majusi, bukanlah agama yang diridhai Allah.
4. Bahaya cinta dunia
Bagian kedua yang dibacakan Nabi ﷺ adalah tentang anak Adam yang tidak pernah puas dengan harta. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan hakikat manusia yang selalu merasa kurang dengan harta. Semakin banyak harta, semakin ingin menambah. Tidak ada yang bisa memuaskan keinginan manusia kecuali kematian, yang digambarkan dengan "tanah" yang memenuhi perutnya. Namun, Allah membuka pintu taubat bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya.
5. Perbedaan riwayat
Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain, yaitu dari Abdullah bin Abdurrahman bin Abza dari ayahnya dari Ubayy bin Ka'ab, dan juga dari Qatadah dari Anas bin Malik. Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ membacakan surat Al-Bayyinah kepada Ubayy bin Ka'ab, Ubayy menangis karena terharu dengan kehormatan yang diberikan Allah kepadanya. Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Apakah yang membuatmu menangis, wahai Abul Mundzir?" Ubayy menjawab, "Wahai Rasulullah, bagaimana saya tidak menangis, sedangkan Allah memerintahkan engkau untuk membacakan Al-Qur'an kepadaku?" Maka Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah memerintahkan aku untuk membacakan Al-Qur'an kepadamu karena Allah ingin memuliakanmu." (Diriwayatkan secara global dalam berbagai kitab sirah dan syarah hadits).
Kisah ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan para sahabat yang mendapatkan kehormatan langsung dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah generasi terbaik yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.
Kesimpulan Praktis
- Menghormati para sahabat - Kita harus mencintai dan menghormati semua sahabat Nabi ﷺ, terutama yang memiliki keutamaan khusus seperti Ubayy bin Ka'ab.
- Semangat mempelajari Al-Qur'an - Keutamaan Ubayy adalah karena keahliannya dalam Al-Qur'an. Kita pun harus bersemangat membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur'an.
- Berpegang teguh pada Islam - Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah. Kita harus bersyukur telah diberikan petunjuk kepada Islam dan berusaha mengamalkannya dengan benar.
- Menjauhi cinta dunia yang berlebihan - Kita harus waspada terhadap sifat tamak dan rakus terhadap harta. Perbanyaklah bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.
- Segera bertaubat - Pintu taubat selalu terbuka. Jangan menunda taubat karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.