Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa ketika Rasulullah ﷺ memanggil putrinya, Fathimah radhiyallahu 'anha, pada tahun penaklukan Makkah (Fathu Makkah), lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya hingga ia menangis, kemudian membisikkan lagi hingga ia tertawa. Setelah Nabi ﷺ wafat, Ummu Salamah radhiyallahu 'anha bertanya kepada Fathimah tentang hal itu, dan Fathimah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memberitahukan bahwa beliau akan wafat (sehingga ia menangis), lalu memberitahukan bahwa ia akan menjadi pemimpin para wanita penghuni Surga selain Maryam binti 'Imran (sehingga ia tertawa). Hadits ini menunjukkan keutamaan Fathimah radhiyallahu 'anha dan keutamaan Maryam binti Imran 'alaihas salam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Keutamaan Rasulullah ﷺ, Bab Keutamaan Istri-Istri Nabi ﷺ, nomor 3893. At-Tirmidzi menyatakan: "Hadits ini hasan gharib dari jalur ini."
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, di antaranya dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari jalur 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ membisikkan kepada Fathimah pada saat sakit yang membawa kematian beliau, dan Fathimah menangis lalu tertawa. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits ini secara rinci.
Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan Maryam binti Imran:
QS. Ali 'Imran [3]: 42
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata: 'Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di alam semesta.'"
QS. At-Tahrim [66]: 12
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ
"Dan (juga) Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan dia termasuk orang-orang yang taat."
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menggambarkan momen yang sangat menyentuh antara Rasulullah ﷺ dan putrinya tercinta, Fathimah az-Zahra radhiyallahu 'anha. Peristiwa ini terjadi pada Tahun Penaklukan Makkah (Fathu Makkah), sebagaimana disebutkan dalam riwayat ini. Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, peristiwa serupa juga terjadi pada saat Nabi ﷺ sakit menjelang wafatnya.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tangisan Fathimah ketika diberitahu tentang wafatnya Nabi ﷺ adalah tangisan kesedihan karena kehilangan ayahnya yang mulia, dan ini adalah hal yang manusiawi serta tidak tercela. Sedangkan tawanya setelah diberitahu bahwa ia akan menjadi pemimpin para wanita penghuni Surga adalah tanda kebahagiaan dan syukur atas kabar gembira tersebut.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan kekhususan (keistimewaan) Fathimah radhiyallahu 'anha, dan bahwa kabar gembira yang disampaikan Nabi ﷺ kepadanya adalah termasuk tanda kenabian, karena apa yang beliau sampaikan pasti terjadi.
Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini. Meskipun demikian, maknanya diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang shahih, sehingga para ulama menerima kandungan maknanya dengan baik.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "sayyidah nisaa' ahlil jannah" (pemimpin para wanita penghuni Surga):
- Pendapat pertama: Fathimah adalah pemimpin para wanita penghuni Surga dari umat ini (umat Muhammad ﷺ), sedangkan Maryam memiliki keutamaan tersendiri sebagai wanita pilihan Allah di zamannya. Ini dipilih oleh sebagian ulama karena Maryam disebutkan secara khusus dalam Al-Qur'an dengan pujian yang agung.
- Pendapat kedua: Fathimah adalah pemimpin seluruh wanita penghuni Surga secara umum, dan penyebutan Maryam sebagai pengecualian dalam hadits ini menunjukkan bahwa Maryam memiliki kedudukan yang sangat tinggi sehingga disebutkan secara khusus.
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menguatkan bahwa keutamaan Fathimah dan Maryam keduanya adalah agung, dan hadits ini tidak mengurangi keutamaan salah satu dari keduanya. Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa Fathimah memiliki keutamaan sebagai pemimpin wanita umat ini, sementara Maryam memiliki keutamaan sebagai wanita yang dipilih Allah di atas seluruh wanita di alam semesta pada zamannya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali 'Imran [3]: 42.
Pelajaran penting:
Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki kasih sayang yang sangat besar kepada putrinya, dan bahwa beliau membisikkan berita yang bersifat pribadi kepada Fathimah. Ini menunjukkan kedekatan beliau dengan keluarganya dan perhatian beliau terhadap keadaan jiwa mereka.
Story Telling
Diceritakan bahwa pada suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ berada bersama Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, beliau memanggil putrinya Fathimah. Beliau membisikkan sesuatu ke telinga Fathimah, dan tiba-tiba air mata Fathimah mengalir. Ummu Salamah yang melihat kejadian itu merasa sedih, namun tidak berani bertanya saat itu.
Kemudian Nabi ﷺ membisikkan lagi sesuatu kepada Fathimah, dan kali ini wajah Fathimah berseri-seri, senyumnya merekah. Ummu Salamah semakin penasaran, tetapi tetap menahan diri.
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Ummu Salamah radhiyallahu 'anha menemui Fathimah dan bertanya tentang apa yang terjadi pada hari itu. Fathimah pun menceritakan: "Ayahku memberitahuku bahwa beliau akan segera meninggal dunia, maka aku menangis. Kemudian beliau memberitahuku bahwa aku adalah pemimpin para wanita penghuni Surga selain Maryam binti Imran, maka aku pun tertawa bahagia."
Betapa agungnya kedudukan Fathimah radhiyallahu 'anha di sisi Allah dan di sisi Rasul-Nya. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa kesedihan dan kebahagiaan bisa datang silih berganti dalam kehidupan seorang mukmin, namun kabar gembira dari Allah selalu menjadi penghibur bagi hati yang beriman.
Kesimpulan Praktis
- Keutamaan Fathimah radhiyallahu 'anha adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Nabi ﷺ sendiri, dan kita wajib mencintai dan menghormati beliau serta keluarganya (Ahlul Bait).
- Keutamaan Maryam binti Imran 'alaihas salam juga agung, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an. Keduanya adalah wanita-wanita mulia yang menjadi teladan dalam ketakwaan, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.
- Kasih sayang Nabi ﷺ kepada keluarganya menjadi contoh bagi kita untuk memperlakukan keluarga dengan penuh cinta dan perhatian.
- Kabar gembira dari Allah dapat menjadi penghibur bagi hati yang sedih, sebagaimana Fathimah yang menangis lalu tertawa setelah mendengar kabar gembira dari ayahnya.
- Hendaknya kita tidak berlebihan (ghuluw) dalam mengagungkan seseorang, termasuk Ahlul Bait. Kita mencintai mereka karena Allah dan karena kedekatan mereka dengan Nabi ﷺ, tanpa mengangkat mereka di atas kedudukan yang Allah tetapkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.