Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3851 tentang Keutamaan Jabir bin Abdullah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengunjungi rumah Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, dan beliau datang dengan berjalan kaki — bukan menunggangi baghal (peranakan kuda-keledai) maupun burdzaun (keledai besar). Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini menunjukkan kerendahan hati (tawadhu') Nabi ﷺ, keutamaan Jabir bin Abdullah, serta adab seorang pemimpin mengunjungi dan memperhatikan keadaan sahabatnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, dalam Jami' At-Tirmidzi no. 3851, Kitab al-Manaqib, Bab Manaqib Jabir bin Abdullah. Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih."

Teks hadits:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: جَاءَنِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَيْسَ بِرَاكِبِ بَغْلٍ وَلَا بِرْذَوْنٍ

Terjemah: "Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, dari Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: 'Rasulullah ﷺ datang kepadaku, bukan dengan menunggangi baghal dan bukan pula burdzaun.'"

Ayat yang relevan tentang keteladanan dan kerendahan hati Nabi ﷺ:

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Terjemah: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Ayat tentang keutamaan orang beriman yang rendah hati:

QS. Al-Furqan [25]: 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Terjemah: "Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam.'"

Kaitan ulama dan kitab:

  • Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya menilai hadits ini hasan shahih.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Al-Ishabah menyebutkan keutamaan Jabir bin Abdullah dan perhatian Nabi ﷺ kepadanya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bab keutamaan Jabir dan doa Nabi ﷺ untuknya.
  • Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kedudukan Jabir sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadits.

Penjelasan Rinci

Makna lafaz hadits:

Kata baghal (بَغْل) adalah hewan peranakan antara kuda jantan dan keledai betina; sedangkan burdzaun (بِرْذَوْن) adalah keledai besar atau kuda yang digunakan untuk tunggangan mewah. Penyebutan keduanya dalam hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ datang ke rumah Jabir dengan cara yang sederhana — berjalan kaki atau dengan tunggangan yang sangat sederhana — bukan dengan kendaraan yang biasa dipakai orang-orang terpandang atau pembesar saat itu.

Pemahaman ulama:

  1. Imam At-Tirmidzi memasukkan hadits ini dalam bab keutamaan Jabir bin Abdullah, menunjukkan bahwa kunjungan Nabi ﷺ ke rumah Jabir merupakan bentuk penghormatan dan pengakuan atas keutamaan Jabir.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah fi Ma'rifatish Shahabah menjelaskan bahwa Jabir bin Abdullah adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ, dan beliau sering mengunjunginya, terutama setelah Jabir mengalami kesulitan (misalnya ketika ayahnya Abdullah bin Amr gugur di Perang Uhud dan meninggalkan banyak tanggungan keluarga).
  3. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa di antara bentuk tawadhu' Nabi ﷺ adalah beliau tidak segan mengunjungi sahabatnya secara langsung, bahkan dengan cara yang sederhana, untuk menanyakan keadaan, mendoakan, atau membantu kebutuhan mereka.
  4. Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits (muktsirun fil hadits), dan doa Nabi ﷺ untuknya — "Semoga Allah memberkahi Jabir dalam keluarganya dan rumahnya" — merupakan bukti kedekatan dan keutamaan beliau.

Faedah hadits:

  • Tawadhu' Nabi ﷺ: Beliau tidak merasa gengsi untuk mengunjungi sahabatnya dengan cara sederhana. Ini menjadi pelajaran bagi para pemimpin dan ulama agar tidak menjauh dari rakyat atau murid-muridnya.
  • Keutamaan Jabir bin Abdullah: Kunjungan Nabi ﷺ secara khusus menunjukkan kedudukan Jabir di sisi beliau.
  • Adab berkunjung: Seorang muslim dianjurkan mengunjungi saudaranya, menanyakan keadaan, dan membantu kesulitannya.
  • Kesederhanaan: Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada kendaraan atau penampilan, tetapi pada ketakwaan dan akhlak.

Perbedaan pendapat ulama:

Para ulama yang tercantum dalam daftar tidak berbeda pendapat tentang keutamaan hadits ini. Yang ada hanyalah perbedaan dalam menyebutkan konteks kunjungan — sebagian menyebutkan kunjungan ini terjadi setelah Perang Uhud ketika Jabir menghadapi banyak tanggungan, sebagian menyebutkan dalam konteks lain. Namun inti hadits tetap sama: Nabi ﷺ datang dengan cara sederhana, dan ini menunjukkan tawadhu' beliau.

Story Telling

Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang mulia. Ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram, gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud, meninggalkan banyak anak dan hutang. Jabir yang masih muda harus menanggung beban keluarga yang besar.

Dalam keadaan seperti itu, Rasulullah ﷺ tidak tinggal diam. Beliau datang mengunjungi Jabir — bukan dengan menunggangi baghal atau burdzaun yang biasa dipakai para pembesar, tetapi dengan cara yang sederhana. Beliau duduk bersama Jabir, menanyakan keadaannya, dan mendoakannya.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah berdoa untuk Jabir: "Semoga Allah memberkahinya dalam rumahnya dan keluarganya." Doa ini dikabulkan Allah — Jabir menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan rumahnya menjadi tempat berkumpulnya para penuntut ilmu.

Hikmahnya: seorang pemimpin yang baik adalah yang hadir di tengah rakyatnya, bukan yang menjauh dan hanya muncul saat ada kepentingan. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada kendaraan atau jabatan, tetapi pada akhlak dan kepedulian.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani tawadhu' Nabi ﷺ — jangan merasa gengsi untuk mengunjungi saudara, tetangga, atau orang yang membutuhkan bantuan, meskipun kita memiliki kedudukan atau kemampuan.
  2. Perhatikan keadaan sahabat dan keluarga — kunjungan dan perhatian adalah bentuk kasih sayang yang diajarkan Islam.
  3. Jangan ukur kemuliaan dengan kendaraan atau penampilan — kemuliaan di sisi Allah adalah dengan ketakwaan dan akhlak yang baik.
  4. Doakan orang yang sedang kesulitan — sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan Jabir, doa adalah bentuk bantuan yang paling utama.
  5. Ambil pelajaran dari keutamaan Jabir — kesabaran dan keteguhan beliau dalam menghadapi ujian hidup menjadi contoh bagi kita semua.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?