Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3844 tentang Keutamaan Amru bin Al-As dan keislamannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi pujian Nabi ﷺ terhadap keislaman dan keimanan 'Amr bin Al-'As radhiyallahu 'anhu, yang masuk Islam belakangan namun keimanannya tulus. Namun Imam At-Tirmidzi sendiri menilai sanad hadits ini gharib (asing) dan tidak kuat, karena melalui Ibnu Lahi'ah dari Misyrah bin Ha'an. Maka hadits ini tidak bisa dijadikan sandaran utama untuk menetapkan keutamaan secara mandiri, meski maknanya sejalan dengan pujian Nabi ﷺ kepada 'Amr bin Al-'As dalam riwayat lain yang lebih kuat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang ditanyakan (At-Tirmidzi no. 3844):

Teks Arab haditsnya sebagaimana Anda sebutkan, dan setelah menyebutkannya Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Ibnu Lahi'ah dari Misyrah bin Ha'an, dan sanadnya tidak kuat."

Hadits penguat dari jalur yang lebih kuat — Shahih Al-Bukhari & Muslim:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

> «ابْنَا الْعَاصِ: عَمْرٌو وَهِشَامٌ»

"Kedua anak Al-'Ash: 'Amr dan Hisyam." — yakni keduanya termasuk orang-orang yang beriman dan berhijrah. (Disebutkan Al-Bukhari dalam kitab Manaqib, dan Muslim dalam kitab Al-Fadha'il)

Ayat yang relevan tentang keimanan yang tulus:

QS. Al-Hujurat [49]: 14

> قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ

"Orang-orang Arab Badui berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah: 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah berislam, karena iman belum masuk ke dalam hatimu.'"

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam At-Tirmidzi sendiri melemahkan sanad hadits ini (sebagaimana teks yang Anda bawakan).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan keutamaan 'Amr bin Al-'As melalui riwayat-riwayat yang lebih kuat, bukan melalui jalur Ibnu Lahi'ah.
  • Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' mencatat biografi 'Amr bin Al-'As dan memuji keislamannya serta perannya dalam dakwah dan futuhat.

Penjelasan Rinci

1. Makna lahiriah hadits.

Sabda Nabi ﷺ "Aslama an-nāsu wa āmana 'Amr bin Al-'Āsh" bermakna: banyak manusia masuk Islam secara lahir, sedangkan 'Amr bin Al-'As masuk dengan keimanan yang benar-benar masuk ke dalam hatinya. Ini isyarat bahwa keislaman 'Amr bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi lahir dari keyakinan yang dalam.

2. Kedudukan sanad menurut Imam At-Tirmidzi.

Imam At-Tirmidzi secara jujur menyatakan hadits ini gharib dan sanadnya tidak kuat (laisa isnāduhu bil-qawiyy). Penyebabnya:

  • Ibnu Lahi'ah (Abdullah bin Lahi'ah) — seorang perawi yang dianggap lemah oleh banyak ahli hadits setelah kitabnya terbakar, terutama dalam riwayat dari jalur tertentu.
  • Misyrah bin Ha'an — sebagian ulama menilai periwayatannya tidak kuat.

Karena itu, Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi tidak menjadikan hadits ini sebagai dalil utama, meski mereka tidak menolak maknanya karena didukung riwayat lain.

3. Keutamaan 'Amr bin Al-'As yang shahih.

Yang lebih kuat dan disepakati adalah:

  • Nabi ﷺ mengutusnya memimpin pasukan dalam Perang Dzatus Salasil, dan beliau memuji kepemimpinannya.
  • Nabi ﷺ bersabda tentang dua anak Al-'Ash (Amr dan Hisyam) sebagai orang beriman (Al-Bukhari, Muslim).
  • 'Amr bin Al-'As sendiri berkata: "Tidak ada yang lebih aku cintai daripada Rasulullah ﷺ." (HR. Muslim)

4. Perbedaan pendapat ulama daftar.

  • Imam At-Tirmidzi: hadits ini lemah sanadnya.
  • Ibnu Hajar dan An-Nawawi: keutamaan 'Amr bin Al-'As tetap sahih melalui jalur-jalur lain, sehingga maknanya dapat diterima meski hadits ini secara khusus lemah.
  • Adz-Dzahabi: menegaskan keislaman 'Amr tulus dan ia termasuk pembesar sahabat.

Kesimpulan ilmiah: Hadits ini lemah secara sanad, tetapi maknanya sahih karena didukung riwayat-riwayat lain yang lebih kuat. Tidak boleh dijadikan dalil mandiri, tetapi boleh disebut sebagai penguat.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Muslim bahwa 'Amr bin Al-'As radhiyallahu 'anhu berkata:

> "Tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada Rasulullah ﷺ, dan tidak ada yang lebih agung di mataku daripada beliau. Aku tidak sanggup memandang beliau dengan pandangan penuh karena rasa hormat, dan seandainya aku diminta menggambarkan beliau, aku tidak mampu, karena aku tidak pernah memandangnya dengan mata penuh."

Kisah ini menunjukkan bahwa keimanan 'Amr benar-benar masuk ke dalam hatinya, sebagaimana isyarat hadits yang Anda tanyakan. Ia masuk Islam sebelum Fathu Makkah, lalu menjadi salah satu panglima dan penakluk Mesir. Imam Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai salah satu pembesar sahabat yang berjasa besar dalam dakwah.

Hikmahnya: keimanan yang tulus melahirkan kecintaan dan pengabdian, bukan sekadar status lahiriah.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini lemah sanadnya menurut Imam At-Tirmidzi sendiri, karena melalui Ibnu Lahi'ah dan Misyrah bin Ha'an.
  2. Maknanya sahih dan didukung riwayat lain yang lebih kuat tentang keutamaan 'Amr bin Al-'As.
  3. Jangan jadikan hadits ini dalil mandiri, tetapi boleh disebut sebagai penguat.
  4. Teladani 'Amr bin Al-'As dalam hal keimanan yang tulus, kecintaan kepada Nabi ﷺ, dan pengabdian dalam dakwah.
  5. Bersikap adil terhadap sahabat — mencintai mereka, menahan diri dari mencela, dan mengakui keutamaan mereka sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat sahih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?