Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan Abu Hurairah رضي الله عنه sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi ﷺ, kecuali Abdullah bin Amr رضي الله عنهما yang melebihinya karena beliau menulis hadits sedangkan Abu Hurairah tidak menulis. Hadits ini menunjukkan keutamaan menulis ilmu dan ketekunan dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Kitab Keutamaan Rasulullah ﷺ, Bab Keutamaan Abu Hurairah, nomor 3841, dari jalur Sufyan bin Uyainah — dan beliau termasuk ulama dalam daftar rujukan — dari Amr bin Dinar, dari Wahb bin Munabbih, dari saudaranya Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah رضي الله عنه.
Teks hadits:
لَيْسَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنِّي إِلَّا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَكُنْتُ لَا أَكْتُبُ
Terjemahan: "Tidak ada seorang pun yang lebih banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ dariku, kecuali Abdullah bin Amr, karena sesungguhnya dia menulis sedangkan aku tidak menulis."
Adapun ayat yang relevan tentang perintah menjaga dan menyampaikan ilmu:
وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ
QS. An-Nahl [16]: 19
Terjemahan: "Dan Allah mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan."
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala usaha hamba dalam menjaga dan menyebarkan ilmu, termasuk usaha para sahabat dalam meriwayatkan hadits.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan beberapa pelajaran penting:
Pertama, Abu Hurairah رضي الله عنه mengakui secara jujur bahwa ada sahabat yang lebih banyak meriwayatkan hadits darinya, yaitu Abdullah bin Amr bin al-Ash رضي الله عنهما. Ini menunjukkan sifat tawadhu dan kejujuran beliau. Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Siyar A'lam an-Nubala menyebutkan bahwa Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, dengan jumlah mencapai lebih dari 5.000 hadits.
Kedua, sebab utama Abdullah bin Amr lebih banyak meriwayatkan adalah karena beliau menulis hadits, sedangkan Abu Hurairah tidak menulis. Abdullah bin Amr dikenal memiliki lembaran catatan hadits yang disebut "ash-Shahifah ash-Shadiqah". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menulis hadits adalah sebab terjaganya riwayat secara lebih banyak dan akurat.
Ketiga, hadits ini menunjukkan keutamaan menulis ilmu. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menulis hadits adalah sarana yang sangat kuat untuk menjaga sunnah. Meskipun Abu Hurairah tidak menulis, beliau memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa, yang merupakan karunia dari doa Nabi ﷺ sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.
Keempat, Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Ini menunjukkan bahwa hadits ini dapat dijadikan hujjah dalam bab keutamaan sahabat dan keutamaan menulis ilmu.
Kelima, Sufyan bin Uyainah — yang termasuk dalam daftar ulama rujukan — meriwayatkan hadits ini, menunjukkan perhatian beliau terhadap hadits-hadits keutamaan sahabat. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa para ulama salaf sangat memperhatikan riwayat-riwayat tentang keutamaan sahabat untuk menumbuhkan kecintaan kepada mereka.
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar mengenai makna hadits ini. Semuanya sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Hurairah dan Abdullah bin Amr, serta keutamaan menulis ilmu.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه suatu ketika berkata: "Sesungguhnya kalian mengatakan bahwa Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ. Ketahuilah, aku hanya mengikuti apa yang aku dengar. Dahulu aku adalah orang miskin yang melayani Rasulullah ﷺ dengan perut kenyang, sementara kaum Muhajirin sibuk berdagang di pasar dan kaum Anshar sibuk mengurus harta mereka. Aku selalu hadir di majelis Rasulullah ﷺ."
Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari, Abu Hurairah pernah membentangkan kainnya di hadapan Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ mendoakannya, dan setelah itu Abu Hurairah tidak pernah lupa terhadap hadits yang beliau dengar. Ini menunjukkan bahwa hafalan beliau adalah karunia Allah melalui doa Nabi ﷺ.
Adapun Abdullah bin Amr رضي الله عنهما, beliau pernah meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk menulis hadits, dan Nabi ﷺ mengizinkannya. Sejak itu beliau menulis setiap hadits yang beliau dengar. Inilah yang membuat riwayat beliau sangat banyak dan terjaga.
Hikmah dari kisah ini: ada dua jalan dalam menjaga ilmu — menulis dan menghafal. Keduanya adalah jalan yang mulia. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menyebutkan bahwa menulis ilmu adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga agama, dan menghafal adalah cahaya yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang ikhlas.
Kesimpulan Praktis
- Hendaknya kita meneladani kejujuran dan tawadhu Abu Hurairah رضي الله عنه yang mengakui keutamaan orang lain.
- Menulis ilmu — terutama hadits dan ilmu agama — adalah amalan yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar.
- Menghafal ilmu juga merupakan jalan mulia, namun menulis membantu menjaga ilmu dari lupa dan kesalahan.
- Hendaknya kita mencintai para sahabat Nabi ﷺ dan mengakui keutamaan mereka masing-masing.
- Semangatlah dalam menuntut ilmu dan menyebarkannya, karena itu adalah jalan para sahabat dan salafus shalih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.