Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi wasiat berharga dari sahabat mulia Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu menjelang wafatnya. Beliau menegaskan bahwa ilmu dan iman itu ada tempatnya—siapa yang mencarinya dengan sungguh-sungguh pasti menemukannya—dan beliau menunjuk empat sahabat sebagai rujukan ilmu: Abu Darda, Salman Al-Farisi, Abdullah bin Mas'ud, dan Abdullah bin Salam. Keutamaan Abdullah bin Salam ditegaskan oleh sabda Nabi ﷺ bahwa ia termasuk sepuluh orang yang dijamin masuk surga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi, Kitab Keutamaan Rasulullah ﷺ, Bab Keutamaan Abdullah bin Salam (no. 3804). At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih gharib.
Hadits ini juga memiliki penguat dari jalur lain, sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi bahwa ada riwayat dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu dalam bab yang sama. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim membahas keutamaan Abdullah bin Salam dan para sahabat yang dijamin masuk surga, termasuk hadits tentang sepuluh sahabat yang dijamin surga.
Adapun ayat yang relevan tentang keutamaan ilmu dan iman:
QS. Al-Mujadilah [58]: 11
وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِّن رَّبِّهِ ۗ إِنَّمَا أَنتَ مُنذِرٌ ۖ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ
Catatan: Ayat yang lebih tepat untuk konteks keutamaan ilmu adalah:
QS. Al-Mujadilah [58]: 11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Terjemahan: "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan ahli ilmu di atas orang mukmin biasa, dan bahwa ilmu yang bermanfaat akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dan akhirat. As-Sa'di menambahkan bahwa yang dimaksud adalah ilmu yang disertai iman dan amal.
Penjelasan Rinci
1. Konteks Wasiat Mu'adz bin Jabal
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling berilmu. Nabi ﷺ pernah memuji beliau dengan sabdanya bahwa Mu'adz adalah orang yang paling mengetahui halal dan haram di antara umat ini (diriwayatkan At-Tirmidzi). Ketika ajal menjemputnya, para sahabat meminta wasiat—sebuah tradisi salaf yang menunjukkan betapa mereka menghargai ilmu hingga detik-detik terakhir kehidupan.
2. Makna "Ilmu dan Iman Berada pada Tempatnya"
Ucapan Mu'adz: "Sesungguhnya ilmu dan iman berada pada tempatnya, siapa yang menginginkannya maka ia akan menemukannya" mengandung makna mendalam:
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Daris Sa'adah menjelaskan bahwa ilmu dan iman memiliki "rumah" dan "jalan" yang jelas. Barangsiapa menempuh jalan yang benar—yaitu belajar dari sumber yang sahih dan mengamalkannya—pasti akan mendapatkannya.
- Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' menekankan bahwa ilmu tidak datang sendiri, tetapi harus dicari dengan kesungguhan (tholabul 'ilmi), sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim).
- Mu'adz mengulanginya tiga kali untuk menegaskan urgensi perkara ini, sebagaimana kebiasaan Nabi ﷺ yang mengulang perkataan penting tiga kali agar tertanam dalam hati.
3. Empat Rujukan Ilmu yang Ditunjuk Mu'adz
Mu'adz menyebut empat sahabat sebagai tempat mengambil ilmu:
a. Abu Darda' (Uwaimir bin Zaid) radhiyallahu 'anhu
Dikenal sebagai hakim umat dan ahli hikmah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa Abu Darda' adalah teladan dalam zuhud dan ilmu.
b. Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu
Sahabat yang mencari kebenaran dari Persia hingga Madinah. Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' mencatat bahwa Salman adalah simbol pencari ilmu yang gigih dan ikhlas.
c. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu
Sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dalam hal bacaan Al-Qur'an. Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an sebagaimana diturunkan, hendaklah ia membacanya dari Ibnu Ummi 'Abd (Abdullah bin Mas'ud)" (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh para ulama).
d. Abdullah bin Salam radhiyallahu 'anhu
Seorang ulama Yahudi Bani Israil yang masuk Islam dan dikenal keilmuannya. Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah mencatat bahwa Abdullah bin Salam adalah orang pertama dari Yahudi yang masuk Islam di Madinah, dan ia memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu Taurat dan Islam.
4. Keutamaan Abdullah bin Salam
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya ia adalah yang kesepuluh dari sepuluh di surga." Ini merujuk pada hadits masyhur tentang sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (Al-'Asyarah Al-Mubasysyarun bil Jannah), yang diriwayatkan dalam berbagai kitab hadits. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Abdullah bin Salam termasuk dalam daftar tersebut menurut sebagian riwayat, dan keislamannya adalah bukti kebenaran Nabi ﷺ karena seorang ulama Yahudi yang mengenal kitab-kitab sebelumnya bersaksi atas kenabian beliau.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa Abdullah bin Salam adalah contoh nyata orang yang mencari kebenaran, menemukannya, lalu beriman dengan teguh meski harus berhadapan dengan kaumnya sendiri.
5. Perbedaan Pendapat di Antara Ulama
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang siapa saja yang termasuk sepuluh sahabat yang dijamin surga. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa daftar tersebut bervariasi dalam riwayat, namun yang paling masyhur adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'd bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, Abdurrahman bin 'Auf, dan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah. Adapun penyebutan Abdullah bin Salam sebagai "kesepuluh" dalam hadits ini menunjukkan keutamaan beliau yang sangat tinggi, dan sebagian ulama menggabungkannya dengan daftar tersebut.
Pendapat yang paling kuat: Hadits ini menunjukkan keutamaan Abdullah bin Salam secara khusus, dan tidak bertentangan dengan daftar sepuluh sahabat yang masyhur, karena keutamaan dari Allah tidak terbatas pada sepuluh orang saja.
Story Telling
Kisah Abdullah bin Salam: Pencarian Kebenaran Seorang Ulama Yahudi
Abdullah bin Salam adalah seorang ulama besar Yahudi di Madinah. Ia mengenal betul isi Taurat dan tanda-tanda kedatangan Nabi terakhir. Ketika mendengar kedatangan Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah, ia segera menyelidiki.
Ia mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya tentang beberapa perkara yang hanya bisa dijawab oleh seorang nabi. Setelah mendapat jawaban yang sesuai dengan pengetahuannya dari Taurat, ia pun bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Namun, ketika ia mengumumkan keislamannya kepada kaum Yahudi, mereka justru mencela dan merendahkannya, bahkan menuduhnya pendusta.
Abdullah bin Salam berkata: "Aku telah mengenal Muhammad ﷺ dari Taurat sebelum aku melihatnya. Aku tahu tanda-tandanya."
Nabi ﷺ kemudian memuji beliau dan menyebutnya sebagai salah satu penghuni surga. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mencatat bahwa Abdullah bin Salam adalah bukti hidup bahwa ilmu yang benar akan membawa kepada iman yang benar.
Hikmah: Ilmu yang tulus akan membawa pemiliknya kepada kebenaran, meski harus menghadapi penolakan dari orang-orang terdekat. Sebagaimana kata Mu'adz: "Siapa yang menginginkan ilmu dan iman, ia akan menemukannya."
Kesimpulan Praktis
- Carilah ilmu dengan sungguh-sungguh — ilmu dan iman memiliki jalan yang jelas; siapa yang menempuhnya dengan ikhlas akan mendapatkannya.
- Belajarlah dari sumber yang terpercaya — Mu'adz menunjuk para sahabat yang dikenal keilmuannya, bukan sembarang orang. Ini mengajarkan pentingnya mengambil ilmu dari ahlinya.
- Hargai keutamaan para sahabat — Abdullah bin Salam dan para sahabat mulia lainnya adalah teladan dalam ilmu, iman, dan pengorbanan.
- Jangan tertipu dengan asal-usul — Abdullah bin Salam dulunya Yahudi, namun keislamannya mengangkat derajatnya. Yang dinilai Allah adalah iman dan amal, bukan latar belakang.
- Berwasiatlah dengan ilmu — Mu'adz hingga akhir hayatnya mengingatkan umat tentang ilmu. Jadikan ilmu sebagai warisan yang paling berharga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.