Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3800 tentang Keutamaan Ammar bin Yasir dan kabar gembira baginya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ kepada 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu bahwa beliau akan syahid di tangan kelompok yang melampaui batas (al-fi'ah al-baghiyah). Hadits ini menjadi salah satu tanda kenabian yang terbukti ketika 'Ammar terbunuh dalam Perang Shiffin di pihak Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan yang membunuhnya adalah pasukan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu. Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebenaran pihak Ali dan kesalahan pihak Mu'awiyah dalam fitnah tersebut, namun tetap menjaga adab terhadap para sahabat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi no. 3800, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
  • Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 2812, dari Abu Hurairah
  • Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2915, dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha

Teks Hadits (At-Tirmidzi):

حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ الْمَدَنِيُّ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ‏"‏ أَبْشِرْ عَمَّارُ تَقْتُلُكَ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ ‏"‏

Terjemahan: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bergembiralah, wahai 'Ammar, kelompok yang melampaui batas akan membunuhmu."

Penjelasan Ulama:

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (18/22) menjelaskan: "Hadits ini termasuk mukjizat kenabian yang jelas. 'Ammar terbunuh dalam Perang Shiffin bersama Ali bin Abi Thalib, dan yang membunuhnya adalah pasukan Mu'awiyah. Maka kelompok yang melampaui batas (al-fi'ah al-baghiyah) adalah pasukan Mu'awiyah, dan kelompok yang berada di atas kebenaran adalah pasukan Ali."

Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari (7/57) mengatakan: "Hadits ini menunjukkan bahwa 'Ammar akan dibunuh oleh kelompok yang melampaui batas. Ini terjadi di Shiffin, dan yang membunuhnya adalah tentara Mu'awiyah. Maka ini menjadi bukti bahwa Ali berada di atas kebenaran dalam perang tersebut."

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 2812) bahwa ketika 'Ammar terbunuh, Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma berkata: "Demi Allah, sungguh aku telah melihat hadits ini dari Rasulullah ﷺ, maka aku tidak ikut berperang lagi." Lalu ia mendatangi Mu'awiyah dan berkata: "Engkau telah membunuh 'Ammar, padahal Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kelompok yang melampaui batas akan membunuhnya.'" Maka Mu'awiyah menjawab: "Kami tidak membunuhnya, yang membunuhnya adalah Ali dan para pengikutnya yang membawanya ke medan perang."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dalam Minhajus Sunnah (4/399) menjelaskan: "Hadits ini shahih dan menunjukkan bahwa kelompok yang membunuh 'Ammar adalah kelompok yang melampaui batas. Namun para sahabat yang terlibat dalam perang Shiffin semuanya memiliki ijtihad. Mu'awiyah dan pengikutnya tidak dihukumi kafir, tetapi mereka bersalah karena memerangi khalifah yang sah. Dan Allah telah memaafkan mereka karena ijtihad mereka."

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi ﷺ yang memberitakan peristiwa yang akan terjadi puluhan tahun setelah wafatnya. 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu adalah sahabat mulia yang masuk Islam sejak awal, disiksa bersama orang tuanya, dan ayahnya Yasir serta ibunya Sumayyah menjadi syuhada pertama dalam Islam.

Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Bergembiralah" (ab syir) — ini adalah kabar gembira bahwa ia akan mati syahid, yang merupakan puncak cita-cita seorang mukmin sejati. Lalu Nabi ﷺ memberitahu bahwa yang membunuhnya adalah "al-fi'ah al-baghiyah" yaitu kelompok yang melampaui batas, yang berbuat zalim dengan memerangi imam yang sah.

Peristiwa ini benar-benar terjadi pada Perang Shiffin tahun 37 H antara Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu. 'Ammar yang saat itu berusia sekitar 90 tahun ikut berperang di pihak Ali dan terbunuh oleh pasukan Mu'awiyah.

Pemahaman Ulama Ahlus Sunnah:

  1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyyah menjelaskan: "Hadits ini menunjukkan bahwa Ali dan pengikutnya berada di atas kebenaran dalam perang Shiffin, karena Nabi ﷺ menyebut lawan mereka sebagai kelompok yang melampaui batas. Namun kita tidak boleh mencela Mu'awiyah dan para sahabat yang bersamanya, karena mereka berijtihad dan salah dalam ijtihadnya, dan Allah telah memaafkan mereka."
  2. Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) dalam Majmu' Fatawa (5/365) berkata: "Kita wajib menahan diri dari apa yang terjadi antara para sahabat. Kita mencintai Ali dan Mu'awiyah, dan kita tahu bahwa Ali adalah khalifah yang sah, sedangkan Mu'awiyah berijtihad dan salah. Namun kita tidak boleh mencela atau membenci Mu'awiyah, karena ia adalah sahabat Nabi yang mulia."
  3. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah (no. 154) berkata: "Apabila disebutkan apa yang terjadi antara para sahabat, kita diam dan tidak memperbanyak pembicaraan. Kita mencintai semuanya dan tidak boleh mencela seorang pun dari mereka."

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 2812) dari Ikrimah, bahwa ketika 'Ammar bin Yasir terbunuh dalam Perang Shiffin, berita itu sampai kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Maka ia berkata kepada putranya: "Pergilah kepada Ali dan katakan: 'Apakah engkau telah membunuh 'Ammar?'" Putranya pergi dan bertanya kepada Ali. Ali menjawab: "Yang membunuh 'Ammar hanyalah orang yang membawanya ke medan perang." Maka Abdullah bin Amr berkata: "Kalau begitu, aku tidak akan ikut berperang lagi." Ia pun mendatangi Mu'awiyah dan berkata: "Engkau telah membunuh 'Ammar, padahal Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kelompok yang melampaui batas akan membunuhnya.'" Maka Mu'awiyah menjawab: "Kami tidak membunuhnya, yang membunuhnya adalah Ali dan para pengikutnya yang membawanya ke medan perang."

Hikmah dari kisah ini:

  1. Kejujuran para sahabat — Abdullah bin Amr langsung mengakui kebenaran hadits ini dan meninggalkan peperangan.
  2. Ijtihad para sahabat — Mu'awiyah juga berijtihad dengan alasannya sendiri, meskipun ijtihadnya keliru.
  3. Adab terhadap sahabat — Kita tidak boleh mencela Mu'awiyah atau para sahabat lainnya, karena mereka semua memiliki keutamaan dan Allah telah memaafkan kesalahan ijtihad mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits ini adalah mukjizat kenabian yang membuktikan kebenaran risalah Muhammad ﷺ.
  2. 'Ammar bin Yasir adalah sahabat yang mulia dan mati syahid sebagaimana dijanjikan Nabi ﷺ.
  3. Ali bin Abi Thalib berada di atas kebenaran dalam perang Shiffin, karena lawannya disebut sebagai kelompok yang melampaui batas.
  4. Kita tidak boleh mencela Mu'awiyah dan para sahabat yang bersamanya, karena mereka berijtihad dan telah dimaafkan Allah.
  5. Kita wajib menahan lisan dari apa yang terjadi antara para sahabat, dan mencintai mereka semua.
  6. Hadits ini mengajarkan bahwa kabar gembira berupa syahid adalah anugerah terbesar bagi seorang mukmin.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.