Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3774 tentang Keutamaan dan kasih sayang kepada Al-Hasan dan Al-Husain

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa agungnya cinta dan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada kedua cucunya, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhuma. Saat berkhutbah, beliau tidak ragu turun dari mimbar untuk menggendong mereka yang terjatuh, lalu mengutip ayat Al-Qur'an tentang anak sebagai ujian. Ini mengajarkan bahwa kasih sayang kepada keluarga, terutama anak kecil, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicontohkan Nabi ﷺ, dan tidak mengurangi kewibawaan seorang pemimpin atau pendakwah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang dikutip Nabi ﷺ dalam hadits:

QS. At-Taghabun [64]: 15

Teks Arab:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Terjemahan:

"Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah ujian (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar."

Hadits:

Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 3774, dari sahabat Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini menunjukkan bolehnya seorang imam atau khatib menghentikan khutbah untuk kemaslahatan yang mendesak, seperti menenangkan anak kecil atau mengangkatnya.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menukil dari para ulama bahwa tindakan Nabi ﷺ ini adalah bentuk pengamalan ayat tentang kasih sayang dan perhatian terhadap keluarga, serta mengajarkan tawadhu' (rendah hati) kepada umatnya.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan seorang khatib turun dari mimbar karena ada keperluan yang mendesak, dan ini tidak membatalkan khutbah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh sahabat Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu 'anhu. Beliau menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ sedang menyampaikan khutbah Jum'at atau khutbah lainnya. Tiba-tiba, dua cucu beliau, Al-Hasan dan Al-Husain yang masih kecil-kecil, datang dengan mengenakan baju merah (atau bergaris merah) sambil berjalan dan sesekali terjatuh karena usia mereka yang masih belia.

Melihat hal itu, hati Rasulullah ﷺ yang penuh kasih sayang tidak bisa menahan diri. Beliau segera turun dari mimbar, menghentikan khutbahnya, lalu menggendong kedua cucunya dan meletakkan mereka di hadapannya. Setelah itu, beliau bersabda, "Allah telah berkata benar: 'Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian (fitnah).'" Lalu beliau menjelaskan bahwa melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh membuat beliau tidak sabar hingga harus menghentikan khutbah dan mengangkat mereka.

Pelajaran dari hadits ini menurut para ulama:

  1. Kasih Sayang yang Agung: Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah puncak kasih sayang Nabi ﷺ kepada keluarga dan anak kecil. Beliau tidak menganggap turun dari mimbar sebagai suatu kehinaan, justru ini adalah akhlak mulia yang diajarkan kepada umatnya.
  2. Kebolehan Menghentikan Khutbah untuk Keperluan Mendesak: Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa seorang khatib boleh memutuskan khutbahnya sejenak untuk suatu kemaslahatan, seperti menolong orang yang kesusahan atau menenangkan anak kecil. Ini tidak membatalkan khutbah, dan setelah selesai, khatib dapat melanjutkan khutbahnya.
  3. Tafsir Ayat tentang Anak sebagai Ujian: Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini (QS. At-Taghabun: 15) mengingatkan bahwa harta dan anak bisa menjadi fitnah (ujian) jika membuat seseorang lalai dari ketaatan kepada Allah. Namun, dalam hadits ini, Nabi ﷺ justru menunjukkan bagaimana seharusnya menyikapi ujian tersebut dengan penuh kasih sayang dan tidak melupakan tanggung jawab. Anak adalah amanah yang harus disayangi dan dididik, bukan diabaikan.
  4. Tawadhu' (Rendah Hati) Pemimpin: Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah contoh tawadhu' seorang pemimpin. Beliau tidak sombong untuk turun dari tempat yang tinggi demi menggendong anak kecil. Ini adalah pelajaran bagi para pemimpin dan pendakwah agar tidak merasa besar diri.

Story Telling

Kisah ini mengingatkan kita pada kecintaan luar biasa Nabi ﷺ kepada Al-Hasan dan Al-Husain. Dalam riwayat lain dari sahabat Ya'la bin Murrah radhiyallahu 'anhu (HR. At-Tirmidzi), diceritakan bahwa suatu ketika Al-Hasan dan Al-Husain berlari-lari kecil menuju Rasulullah ﷺ. Beliau lalu memeluk mereka dan mencium mereka. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya anak-anak ini adalah buah hatiku dan penyejuk mataku di dunia." (HR. At-Tirmidzi, hasan).

Bahkan, dalam sebuah hadits shahih riwayat Al-Bukhari, disebutkan bahwa ketika Al-Hasan dan Al-Husain naik ke punggung Nabi ﷺ saat beliau sujud dalam shalat, beliau memanjangkan sujudnya agar mereka tidak terjatuh. Ini semua menunjukkan betapa lembutnya hati Nabi ﷺ kepada anak-anak. Hikmahnya, kita diajarkan untuk meniru akhlak beliau dalam memperlakukan anak-anak dengan penuh cinta dan kesabaran, karena mereka adalah amanah dan perhiasan kehidupan dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah anak-anak dengan kasih sayang yang tulus, sebagaimana Rasulullah ﷺ mencintai Al-Hasan dan Al-Husain.
  2. Janganlah merasa gengsi atau sombong untuk menunjukkan perhatian kepada anak kecil, meskipun dalam situasi formal sekalipun.
  3. Pahami bahwa anak adalah ujian (fitnah) yang harus disikapi dengan tanggung jawab, kasih sayang, dan pendidikan yang baik, bukan dengan kekerasan atau pengabaian.
  4. Teladani kesabaran dan kelembutan Nabi ﷺ dalam berinteraksi dengan keluarga, karena itu adalah bagian dari akhlak Islam yang mulia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.