Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3763 tentang Keutamaan Ja'far bin Abi Thalib di surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi kabar dari Nabi ﷺ bahwa beliau melihat Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu terbang di surga bersama para malaikat. Namun Imam at-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib (jalur periwayatannya jarang), dan Imam Yahya bin Ma'in serta ulama lain melemahkannya (dha'if). Karena itu, kita tidak menjadikannya sebagai dalil pokok, tetapi tetap menghormati keutamaan Ja'far yang shahih dari hadits-hadits lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ja'far bin Abi Thalib (no. 3763), dari jalur:

عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ → عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ → الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ → أَبِيهِ → أَبُو هُرَيْرَةَ

Teks sabda Nabi ﷺ:

رَأَيْتُ جَعْفَرًا يَطِيرُ فِي الْجَنَّةِ مَعَ الْمَلَائِكَةِ

"Aku melihat Ja'far terbang di surga bersama para malaikat."

Setelah menyebutkannya, Imam at-Tirmidzi berkata:

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، وَقَدْ ضَعَّفَهُ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَغَيْرُهُ

"Ini hadits gharib dari riwayat Abu Hurairah; kami tidak mengetahuinya kecuali dari riwayat Abdullah bin Ja'far. Dan Yahya bin Ma'in serta selainnya melemahkannya."

Adapun dalil yang shahih tentang keutamaan Ja'far, di antaranya hadits dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Ja'far:

أَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي

"Engkau menyerupai bentuk dan akhlakku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Rinci

Pertama: kedudukan hadits ini secara ilmiah.

Imam at-Tirmidzi secara jujur menyebutkan bahwa hadits ini gharib, yaitu jalur periwayatannya tidak dikenal kecuali melalui Abdullah bin Ja'far. Beliau juga menukil penilaian Yahya bin Ma'in — salah satu imam jarh wa ta'dil yang sangat teliti — bahwa hadits ini dha'if (lemah). Ini menunjukkan kejujuran dan ketelitian ulama hadits dalam menyampaikan riwayat, meskipun berisi keutamaan.

Kedua: siapa Abdullah bin Ja'far ini.

Imam at-Tirmidzi menyebutkan bahwa Abdullah bin Ja'far adalah ayah dari Ali bin al-Madini (ulama besar ahli hadits). Sebagian ulama hadits menilai ada kelemahan pada hafalannya, sehingga riwayatnya yang menyendiri (tafarrud) perlu ditinjau. Inilah yang menjadi dasar pelemahan hadits ini.

Ketiga: makna "terbang di surga".

Secara makna, ini menggambarkan keutamaan besar Ja'far radhiyallahu 'anhu. Namun karena haditsnya lemah, para ulama seperti Ibn Hajar al-Asqalani dan Ibnu Katsir tidak menjadikannya sebagai landasan akidah atau keutamaan yang pasti. Keutamaan Ja'far yang shahih justru lebih kuat dan mencukupi, seperti sabda Nabi ﷺ bahwa ia menyerupai bentuk dan akhlaknya, serta kedudukannya sebagai pemimpin pasukan di Perang Mu'tah.

Keempat: sikap ulama terhadap hadits dha'if dalam manaqib.

Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibn Hajar membolehkan meriwayatkan hadits dha'if dalam bab keutamaan amal (fadha'il) dengan syarat: (1) tidak terlalu lemah, (2) tidak diyakini sebagai sabda Nabi ﷺ yang pasti, dan (3) tidak dijadikan dasar hukum. Namun untuk keutamaan pribadi seseorang (manaqib), sikap yang lebih hati-hati adalah tidak memastikan apa yang tidak shahih, dan cukup dengan yang shahih.

Kelima: kesimpulan ilmiah.

Hadits ini dha'if menurut penilaian Yahya bin Ma'in dan lainnya, sebagaimana disebutkan Imam at-Tirmidzi sendiri. Karena itu, kita tidak boleh memastikan bahwa Nabi ﷺ benar-benar melihat Ja'far terbang di surga berdasarkan hadits ini. Yang shahih dan cukup adalah keutamaan-keutamaan Ja'far yang lain.

Story Telling

Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sepupu Nabi ﷺ dan saudara Ali bin Abi Thalib. Ia termasuk orang yang berhijrah ke Habasyah dan berani berbicara di hadapan Raja Najasyi membela Islam. Dalam Perang Mu'tah, ia diangkat sebagai pemimpin pasukan setelah Zaid bin Haritsah. Ketika Zaid gugur, Ja'far mengambil bendera, lalu kedua tangannya terputus, dan ia tetap memegang bendera hingga syahid. Karena itu Nabi ﷺ menyebutnya "Dzul Janahain" (pemilik dua sayap) — sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat yang masyhur di kitab-kitab sirah dan manaqib. Inilah asal mula gambaran "terbang di surga", yaitu kiasan dari para ulama atas pengorbanan kedua tangannya di jalan Allah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishabah dan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan kisah syahidnya Ja'far di Mu'tah dan gelar "Dzul Janahain" ini. Hikmahnya: pengorbanan di jalan Allah tidak akan sia-sia, dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits no. 3763 ini dha'if menurut Imam at-Tirmidzi, Yahya bin Ma'in, dan ulama lain. Jangan memastikan isinya sebagai sabda Nabi ﷺ yang shahih.
  2. Keutamaan Ja'far radhiyallahu 'anhu tetap agung berdasarkan hadits-hadits shahih, seperti sabda Nabi ﷺ bahwa ia menyerupai bentuk dan akhlaknya, serta syahidnya di Perang Mu'tah.
  3. Bersikap adil dan ilmiah: kita menghormati Imam at-Tirmidzi yang jujur menyebut kelemahan haditsnya, dan kita tidak memaksakan hadits dha'if sebagai dalil.
  4. Ambil pelajaran: keberanian, pengorbanan, dan kecintaan Ja'far kepada Allah dan Rasul-Nya adalah teladan bagi kita.
  5. Untuk keutamaan pribadi, cukupkan dengan yang shahih, dan jangan menyebarkan yang lemah seolah-olah pasti.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?