Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar sahabat Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu. Rasulullah ﷺ mengumpulkan kedua orang tuanya sebagai tebusan untuk Az-Zubair, sebuah ungkapan penghormatan dan kecintaan yang sangat tinggi yang tidak pernah beliau ucapkan kepada sahabat lain dalam konteks seperti ini. Ini adalah keistimewaan khusus yang menunjukkan kedudukan Az-Zubair di sisi Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat At-Tirmidzi:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Az-Zubair bin Al-Awwam radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih (derajatnya baik dan sahih).
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman tentang para sahabat yang berjuang di jalan-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya."
(QS. Al-Baqarah [2]: 207)
Ayat ini turun tentang pengorbanan para sahabat, dan Az-Zubair termasuk di antara mereka yang berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan Allah.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits:
Ungkapan "بِأَبِي وَأُمِّي" (demi ayahku dan ibuku sebagai tebusan) adalah ungkapan Arab yang digunakan untuk menunjukkan kecintaan dan penghormatan yang sangat mendalam. Ketika seseorang berkata demikian, maknanya: "Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu" — yaitu, jika ada bahaya yang akan menimpamu, maka aku rela ayah dan ibuku yang menjadi korbannya.
Konteks Peristiwa:
Peristiwa ini terjadi pada Perang Ahzab (Perang Khandaq), tepatnya pada peristiwa Bani Quraizhah. Setelah kaum musyrikin mundur dari Madinah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukan untuk menuju perkampungan Bani Quraizhah yang telah mengkhianati perjanjian. Beliau bersabda: "Janganlah seseorang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Az-Zubair bin Al-Awwam termasuk di antara pasukan yang bergerak cepat menuju Bani Quraizhah. Dalam perjalanan atau saat tiba di lokasi, Rasulullah ﷺ melihat Az-Zubair dalam keadaan siap berjuang, lalu beliau mengucapkan ungkapan tersebut.
Penjelasan Ulama:
Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, sebagaimana disebutkan dalam riwayat di atas.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ungkapan "bidadi wa ummi" dari Nabi ﷺ kepada Az-Zubair menunjukkan keutamaan yang sangat besar. Beliau menukil bahwa para ulama menyebutkan, Nabi ﷺ tidak pernah mengucapkan ungkapan ini kepada sahabat lain dalam konteks yang sama, kecuali kepada Az-Zubair.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah bentuk kasih sayang dan penghormatan Nabi ﷺ kepada sahabatnya, dan tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk kesyirikan — karena ini murni ungkapan bahasa Arab yang menunjukkan kecintaan, bukan doa kepada selain Allah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa keutamaan Az-Zubair ini menunjukkan bahwa beliau adalah salah satu sahabat yang sangat dicintai Rasulullah ﷺ. Az-Zubair termasuk Al-Asyrah Al-Mubasyarun bil Jannah (sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga), dan termasuk salah satu dari enam anggota majelis syura yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Az-Zubair, dan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan ungkapan ini karena melihat pengorbanan dan kesungguhan Az-Zubair dalam berjuang di jalan Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Az-Zubair bin Al-Awwam adalah salah satu sahabat yang paling berani dan kuat. Beliau adalah sepupu Nabi ﷺ (putra dari Shafiyyah binti Abdul Muththalib, bibi Nabi ﷺ) dan juga suami dari Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha.
Pada Perang Yarmuk, Az-Zubair menunjukkan keberanian yang luar biasa. Diriwayatkan bahwa beliau memiliki bekas luka di tubuhnya — dari tombak, panah, dan pedang — hingga para sahabat lain heran melihatnya. Putranya, Urwah bin Az-Zubair, berkata: "Aku melihat bekas luka di tubuh ayahku akibat peperangan, dan di antaranya ada bekas luka yang sangat dalam. Aku bertanya, 'Apa ini?' Beliau menjawab, 'Ini bekas luka dari Perang Badar.'"
Az-Zubair juga termasuk sahabat yang sangat dermawan. Beliau berkata: "Tidaklah aku memiliki satu ayat pun dari Al-Qur'an kecuali aku telah memahaminya, dan tidaklah aku memiliki harta kecuali aku telah menginfakkannya di jalan Allah."
Hikmah dari kisah ini: Kedudukan tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya tidak datang dengan sendirinya — ia diperoleh melalui pengorbanan, keikhlasan, dan kesungguhan dalam berjuang. Az-Zubair mendapatkan penghormatan khusus dari Nabi ﷺ karena pengorbanannya yang tulus.
Kesimpulan Praktis
- Menghormati para sahabat adalah bagian dari iman. Kita mencintai mereka dan mengakui keutamaan mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits.
- Pengorbanan di jalan Allah akan dibalas dengan kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat. Az-Zubair mendapatkan penghormatan dari Nabi ﷺ karena pengorbanannya.
- Ungkapan kasih sayang kepada sesama muslim yang berjuang adalah hal yang baik, selama tidak mengandung unsur syirik atau berlebihan.
- Meneladani semangat juang Az-Zubair dalam membela agama Allah, sesuai kemampuan dan bidang masing-masing.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.