Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Manaqib (keutamaan para sahabat) tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini menunjukkan doa Nabi ﷺ agar didatangkan orang yang paling dicintai Allah untuk makan bersamanya, dan yang datang adalah Ali. Namun perlu diketahui, para ulama ahli hadits berbeda pendapat tentang keshahihan hadits ini. Sebagian menganggapnya hasan, sebagian lain menganggapnya lemah karena jalur periwayatannya. Kita tetap harus meyakini keutamaan Ali yang banyak disebut dalam hadits-hadits shahih lainnya, tanpa perlu berlebihan (ghuluw) sebagaimana dilakukan oleh sebagian kelompok.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Manaqib tentang Rasulullah ﷺ, nomor 3721. Teks haditsnya:
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، قَالَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، عَنْ عِيسَى بْنِ عُمَرَ، عَنِ السُّدِّيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ كَانَ عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ طَيْرٌ فَقَالَ " اللَّهُمَّ ائْتِنِي بِأَحَبِّ خَلْقِكَ إِلَيْكَ يَأْكُلُ مَعِي هَذَا الطَّيْرَ " . فَجَاءَ عَلِيٌّ فَأَكَلَ مَعَهُ
Maknanya: Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Ada seekor burung di sisi Nabi ﷺ, maka beliau berdoa: 'Ya Allah, kirimkanlah kepadaku makhluk-Mu yang paling Engkau cintai untuk makan burung ini bersamaku.' Maka datanglah Ali dan makan bersamanya."
Imam At-Tirmidzi sendiri setelah meriwayatkan hadits ini berkata: "Hadits ini gharib (asing), kami tidak mengetahuinya dari hadits As-Suddi kecuali dari jalur ini. Dan hadits ini telah diriwayatkan dari beberapa jalur lain dari Anas."
Beliau juga menyebutkan bahwa perawi bernama As-Suddi (Isma'il bin Abdurrahman) telah bertemu dengan Anas bin Malik dan melihat Al-Husain bin Ali, dan beliau ditsiqahkan (dinilai terpercaya) oleh Syu'bah, Sufyan Ats-Tsauri, Zaidah, dan Yahya bin Sa'id Al-Qaththan—semuanya termasuk ulama dalam daftar rujukan kita.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat tentang status hadits ini:
Pertama: Pendapat yang menganggap hadits ini shahih atau hasan
Sebagian ulama memandang hadits ini memiliki penguat dari jalur lain. Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur dari Anas. Di antara ulama yang membawakan hadits ini dan menganggapnya sebagai keutamaan Ali adalah para ulama ahli hadits yang mencatatnya dalam kitab-kitab mereka.
Kedua: Pendapat yang menganggap hadits ini lemah
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Adh-Dha'ifah dan Dha'if At-Tirmidzi menilai hadits ini lemah (dha'if). Alasannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Sufyan bin Waki'—putra dari Imam Waki' bin Al-Jarrah—yang dinilai oleh para ulama hadits sebagai perawi yang lemah. Imam Adz-Dzahabi dan para ulama jarh wa ta'dil menyebutkan bahwa Sufyan bin Waki' memiliki kekeliruan dalam periwayatan.
Namun perlu dicatat: meskipun hadits ini dinilai lemah oleh sebagian ulama, keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tidak diragukan lagi karena banyak hadits shahih lain yang menyebutkan keutamaannya, seperti hadits tentang kedudukannya di sisi Nabi ﷺ, pernikahannya dengan Fatimah, ilmunya yang dalam, keberaniannya, dan lain-lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa keutamaan Ali radhiyallahu 'anhu adalah perkara yang disepakati oleh Ahlus Sunnah. Beliau adalah salah satu dari Khulafa'ur Rasyidin dan termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Namun Ahlus Sunnah tidak berlebihan dalam mencintainya sebagaimana dilakukan kaum Syi'ah, dan tidak pula membencinya sebagaimana dilakukan kaum Khawarij.
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata tentang Ali radhiyallahu 'anhu: "Ali memiliki keutamaan yang banyak, dan barangsiapa mengingkari keutamaannya maka ia telah keluar dari jalan yang benar." Namun beliau juga menegaskan bahwa Abu Bakar dan Umar lebih utama darinya berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu masuk dan makan bersama Nabi ﷺ dalam peristiwa hadits ini, itu menunjukkan kedekatan Ali dengan Nabi ﷺ. Namun ada kisah yang lebih shahih dan lebih agung tentang keutamaan Ali, yaitu ketika Rasulullah ﷺ bersabda dalam Perang Khaibar:
"أَلأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلاً يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ"
"Sungguh akan aku berikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya pun mencintainya."
Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ memanggil Ali yang sedang sakit mata, lalu beliau meludahi mata Ali dan mendoakannya, maka sembuhlah mata Ali seketika. Kemudian beliau memberikan bendera itu kepadanya, dan Allah menaklukkan Khaibar melalui tangan Ali. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa keutamaan Ali tidak perlu diragukan, dan kita sebagai Ahlus Sunnah mencintai Ali dengan cinta yang wajar, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkannya.
Kesimpulan Praktis
- Hadits tentang burung ini diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, namun sebagian ulama ahli hadits menilai sanadnya lemah karena ada perawi yang dinilai bermasalah.
- Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah perkara yang pasti dan tidak perlu diragukan, berdasarkan banyak dalil shahih lainnya.
- Sikap Ahlus Sunnah terhadap Ali adalah mencintainya, menghormatinya, dan mengakui keutamaannya tanpa berlebihan (ghuluw) seperti Syi'ah, dan tanpa membencinya seperti Khawarij.
- Kita tidak boleh menjadikan hadits yang lemah sebagai dasar keyakinan atau keutamaan khusus, namun kita boleh menyebutkannya dengan menjelaskan statusnya.
- Yang terpenting adalah mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih dengan pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.