Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3705 tentang Keutamaan Utsman dan perintah sabar mempertahankan kekhalifahan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar ghaib dari Nabi ﷺ kepada Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu tentang fitnah besar yang akan menimpanya di akhir hayat. "Baju" (qamiish) dalam hadits ini adalah simbol kekhalifahan. Nabi ﷺ memerintahkan Utsman untuk bersabar dan tidak melepaskan kekhalifahan tersebut, meskipun orang-orang menginginkannya dicopot. Ini adalah wasiat kesabaran di tengah ujian yang sangat berat, dan Utsman radhiyallahu 'anhu telah menunaikannya dengan mulia hingga beliau syahid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi (no. 3705) dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Utsman:

"يَا عُثْمَانُ إِنَّهُ لَعَلَّ اللَّهَ يُقَمِّصُكَ قَمِيصًا فَإِنْ أَرَادُوكَ عَلَى خَلْعِهِ فَلاَ تَخْلَعْهُ لَهُمْ"

"Wahai Utsman! Sesungguhnya Allah mungkin memberikanmu sebuah baju (kekhalifahan), dan jika mereka menginginkan engkau melepaskannya, maka janganlah engkau lepaskan untuk mereka."

Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan gharib." Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Ibnu Majah dalam Sunan-nya dari jalur lain.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan makna sabar dalam memimpin dan tidak menyerah pada tekanan:

QS. Al-Maidah [5]: 54

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela."

Ayat ini menggambarkan sifat pemimpin yang benar: tidak takut pada celaan dan tekanan ketika berada di atas kebenaran.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk mukjizat Nabi ﷺ yang mengabarkan perkara ghaib. Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah Sunan At-Tirmidzi) menukil penjelasan para ulama bahwa yang dimaksud "qamiish" (baju) di sini adalah kekhalifahan. Ini sebagaimana orang Arab biasa mengibaratkan kekuasaan sebagai pakaian yang dipakai dan dilepas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa Utsman radhiyallahu 'anhu memahami wasiat ini dengan sangat baik. Beliau tidak mau melepaskan kekhalifahan karena itu adalah amanah dari Allah dan wasiat dari Rasulullah ﷺ. Meskipun beliau dikepung di rumahnya selama berhari-hari, dituntut turun dari jabatan, bahkan diancam akan dibunuh, beliau tetap teguh. Utsman berkata: "Demi Allah, aku tidak akan melepaskan baju (kekhalifahan) yang telah dipakaikan Allah kepadaku, meskipun mereka memenggal leherku." Ini menunjukkan pemahaman beliau bahwa menyerahkan kekhalifahan kepada orang-orang yang menuntutnya dengan cara yang batil justru akan membuka pintu kerusakan yang lebih besar.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesabaran Utsman dalam menghadapi fitnah ini adalah bentuk kesabaran yang agung. Beliau memilih untuk bersabar menghadapi pembunuhan daripada menyerahkan urusan kaum muslimin kepada orang-orang yang tidak layak, yang akan menumpahkan darah lebih banyak lagi.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini juga mengajarkan bahwa seorang pemimpin yang sah tidak boleh turun dari jabatannya hanya karena desakan sekelompok orang yang memberontak, selama ia masih mampu menjalankan amanah dan tidak diminta turun oleh ahlul halli wal 'aqdi (para ulama dan tokoh yang berkompeten). Turun karena tekanan pemberontak justru akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ secara khusus memberikan wasiat ini kepadanya. Ini adalah kabar gembira bahwa beliau akan mati syahid dalam keadaan memegang kebenaran.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika para pemberontak mengepung rumah Utsman radhiyallahu 'anhu, mereka mengirim utusan untuk memintanya turun dari kekhalifahan. Maka Utsman radhiyallahu 'anhu berkata kepada mereka:

"Aku bertanya kepada kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: 'Wahai Utsman, sesungguhnya Allah akan memakaikan kepadamu sebuah baju. Jika mereka menginginkan engkau melepaskannya, maka janganlah engkau lepaskan untuk mereka'?"

Mereka menjawab: "Ya, kami mengetahuinya."

Maka Utsman berkata: "Demi Allah, aku tidak akan melepaskan baju yang telah dipakaikan Allah kepadaku ini, meskipun kalian memenggal leherku."

Kemudian beliau menghadap kiblat dan berdoa, dan para pemberontak masuk membunuhnya. Utsman radhiyallahu 'anhu wafat dalam keadaan berpuasa, dan pada malam itu juga beliau bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar serta Umar radhiyallahu 'anhuma, dan mereka berkata: "Engkau akan berbuka di sisi kami malam ini." (Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab sirah dan tarikh).

Hikmahnya: Seorang yang berada di atas kebenaran tidak perlu takut pada ancaman dan tekanan. Kematian di jalan kebenaran lebih mulia daripada hidup dalam kehinaan karena menyerah pada kebatilan.

Kesimpulan Praktis

  1. Kekuasaan adalah amanah, bukan kenikmatan yang bisa dipermainkan. Seorang pemimpin tidak boleh melepaskan amanahnya hanya karena tekanan pemberontak.
  2. Wasiat Nabi ﷺ kepada Utsman menunjukkan bahwa kabar ghaib dari Nabi ﷺ adalah benar dan terbukti. Ini menguatkan keimanan kita kepada kenabian beliau.
  3. Kesabaran Utsman dalam menghadapi fitnah adalah teladan agung: lebih memilih syahid di atas kebenaran daripada menyerah pada kebatilan.
  4. Kita harus menjaga lisan dan sikap dari ikut serta dalam fitnah yang menimpa para sahabat, karena mereka adalah orang-orang pilihan yang Allah ridhai.
  5. Bagi kita yang dipimpin, hendaknya taat kepada pemimpin muslim selama tidak memerintahkan kemaksiatan, dan mendoakan kebaikan bagi mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?