Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3642 tentang Senyuman adalah bentuk tawa Rasulullah ﷺ

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan akhlak mulia Nabi ﷺ dalam hal tertawa. Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak, melainkan hanya tersenyum. Ini menunjukkan kesempurnaan adab, kelembutan, dan ketenangan beliau dalam bergaul dengan para sahabat. Senyuman beliau adalah bagian dari kenabian yang patut kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ، قَالَ: مَا كَانَ ضَحِكُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلاَّ تَبَسُّمًا

"Dari Abdullah bin Al-Harits bin Jaz', ia berkata: 'Tidaklah tawa Rasulullah ﷺ itu melainkan hanya tersenyum.'" (HR. At-Tirmidzi no. 3642, beliau berkata: Hadits ini sahih gharib)

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung."

Kaitan dengan Ulama:

Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H) menilai hadits ini sahih gharib, yaitu sahih dari segi sanad namun hanya diriwayatkan melalui satu jalur tertentu. Dalam hal ini, jalur periwayatannya melalui Al-Layts bin Sa'd (salah satu ulama besar dari daftar rujukan kita) dari Yazid bin Abi Habib dari Abdullah bin Al-Harits bin Jaz' radhiyallahu 'anhu.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang adab tertawa. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya. Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak sebagaimana kebiasaan orang-orang yang lalai, karena tertawa berlebihan dapat mematikan hati dan mengurangi wibawa.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah bahwa tertawanya Nabi ﷺ hanyalah sekadar senyuman, tidak sampai terbahak-bahak atau mengeluarkan suara keras. Ini menunjukkan:

  1. Kesempurnaan adab - Beliau menjaga kehormatan dan wibawa sebagai seorang Nabi dan pemimpin.
  2. Kelembutan hati - Senyuman beliau adalah bentuk kasih sayang kepada para sahabat, bukan ketegangan atau kekakuan.
  3. Keseimbangan - Beliau tidak terlalu serius sehingga membuat orang takut, dan tidak terlalu banyak tertawa sehingga hilang wibawa.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama memaknai "adh-dhahik" dalam hadits ini sebagai tertawa yang keras atau terbahak-bahak. Adapun senyuman (tabassum) adalah tertawa yang ringan tanpa suara, dan inilah kebiasaan Nabi ﷺ.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (wafat 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ yang agung mencakup semua sisi kehidupan, termasuk cara beliau bergaul, berbicara, dan bahkan cara beliau tertawa. Semuanya penuh hikmah dan keindahan.

Para ulama juga menyebutkan bahwa meskipun Nabi ﷺ jarang tertawa terbahak-bahak, beliau tetap tersenyum kepada siapa pun yang duduk bersamanya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak beliau duduk bersamanya sejak masuk Islam, dan beliau selalu tersenyum kepadanya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Al-Harits bin Jaz' - perawi hadits ini - adalah salah seorang sahabat yang pernah ikut dalam beberapa peperangan bersama Nabi ﷺ. Beliau termasuk sahabat yang lama hidup setelah wafatnya Nabi ﷺ dan menjadi perawi hadits di Mesir.

Suatu ketika, para sahabat bertanya tentang bagaimana cara Nabi ﷺ tertawa. Maka Abdullah bin Al-Harits menjawab dengan jujur dan penuh kekaguman: "Tidaklah tawa Rasulullah ﷺ itu melainkan hanya tersenyum."

Jawaban ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan setiap gerak-gerik Nabi ﷺ, bahkan sampai kepada cara beliau tertawa. Mereka meneladani beliau dalam segala hal, karena mereka tahu bahwa seluruh perilaku beliau adalah teladan yang sempurna.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

"Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini menjelaskan mengapa Nabi ﷺ jarang tertawa terbahak-bahak - karena beliau sangat menyadari hakikat kehidupan, kematian, hisab, dan akhirat. Kesadaran ini membuat beliau lebih banyak merenung dan sedikit tertawa.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani senyuman Nabi ﷺ - Biasakan tersenyum kepada sesama muslim sebagai bentuk kebaikan dan keakraban. Rasulullah ﷺ bersabda: "Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR. At-Tirmidzi)
  2. Menjaga wibawa - Hindari tertawa terbahak-bahak yang berlebihan, karena dapat mengurangi wibawa dan membuat hati lalai. Namun jangan pula terlalu kaku sehingga orang merasa tidak nyaman.
  3. Keseimbangan dalam bergaul - Teladani Nabi ﷺ yang selalu ramah, tersenyum, namun tetap tenang dan berwibawa dalam setiap keadaan.
  4. Muhasabah diri - Perbanyak merenung tentang hakikat kehidupan dan akhirat, sehingga hati menjadi lembut dan tidak lalai.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?