Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3631 tentang Mukjizat air memancar dari jari Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan mukjizat Nabi ﷺ yang sangat jelas: air memancar dari celah-celah jari beliau ketika para sahabat kehabisan air untuk wudhu sebelum shalat Ashar. Anas bin Malik menyaksikan langsung peristiwa ini dan meriwayatkannya. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, dan para ulama Ahlus Sunnah menjadikannya dalil tetapnya mukjizat Nabi ﷺ serta kewajiban beriman kepada hal-hal ghaib yang dikabarkan dalam hadits shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qamar [54]: 1

```

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

```

Terjemahan: "Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan."

Ayat ini menjadi dasar bahwa mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ adalah tanda kebenaran kenabian, sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa terbelahnya bulan adalah salah satu mukjizat besar yang diminta kaum Quraisy sebagai bukti.

Hadits terkait:

Hadits Anas bin Malik ini diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa', kemudian Imam At-Tirmidzi dalam Jami' At-Tirmidzi no. 3631, dari jalur Ishaq bin Musa Al-Anshari → Ma'n → Malik → Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah → Anas bin Malik.

Imam At-Tirmidzi berkata: "Hadits Anas adalah hadits hasan shahih." Beliau juga menyebutkan hadits serupa dari Imran bin Hushain, Ibnu Mas'ud, Jabir, dan Ziyad bin Al-Harits Ash-Shuda'i.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Malik bin Anas meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa', menunjukkan beliau menerimanya sebagai hujjah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mukjizat air memancar dari jari Nabi ﷺ terjadi berulang kali dalam beberapa kesempatan, dan ini termasuk mukjizat yang mutawatir maknanya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ seperti ini harus diimani dan tidak boleh ditakwil dengan takwil yang menyimpang.
  • Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan peristiwa ini sebagai salah satu bukti kenabian yang sangat jelas.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Anas bin Malik — pelayan Nabi ﷺ yang menyertai beliau selama sepuluh tahun — menceritakan sebuah peristiwa nyata. Ketika waktu shalat Ashar hampir masuk, para sahabat mencari air untuk berwudhu namun tidak menemukannya. Lalu dibawakan kepada Nabi ﷺ sebuah wadah berisi sedikit air. Nabi ﷺ meletakkan tangannya ke dalam wadah tersebut, lalu memerintahkan para sahabat berwudhu darinya. Anas berkata: "Aku melihat air memancar dari bawah jari-jarinya, hingga orang-orang berwudhu semuanya sampai yang terakhir."

Bagaimana para ulama memahami hadits ini:

  1. Imam Malik bin Anas — meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa' sebagai bagian dari bab tentang wudhu dan keutamaan Nabi ﷺ. Beliau menjadikannya dalil bahwa air yang sedikit bisa mencukupi banyak orang jika Allah menghendaki, dan ini adalah mukjizat khusus Nabi ﷺ.
  2. Imam At-Tirmidzi — setelah meriwayatkan hadits ini, beliau menyatakan derajatnya hasan shahih, dan menyebutkan bahwa ada riwayat-riwayat lain dari sahabat berbeda yang menguatkan makna yang sama. Ini menunjukkan bahwa peristiwa mukjizat air ini terjadi lebih dari satu kali.
  3. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mukjizat ini termasuk khadza'il (hal-hal luar biasa) yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ sebagai penghormatan dan bukti kenabian. Beliau juga menegaskan bahwa mukjizat ini tidak boleh diingkari atau ditakwil dengan mengatakan "air itu memang banyak" — karena Anas secara tegas mengatakan air memancar dari jari-jari Nabi ﷺ.
  4. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan prinsip penting: mukjizat para nabi adalah haq (benar), dan wajib bagi setiap Muslim untuk mengimaninya tanpa menolak atau merendahkan. Beliau berkata bahwa mukjizat seperti ini adalah bagian dari ushuluddin (pokok agama).
  5. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan peristiwa ini di antara mukjizat-mukjizat Nabi ﷺ yang mutawatir secara makna. Beliau menjelaskan bahwa meskipun jalur riwayatnya berbeda-beda, maknanya sama dan saling menguatkan.
  6. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhish Shalihin menjelaskan bahwa mukjizat ini menunjukkan kekuasaan Allah dan kejujuran Nabi ﷺ. Beliau juga menegaskan bahwa mukjizat bukanlah sihir, karena sihir adalah perbuatan setan, sedangkan mukjizat adalah karomah dari Allah untuk para nabi.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah air memancar dari jari Nabi ﷺ secara hakiki (benar-benar memancar) ataukah hanya keberkahan pada air yang sedikit. Namun jumhur ulama dari daftar yang disebutkan — seperti Ibnu Hajar, an-Nawawi, dan Ibnu Katsir — menegaskan bahwa air benar-benar memancar dari jari-jari Nabi ﷺ secara hakiki, karena Anas bin Malik menyaksikannya langsung dan mengatakan "aku melihat air memancar dari bawah jari-jarinya". Ini adalah pendapat yang paling kuat dan sesuai dengan zahir hadits.

Hikmah dari hadits ini:

  • Mukjizat Nabi ﷺ adalah bukti kenabian yang nyata.
  • Allah Maha Kuasa untuk menjadikan air memancar dari jari manusia.
  • Para sahabat menyaksikan langsung dan meriwayatkannya dengan jujur.
  • Kewajiban kita adalah membenarkan dan mengimani apa yang dikabarkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu adalah seorang anak yang tumbuh di rumah Nabi ﷺ. Ibunya, Ummu Sulaim, menyerahkan Anas kepada Nabi ﷺ untuk melayani beliau. Anas menyaksikan sendiri banyak peristiwa luar biasa bersama Nabi ﷺ.

Pada suatu hari yang panas, ketika waktu Ashar hampir masuk, para sahabat kehausan dan membutuhkan air untuk berwudhu. Mereka mencari ke mana-mana, tetapi tidak menemukan air. Akhirnya mereka membawa sebuah wadah kecil berisi sedikit air kepada Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ tidak panik. Beliau dengan tenang meletakkan tangannya ke dalam wadah itu, lalu memerintahkan para sahabat untuk berwudhu. Anas — yang saat itu masih muda — memperhatikan dengan saksama. Ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya: air memancar dari celah-celah jari-jari Nabi ﷺ seperti mata air kecil.

Para sahabat berwudhu satu per satu. Jumlah mereka banyak — dalam riwayat lain disebutkan sampai tiga ratus orang. Namun air itu tidak habis. Bahkan yang terakhir pun masih bisa berwudhu dengan sempurna.

Anas menyimpan peristiwa ini dalam hatinya selama bertahun-tahun. Ketika ia dewasa dan menjadi salah satu perawi hadits terbesar, ia menceritakan kisah ini kepada murid-muridnya. Imam Malik bin Anas meriwayatkannya, lalu Imam At-Tirmidzi mencatatnya dalam kitabnya.

Hikmah: Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya melalui tangan Nabi ﷺ. Air yang sedikit menjadi cukup untuk banyak orang. Ini mengajarkan kita bahwa pertolongan Allah datang dari arah yang tidak kita duga, dan bahwa mukjizat para nabi adalah haq yang wajib diimani.

Kesimpulan Praktis

  1. Imanilah mukjizat Nabi ﷺ — termasuk air yang memancar dari jari-jari beliau — sebagai bagian dari pokok keimanan kepada kenabian.
  2. Jangan menakwil mukjizat dengan takwil yang menyimpang — karena Anas bin Malik menyaksikannya langsung dan menceritakannya dengan jelas.
  3. Teladani ketenangan Nabi ﷺ — ketika para sahabat kebingungan mencari air, Nabi ﷺ tetap tenang dan bertawakal kepada Allah.
  4. Amalkan sunnah wudhu — sebagaimana para sahabat berwudhu dari air yang diberkahi Nabi ﷺ, kita pun hendaknya menjaga wudhu dan mengamalkan sunnah-sunnahnya.
  5. Pelajari hadits-hadits mukjizat — agar iman kita semakin kuat dan kita semakin mencintai Nabi ﷺ.
  6. Sampaikan ilmu dengan adab — sebagaimana Anas bin Malik menyampaikan hadits ini dengan jujur dan penuh hormat kepada Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?