Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3614 tentang Adab menjawab adzan, bersalawat, dan memohon wasilah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah tuntunan indah dari Nabi ﷺ tentang adab ketika mendengar adzan. Ada tiga amalan yang diajarkan: pertama, mengucapkan seperti ucapan muadzin; kedua, bershalawat kepada Nabi ﷺ; dan ketiga, memohonkan Al-Wasilah (kedudukan tertinggi di surga) untuk beliau. Barangsiapa melakukan hal ini, maka ia akan mendapatkan balasan shalawat dari Allah sepuluh kali lipat dan berhak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Manaqib Nabi ﷺ, Bab Keutamaan Nabi ﷺ, no. 3614. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

Teks Hadits (bagian inti):

> إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ وَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

Terjemahan: "Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin. Kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, Allah akan bershalawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali karenanya. Kemudian mintalah Al-Wasilah untukku, karena ia adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba itu. Barangsiapa memintakan Al-Wasilah untukku, maka syafaatku halal baginya."

Dalil Al-Qur'an tentang Perintah Bershalawat kepada Nabi ﷺ:

Allah ﷻ berfirman:

> إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya mengucapkan lafadz adzan seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawat, lalu berdoa memohon Al-Wasilah. Beliau juga menjelaskan bahwa Al-Wasilah adalah kedudukan tertinggi di surga yang khusus diberikan kepada Nabi ﷺ.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa Al-Wasilah adalah derajat yang paling tinggi di surga, dan tidak ada seorang pun yang mencapai derajat itu selain Rasulullah ﷺ. Memohonkannya untuk Nabi ﷺ adalah bentuk pengagungan dan kecintaan kepada beliau.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa shalawat dari Allah adalah rahmat dan pujian-Nya kepada hamba-Nya di hadapan para malaikat, sedangkan shalawat dari hamba adalah doa dan permohonan rahmat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan tiga pelajaran berurutan yang sangat indah:

1. Mengucapkan seperti ucapan muadzin

Para ulama menjelaskan bahwa ketika mendengar adzan, kita disunnahkan untuk mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan muadzin, kecuali pada kalimat "Hayya 'alash-shalah" dan "Hayya 'alal-falah" (marilah menuju shalat dan marilah menuju kemenangan), maka kita mengucapkan "La haula wala quwwata illa billah" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim dari Umar bin Khaththab. Adapun pada adzan subuh, ketika muadzin mengucapkan "Ash-shalatu khairum minan-naum" (shalat itu lebih baik daripada tidur), kita juga mengucapkan kalimat yang sama.

2. Bershalawat kepada Nabi ﷺ

Setelah menjawab adzan, kita diperintahkan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Keutamaannya sangat besar: satu kali shalawat dari kita dibalas Allah dengan sepuluh kali rahmat dan pujian-Nya. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Jala'ul-Afham menjelaskan bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ adalah salah satu amalan yang paling utama dan paling besar pahalanya, karena ia adalah bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

3. Memohonkan Al-Wasilah untuk Nabi ﷺ

Al-Wasilah secara bahasa berarti sarana atau perantara untuk mendekatkan diri. Dalam konteks ini, ia adalah kedudukan tertinggi di surga yang Allah khususkan hanya untuk Nabi Muhammad ﷺ. Beliau sendiri berharap bahwa beliau adalah hamba yang akan mendapatkan kedudukan tersebut. Barangsiapa yang memohonkan Al-Wasilah untuk Nabi ﷺ, maka ia akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.

Imam At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini juga menyebutkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ setelah adzan, yang diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah, yaitu:

> اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

"Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad Al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia di tempat terpuji yang telah Engkau janjikan."

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa doa ini adalah doa yang sangat agung, menggabungkan antara permohonan Al-Wasilah (kedudukan tinggi) dan Al-Fadhilah (keutamaan), serta Al-Maqamul-Mahmud (tempat terpuji) yang merupakan hak syafaat agung Nabi ﷺ di hari kiamat.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu, beliau adalah salah seorang sahabat yang sangat bersemangat dalam menghafal dan menjaga sunnah-sunnah Nabi ﷺ. Beliau dikenal sebagai sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dan sangat teliti dalam menjaga amalan-amalan Nabi ﷺ.

Suatu ketika, para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang keutamaan bershalawat kepada beliau. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Hanya dengan satu kalimat pujian dan doa untuk Nabi-Nya, Allah membalas dengan sepuluh kali lipat rahmat-Nya. Ini adalah kemurahan yang luar biasa, dan menunjukkan betapa pentingnya kedudukan shalawat dalam kehidupan seorang muslim.

Imam Ibnul Qayyim dalam Jala'ul-Afham menyebutkan bahwa di antara hikmah diperintahkannya shalawat setelah menjawab adzan adalah agar doa kita tidak tertolak. Karena doa di antara adzan dan iqamah adalah doa yang mustajab (dikabulkan), maka dengan bershalawat terlebih dahulu, doa kita menjadi lebih layak untuk dikabulkan. Ini adalah rahasia urutan dalam hadits ini: menjawab adzan, lalu bershalawat, kemudian berdoa memohon Al-Wasilah.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa amalan yang bisa kita praktikkan:

  1. Saat mendengar adzan, hentikan sejenak aktivitas dan dengarkan dengan khusyuk, lalu ucapkan kalimat yang sama seperti muadzin, kecuali pada "Hayya 'alash-shalah" dan "Hayya 'alal-falah" yang dijawab dengan "La haula wala quwwata illa billah".
  2. Setelah selesai menjawab adzan, bershalawatlah kepada Nabi ﷺ dengan lafadz apa pun yang kita hafal, misalnya "Allahumma shalli 'ala Muhammad" atau shalawat Ibrahimiyah.
  3. Kemudian berdoalah memohonkan Al-Wasilah dan Al-Fadhilah untuk Nabi ﷺ dengan doa yang diajarkan beliau, lalu lanjutkan dengan doa-doa pribadi kita, karena doa di antara adzan dan iqamah adalah doa yang mustajab.
  4. Jadikan momen adzan sebagai pengingat untuk segera menuju shalat dan mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar rutinitas harian tanpa makna.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?