Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3601 tentang Keutamaan zikir la haula wa la quwwata illa billah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menganjurkan kita untuk memperbanyak ucapan "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah). Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai kanzun min kunūzil jannah — harta simpanan dari harta-harta surga. Maknanya: kalimat ini menanamkan tauhid, tawakal, dan pengakuan bahwa seluruh kemampuan kita hanyalah pemberian Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits utama — diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 3601), dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه. At-Tirmidzi sendiri menyatakan: "Hadits ini sanadnya tidak bersambung (muttashil); Mak-hul tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah." Jadi secara sanad, hadits ini dha'if (lemah) menurut penilaian At-Tirmidzi.

Namun maknanya diperkuat oleh hadits-hadits shahih lain, di antaranya dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

"Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan Allah."

Beliau menyebutnya sebagai salah satu kanzun min kunūzil jannah (harta dari harta-harta surga).

Ayat yang menjadi landasan makna:

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا • إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

QS. Al-Kahfi [18]: 23–24

"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: 'Aku akan melakukan itu besok,' kecuali (dengan menyebut): 'Insya Allah.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa segala daya dan upaya kita bergantung pada kehendak dan kekuatan Allah — inilah inti makna lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.

Penjelasan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna kalimat ini adalah: tidak ada kemampuan untuk berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik, dan tidak ada kekuatan untuk bertahan, kecuali dengan pertolongan Allah.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa kalimat ini mengandung penyerahan total kepada Allah (tafwidh) dan penafian segala daya dari selain-Nya.
  • Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kalimat ini adalah pengakuan hamba atas kelemahannya dan kekuatan Tuhannya — inilah hakikat tauhid dalam amal.

Penjelasan Rinci

Makna kalimat "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh":

  • "Lā ḥawla" — tidak ada daya untuk berpindah, berubah, atau menghindar dari sesuatu.
  • "Wa lā quwwata" — tidak ada kekuatan untuk melakukan sesuatu.
  • "Illā billāh" — kecuali dengan pertolongan dan kekuatan Allah.

Jadi hamba mengakui: aku tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa menghindari keburukan, dan tidak bisa mendatangkan kebaikan, kecuali Allah yang memberi kemampuan itu.

Mengapa disebut "harta dari harta-harta surga"?

Para ulama menjelaskan beberapa makna:

  1. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kalimat ini adalah simpanan pahala yang besar, seperti harta yang tersimpan rapi — siapa yang mengucapkannya dengan ikhlas, ia menyimpan pahala untuk dirinya di surga.
  2. Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kalimat ini menanamkan tauhid yang murni, dan tauhid adalah pondasi seluruh amal — maka pahalanya seperti harta yang tak habis.
  3. Sebagian ulama menjelaskan bahwa di surga nanti, kalimat ini akan menjadi ucapan penghuni surga, sebagaimana firman Allah dalam QS. Fatir [35]: 34 dan QS. Yunus [10]: 10 yang menyebut ucapan alhamdulillah dan subhanallah di surga.

Catatan tentang sanad hadits ini:

At-Tirmidzi sendiri menyatakan hadits ini tidak bersambung karena Mak-hul (seorang tabi'in) tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah. Namun:

  • Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Shahih al-Jami' menilai hadits ini shahih karena memiliki jalur-jalur penguat (syawahid) dari sahabat lain.
  • Ibnu Hajar dalam Fathul Bari juga menyebutkan banyak riwayat yang menguatkan makna hadits ini.

Tambahan dari Mak-hul (bukan sabda Nabi ﷺ):

Mak-hul berkata: "Barangsiapa mengucapkan 'Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh, wa lā manjā minallāhi illā ilaih' (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah, dan tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya), maka akan dibukakan untuknya tujuh puluh pintu bahaya, yang paling ringan adalah kemiskinan."

Perkataan ini adalah atsar dari Mak-hul, bukan sabda Nabi ﷺ. Para ulama seperti Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa menambahkan "wa lā manjā minallāhi illā ilaih" memiliki keutamaan tersendiri, karena mengandung makna berlindung kepada Allah dari siksa-Nya — sebagaimana dalam hadits shahih tentang doa Nabi ﷺ di malam hari.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه — seorang sahabat yang suaranya indah dan sering membaca Al-Qur'an — pernah bersama Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan. Ketika mereka melewati sebuah lembah, para sahabat bertakbir dengan suara keras. Nabi ﷺ lalu bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

"Wahai manusia, kasihanilah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada yang tuli dan tidak pula yang jauh. Kalian menyeru kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat."

Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Maukah aku tunjukkan kalimat yang merupakan harta dari harta-harta surga?" Beliau lalu mengajarkan: "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa al-Asy'ari)

Hikmah: Kalimat ini bukan sekadar dzikir lisan, tetapi pengakuan hati bahwa segala sesuatu bergantung kepada Allah. Sahabat yang memahami hal ini akan selalu merasa tenang, karena tahu bahwa beban hidupnya tidak ia pikul sendiri.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah mengucapkan "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" dalam kehidupan sehari-hari — saat bekerja, menghadapi kesulitan, atau merasa lemah.
  2. Pahami maknanya — bukan hanya di lisan, tetapi di hati: bahwa kita tidak punya daya apa pun tanpa pertolongan Allah.
  3. Jangan tinggalkan kalimat ini saat menghadapi kesulitan, karena ia adalah harta surga yang menenangkan jiwa dan mendatangkan pertolongan Allah.
  4. Tambahkan "wa lā manjā minallāhi illā ilaih" sebagaimana disebutkan Mak-hul, karena maknanya baik dan sesuai dengan doa Nabi ﷺ.
  5. Jangan berlebihan dalam menilai sanad — hadits ini memiliki penguat dari riwayat shahih, dan maknanya disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?