Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3593 tentang Bab Mana ucapan yang paling dicintai Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa ucapan yang paling dicintai Allah adalah "Subḥāna rabbī wa biḥamdihi" (Maha Suci Tuhanku dan dengan pujian-Nya). Kalimat ini adalah dzikir yang dipilih langsung oleh Allah untuk para malaikat-Nya. Ini menunjukkan betapa agung dan mulianya kalimat ini di sisi Allah, serta mudah diamalkan oleh siapa pun setiap saat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Perawi: Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu
  • Kitab: Jami' At-Tirmidzi, no. 3593
  • Status: Hasan Shahih menurut Imam At-Tirmidzi

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi (dalam Al-Adzkar) menjelaskan bahwa kalimat "Subḥāna rabbī wa biḥamdihi" adalah dzikir yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan amal. Beliau merujuk pada hadits ini sebagai dalil keutamaan tasbih dan tahmid secara bersamaan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menegaskan bahwa kalimat ini menggabungkan dua ibadah agung: pensucian Allah dari segala kekurangan (tasbih) dan pujian kepada-Nya (tahmid). Beliau juga menyebutkan bahwa para malaikat terus-menerus mengucapkan kalimat ini sebagai bentuk ibadah mereka.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhush Shalihin) menjelaskan bahwa kata "wa biḥamdihi" (dan dengan pujian-Nya) bermakna: "Aku menyucikan Allah sambil memuji-Nya," atau "Aku menyucikan-Nya dengan pujian kepada-Nya." Artinya, tasbih kita harus disertai dengan pengakuan bahwa Allah Maha Sempurna dan layak dipuji.

Kaitan dengan Al-Qur'an:

Meski hadits ini tidak menyebut ayat secara langsung, maknanya selaras dengan firman Allah:

> فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

> "Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang dan pagi hari." (QS. Ar-Rum [30]: 17)

Ayat ini memerintahkan tasbih di waktu pagi dan petang, dan hadits di atas menunjukkan bahwa bentuk tasbih yang paling utama adalah "Subḥāna rabbī wa biḥamdihi".

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dalam konteks saling menjenguk antara Nabi ﷺ dan Abu Dzar radhiyallahu 'anhu. Dalam kunjungan tersebut, Abu Dzar bertanya tentang ucapan yang paling dicintai Allah. Ini menunjukkan semangat para sahabat untuk mengetahui amalan yang paling utama dan paling dicintai Allah.

Makna Kalimat:

  • "Subḥāna rabbī" (Maha Suci Tuhanku): Menyucikan Allah dari segala kekurangan, kelemahan, dan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya.
  • "Wa biḥamdihi" (dan dengan pujian-Nya): Menggabungkan tasbih dengan pujian, bahwa Allah Maha Suci dan Maha Terpuji.

Keistimewaan Kalimat Ini:

  1. Dipilih Allah untuk Malaikat: Nabi ﷺ bersabda bahwa ini adalah kalimat yang dipilih Allah untuk para malaikat-Nya. Para malaikat adalah makhluk yang selalu taat dan bertasbih siang malam tanpa lelah. Kalimat ini menjadi dzikir utama mereka.
  2. Ringan di Lisan, Berat di Timbangan: Dalam hadits lain (HR. Bukhari dan Muslim), Nabi ﷺ bersabda: "Ada dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai Ar-Rahman: Subḥānallāhi wa biḥamdihi, Subḥānallāhil 'aẓīm." Ini menunjukkan betapa besar pahala kalimat ini.
  3. Mengandung Tauhid dan Ibadah: Tasbih adalah pengakuan bahwa Allah Maha Suci dari sekutu dan kekurangan. Tahmid adalah pujian kepada Allah atas segala nikmat dan kesempurnaan-Nya. Keduanya adalah inti dari ibadah.

Pendapat Ulama tentang Pengamalan:

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah sepakat bahwa dzikir ini dianjurkan di setiap waktu, terutama pagi dan petang.
  • Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menyebutkan bahwa membaca "Subḥāna rabbī wa biḥamdihi" sebanyak 100 kali dalam sehari dapat menghapus dosa-dosa kecil, berdasarkan hadits shahih lainnya.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam) menjelaskan bahwa kalimat ini adalah dzikir yang paling utama karena menggabungkan dua pilar ibadah: pengagungan (tasbih) dan rasa syukur (tahmid).

Perbedaan Pendapat:

Ada perbedaan apakah kalimat ini diucapkan sekali atau diulang. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengulanginya dua kali. Sebagian ulama seperti Imam An-Nawawi menganjurkan mengulanginya tiga kali atau lebih, karena dalam riwayat lain (HR. Muslim) disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkannya 100 kali. Namun, yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi dalam mengamalkannya.

Story Telling

Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata:

> "Ada seorang laki-laki yang datang kepada seorang ulama dan bertanya, 'Ajarilah aku amalan yang paling utama.' Ulama itu menjawab, 'Ucapkanlah: Subḥāna rabbī wa biḥamdihi, Subḥāna rabbī wa biḥamdihi.' Laki-laki itu berkata, 'Itu terlalu ringan.' Ulama itu tersenyum dan berkata, 'Wahai saudaraku, jika engkau tahu betapa berat timbangan kalimat ini di sisi Allah, niscaya engkau tidak akan pernah meninggalkannya sepanjang hidupmu.'"

Kisah ini mengingatkan kita bahwa amalan yang tampak sederhana bisa memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Jangan pernah meremehkan dzikir yang ringan ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan setiap hari: Ucapkan "Subḥāna rabbī wa biḥamdihi" sebanyak mungkin, minimal 100 kali sehari (berdasarkan hadits shahih lainnya).
  2. Gabungkan dengan niat: Niatkan untuk menyucikan Allah dan memuji-Nya, serta mengharap pahala dan ampunan.
  3. Jadikan dzikir rutin: Baca setelah shalat, saat pagi dan petang, atau di waktu senggang.
  4. Ajarkan kepada keluarga: Ajak istri, suami, dan anak-anak untuk membiasakan dzikir ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.