Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan Imam at-Tirmidzi (no. 3582) dari jalur Safwan bin Sulaim, seorang tabi'in, yang menyatakan bahwa tidak ada malaikat yang naik dari bumi melainkan ia mengucapkan "Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh". Kalimat ini menunjukkan keutamaan besar dan kedudukan agungnya di sisi Allah, sampai-sampai para malaikat pun mengucapkannya. Ini mengajarkan kita untuk memperbanyak kalimat ini sebagai bentuk tawakal dan pengakuan bahwa segala daya dan kekuatan hanya milik Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu: 'Aku pasti melakukan itu besok,' kecuali (dengan mengatakan): 'Insya Allah.'" (QS. Al-Kahf [18]: 23–24)
Ayat ini menjadi dasar bahwa segala sesuatu terjadi hanya dengan kehendak dan kekuatan Allah, sebagaimana makna yang terkandung dalam kalimat Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Hadits terkait:
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda ketika beliau mendengar seorang mengucapkan Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ
"Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh adalah salah satu simpanan dari simpanan-simpanan surga." (HR. Al-Bukhari no. 6384, Muslim no. 2704)
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung makna penyerahan total kepada Allah — tidak ada kemampuan untuk menghindari maksiat dan tidak ada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil bahwa kalimat ini disebut "simpanan surga" karena ia adalah kalimat yang ringan diucapkan namun berat pahalanya.
Penjelasan Rinci
Makna hadits at-Tirmidzi no. 3582:
Hadits ini merupakan perkataan Safwan bin Sulaim (seorang tabi'in, wafat sekitar 132 H), bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung. Beliau menyampaikan sebuah berita tentang keadaan para malaikat: setiap malaikat yang naik dari bumi, ia mengucapkan kalimat Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh.
Para ulama menjelaskan beberapa makna penting:
Pertama, Imam at-Tirmidzi memasukkan riwayat ini dalam bab keutamaan kalimat Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh, menunjukkan bahwa kalimat ini memiliki kedudukan istimewa. Meskipun ini adalah perkataan tabi'in (bukan marfu' kepada Nabi ﷺ secara langsung), para ulama menerimanya sebagai penjelasan tentang keutamaan amal, karena perkara seperti ini tidak mungkin dikatakan berdasarkan akal semata — ia harus berdasarkan pengetahuan yang sampai kepada Safwan dari gurunya.
Kedua, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna Lā ḥawla adalah "tidak ada kemampuan untuk berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain", dan Lā quwwata berarti "tidak ada kekuatan untuk melakukan sesuatu", illā billāh — "kecuali dengan pertolongan Allah." Jadi kalimat ini adalah pengakuan penuh bahwa hamba tidak memiliki daya apa pun tanpa bantuan Allah.
Ketiga, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa kalimat ini mencakup makna tawakal, tunduk, dan merendahkan diri di hadapan Allah. Ia juga merupakan pengakuan bahwa segala pergerakan, baik di langit maupun di bumi, terjadi dengan izin dan kekuatan Allah.
Keempat, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menyebutkan bahwa kalimat ini adalah salah satu bentuk dzikir yang paling utama karena mengandung tauhid yang murni — menafikan segala daya dan kekuatan dari selain Allah, dan menetapkannya hanya bagi Allah.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa hadits ini mauquf (perkataan tabi'in), namun maknanya shahih dan didukung oleh hadits-hadits marfu' lain tentang keutamaan kalimat ini. Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai riwayat ini hasan sebagai perkataan Safwan bin Sulaim.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, seorang ulama besar tabi'ut tabi'in, sangat sering mengucapkan kalimat Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh dalam setiap keadaan. Ketika beliau ditanya mengapa, beliau menjawab bahwa kalimat ini adalah pengakuan seorang hamba bahwa dirinya lemah dan hanya Allah yang Maha Kuat. Beliau juga menyebutkan bahwa para malaikat pun mengucapkannya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Safwan bin Sulaim ini.
Hikmahnya: jika para malaikat yang tidak memiliki dosa dan selalu taat pun mengucapkan kalimat ini saat naik dari bumi, maka kita sebagai manusia yang penuh kekurangan jauh lebih pantas untuk memperbanyaknya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah membaca Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh dalam kehidupan sehari-hari, terutama saat merasa lemah, menghadapi kesulitan, atau ingin melakukan ketaatan.
- Hayati maknanya — bahwa kita tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun tanpa pertolongan Allah. Ini melahirkan sikap tawakal dan tawadhu.
- Jadikan kalimat ini dzikir harian, karena ia adalah simpanan dari simpanan surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.
- Ajarkan kepada keluarga dan orang-orang terdekat, karena kalimat ini ringan diucapkan namun berat timbangannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.