Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3563 tentang Doa agar dicukupkan dengan rezeki halal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan doa yang sangat agung untuk meminta kecukupan dari Allah. Doa ini diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu untuk membantu seorang mukatab (budak yang berusaha menebus dirinya). Inti doa ini adalah memohon kepada Allah agar mencukupkan kita dengan rezeki yang halal sehingga tidak perlu mencari yang haram, dan menjadikan kita kaya hati dengan karunia-Nya sehingga tidak bergantung kepada makhluk. Hadits ini menunjukkan betapa besarnya kekuatan doa dalam menyelesaikan masalah, termasuk masalah hutang yang sangat berat sekalipun.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. At-Talaq [65]: 2-3

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu."

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah, no. 3563. Beliau menilai hadits ini hasan gharib. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) adalah seorang ulama besar dalam ilmu hadits dan termasuk dalam daftar rujukan kita. Beliau menghimpun hadits ini dalam kitabnya yang terkenal, Al-Jami'.
  • Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 2668) dan Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 2830) menilai hadits ini hasan. Beliau adalah ulama abad 14 H yang sangat masyhur dalam bidang takhrij hadits.
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) sering menganjurkan doa ini dalam berbagai kesempatan, terutama bagi mereka yang dililit hutang. Beliau menjelaskan bahwa doa ini adalah wasilah (perantara) yang agung untuk memohon pertolongan Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki latar belakang yang sangat indah. Seorang mukatab (budak yang mengadakan perjanjian dengan tuannya untuk merdeka dengan cara membayar sejumlah uang secara bertahap) datang kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengeluh bahwa ia tidak mampu lagi melanjutkan pembayaran tebusan dirinya. Ia meminta bantuan materi. Namun, Ali radhiyallahu ‘anhu tidak serta merta memberinya uang, melainkan mengajarkan sebuah doa yang lebih berharga dari sekadar uang.

Doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ ini memiliki makna yang sangat dalam:

  1. "Allahumma ikfini bihalalika 'an haramika" (Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal-Mu dari yang haram-Mu). Ini adalah permohonan agar Allah memberikan kecukupan melalui rezeki yang halal, sehingga kita tidak tergoda untuk mengambil yang haram. Ini adalah bentuk tawakal dan keyakinan bahwa rezeki halal itu ada dan cukup. Imam Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa barangsiapa yang merasa cukup dengan yang halal, maka Allah akan menjauhkannya dari yang haram.
  2. "Wa aghnini bifadhlika 'amman siwak" (Dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu). Ini adalah permohonan untuk menjadi kaya hati, tidak butuh kepada makhluk. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa." (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kekayaan hati ini adalah anugerah terbesar yang membuat seseorang tidak mengharap uluran tangan manusia.

Doa ini bukanlah jampi atau mantra, melainkan bentuk penghambaan diri dan pengakuan bahwa hanya Allah Yang Maha Mampu. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa adalah inti ibadah dan merupakan sebab yang paling kuat untuk meraih apa yang diminta. Hadits ini mengajarkan bahwa doa adalah senjata orang mukmin yang paling ampuh, bahkan untuk masalah yang terlihat sangat berat seperti hutang yang sebesar gunung.

Story Telling

Kisah ini mengingatkan kita pada seorang sahabat lain, yaitu Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau pernah mengalami kesulitan ekonomi yang sangat berat. Suatu ketika, beliau jatuh sakit karena kelaparan. Beliau berdiri di pinggir jalan antara masjid Nabawi dan pasar, berharap ada orang yang mengenalinya dan memberinya makan. Lalu, datanglah seorang lelaki yang tidak dikenalinya, lalu membaca sebuah ayat. Tiba-tiba, Abu Hurairah merasa segar dan kuat. (HR. Bukhari, secara ringkas).

Kisah ini menunjukkan bahwa pertolongan Allah bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka, sebagaimana janji-Nya dalam QS. At-Talaq. Doa yang diajarkan dalam hadits ini adalah salah satu kunci untuk membuka pintu pertolongan tersebut. Ali radhiyallahu ‘anhu tidak memberikan ikan, tetapi mengajarkan cara memancing. Beliau mengajarkan senjata yang lebih ampuh dari sekadar harta, yaitu doa yang penuh keyakinan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Amalkan doa ini setiap hari, terutama di waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam terakhir, setelah shalat fardhu, atau di waktu sahur. Bacalah dengan penuh keyakinan dan penghayatan.
  2. Jadikan doa ini sebagai perisai ketika menghadapi kesulitan ekonomi, hutang, atau rasa kekurangan. Jangan hanya bergantung pada usaha manusia, tetapi gantungkanlah harapan hanya kepada Allah.
  3. Kombinasikan doa ini dengan usaha yang halal dan takwa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Talaq, jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka akan datang bagi orang yang bertakwa.
  4. Jauhkan diri dari segala yang haram, karena doa ini sendiri meminta kecukupan dengan yang halal. Makanan, minuman, dan pakaian yang haram akan menghalangi terkabulnya doa.
  5. Latih hati untuk tidak bergantung kepada makhluk, tetapi hanya kepada Allah. Kekayaan hati adalah modal utama untuk merasa cukup dan bahagia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?