Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3559 tentang Meminta ampun menghapus dosa meski diulang berkali-kali

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang luasnya rahmat Allah dan keutamaan istighfar. Maknanya, seseorang yang berbuat dosa namun kemudian beristighfar (memohon ampun), maka ia tidak dianggap sebagai orang yang "mushirr" (orang yang terus-menerus dan bersikeras dalam dosa), walaupun ia mengulanginya berkali-kali dalam sehari. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar, namun perlu dipahami dengan benar: istighfar yang dimaksud adalah istighfar yang jujur dan disertai tekad untuk tidak mengulangi, bukan sekadar ucapan di lisan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, nomor 3559. Namun, perlu diketahui bahwa Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib (asing) dan sanadnya tidak kuat (laisa isnaduhu bil qawiy).

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

  1. Nama surah dan ayat: QS. Ali 'Imran [3]: 135
  2. Teks Arab (potongan ayat yang relevan):

> وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

  1. Terjemahan/makna ringkas: "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus (bersikeras) dalam perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui."

Ayat ini menjelaskan sifat orang bertakwa: ketika berbuat dosa, mereka segera beristighfar dan tidak bersikeras (wa lam yusirru) dalam dosa tersebut. Hadits di atas sejalan dengan ayat ini, menjelaskan bahwa istighfar adalah penghapus "sikap bersikeras" dalam dosa.

Hadits terkait dari kitab shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi: "Seorang hamba berbuat dosa lalu berkata: 'Ya Rabbku, ampunilah dosaku.' Maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya.' Kemudian dia berbuat dosa lagi dan berkata: 'Ya Rabbku, ampunilah dosaku.' Maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah berbuat dosa dan dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum karenanya. Maka berbuatlah sesukamu, karena Aku telah mengampunimu.'" (HR. Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama dan kitab: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa istighfar yang sempurna adalah yang disertai taubat, yaitu menyesali dosa, berhenti darinya, dan bertekad tidak mengulanginya. Adapun istighfar tanpa taubat hanyalah ucapan lisan yang bisa jadi pelakunya dusta.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki makna yang agung, namun perlu dipahami dengan kerangka yang benar.

  1. Makna "Mushirr" (مُصِرّ): Kata "asharra" (أَصَرَّ) berarti bersikeras, terus-menerus, dan menetapkan hati untuk berbuat dosa. Orang yang mushirr adalah orang yang berbuat dosa dengan kesengajaan, tanpa rasa bersalah, dan tanpa keinginan untuk berhenti. Ia bahkan merencanakan untuk mengulanginya.
  2. Makna "Istighfar" yang Hakiki: Istighfar bukan sekadar ucapan "Astaghfirullah" di lisan. Istighfar yang hakiki adalah permohonan ampun yang lahir dari hati yang menyesal, mengakui dosa di hadapan Allah, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Inilah yang disebut istighfar yang disertai taubat.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Istighfar adalah memohon ampunan. Dan memohon ampunan tidak akan sempurna kecuali dengan taubat yang sempurna. Maka barangsiapa beristighfar dengan lisan tetapi hatinya tetap bersikeras pada dosa, maka ia adalah pendusta dalam istighfarnya."
  • Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa istighfar adalah pemadam dosa, tetapi ia akan lebih sempurna jika disertai dengan meninggalkan dosa tersebut. Beliau juga menukil perkataan sebagian ulama bahwa istighfar yang hanya di lisan adalah istighfar para pendusta.
  1. Bagaimana Memahami "Tujuh Puluh Kali dalam Sehari"? Angka ini menunjukkan banyaknya pengulangan dosa. Makna hadits adalah: jika seseorang berbuat dosa, lalu ia beristighfar dengan sungguh-sungguh, maka istighfar itu menghapus dosanya dan menghilangkan sifat "bersikeras" darinya, meskipun ia mengulanginya berkali-kali. Ini adalah kabar gembira bagi orang yang lemah dan sering tergelincir, agar ia tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Namun, ini bukanlah izin untuk terus-menerus berbuat dosa dengan alasan akan beristighfar. Ini adalah kesalahpahaman yang sangat berbahaya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengingatkan bahwa orang yang berbuat dosa dengan niat akan beristighfar, maka istighfarnya tidak akan diterima karena ia telah mempermainkan agama Allah. Taubat itu harus dilakukan dengan jujur.

  1. Kedudukan Hadits: Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini gharib dan sanadnya tidak kuat. Oleh karena itu, para ulama tidak menjadikannya sebagai dalil utama untuk suatu hukum, tetapi lebih sebagai penguat (syawahid) dari makna yang sudah ada dalam Al-Qur'an dan hadits shahih. Makna hadits ini sangat sesuai dengan QS. Ali 'Imran: 135 dan hadits qudsi tentang hamba yang beristighfar berulang kali.

Story Telling

Dikisahkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in yang terkenal zuhud dan takut kepada Allah. Suatu hari, seorang laki-laki datang kepadanya dan mengeluhkan bahwa ia sering berbuat dosa dan sulit untuk meninggalkannya. Laki-laki itu berkata, "Wahai Abu Sa'id, aku sering berbuat maksiat, tetapi aku juga sering beristighfar. Apakah istighfarku bermanfaat?"

Al-Hasan Al-Bashri menjawab dengan bijak, "Wahai saudaraku, istighfar adalah kunci. Tetapi, apakah engkau tahu apa itu kunci? Kunci yang baik adalah kunci yang memiliki gigi. Jika kunci itu tidak memiliki gigi, maka ia tidak akan bisa membuka pintu. Gigi dari istighfar adalah meninggalkan dosa. Maka, istighfarlah dengan hatimu, bukan hanya dengan lisanmu. Berhentilah dari dosa, sesali apa yang telah lalu, dan bertekadlah untuk tidak mengulanginya. Jika engkau melakukan itu, maka pintu ampunan akan terbuka untukmu."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa istighfar yang diterima adalah istighfar yang lahir dari hati yang jujur dan dibuktikan dengan meninggalkan dosa. Istighfar lisan tanpa perubahan sikap hanyalah sia-sia.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan Berputus Asa: Jika kita berbuat dosa, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Segera beristighfar dan bertaubat. Allah Maha Pengampun.
  2. Perbaiki Kualitas Istighfar: Pastikan istighfar kita bukan sekadar ucapan. Sertakan dengan penyesalan di hati, berhenti dari dosa, dan tekad kuat untuk tidak mengulanginya.
  3. Jangan Menjadikan Istighfar sebagai Alasan Berbuat Dosa: Ini adalah tipu daya setan. Jangan pernah berkata, "Saya akan berbuat dosa, nanti saya istighfar." Ini adalah bentuk mempermainkan agama dan tanda tidak jujurnya taubat.
  4. Perbanyak Istighfar: Meskipun hadits ini sanadnya tidak kuat, memperbanyak istighfar adalah perintah Nabi ﷺ dalam hadits shahih. Beliau sendiri beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Ini menunjukkan bahwa istighfar adalah amalan yang sangat dicintai Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.