Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3553 tentang Keutamaan dzikir sepuluh kali setara memerdekakan budak

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan sebuah kalimat dzikir yang ringan di lisan namun sangat berat timbangannya di sisi Allah. Barangsiapa membacanya sebanyak sepuluh kali, maka Allah mencatat baginya pahala seperti memerdekakan empat orang budak keturunan Nabi Ismail. Ini menunjukkan betapa luasnya karunia Allah dan betapa mudahnya jalan menuju pahala besar bagi hamba-Nya yang beriman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Ad-Da'awat (Doa-doa), Bab Doa dari Rasulullah ﷺ, nomor 3553. Beliau meriwayatkannya dari jalur Abu Ayyub Al-Ansari radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكِنْدِيُّ الْكُوفِيُّ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ، قَالَ وَأَخْبَرَنِي سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ قَالَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . كَانَتْ لَهُ عِدْلَ أَرْبَعِ رِقَابٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ "

Terjemahan: Dari Abu Ayyub Al-Ansari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengucapkan sepuluh kali: Lā ilāha illallāh, waḥdahu lā sharīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, yuḥyī wa yumītu, wa huwa 'alā kulli shai'in qadīr (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka baginya pahala seperti memerdekakan empat budak dari keturunan Ismail."

Catatan Penting: Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Abu Ayyub secara mauquf (berhenti sampai perkataan sahabat, bukan sabda Nabi ﷺ). Namun riwayat yang marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) tetap shahih dan diamalkan oleh para ulama.

Hadits Pendukung dari Shahih Al-Bukhari dan Muslim:

Hadits ini juga memiliki penguat dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa mengucapkan Lā ilāha illallāh, waḥdahu lā sharīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli shai'in qadīr sebanyak seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis baginya seratus kebaikan, dihapus darinya seratus keburukan, dan ia terjaga dari setan pada hari itu hingga sore. Dan tidak ada seorang pun yang datang dengan amalan yang lebih baik darinya, kecuali orang yang mengamalkan lebih dari itu." (HR. Al-Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung makna yang sangat agung. Mari kita rinci:

1. Kandungan Kalimat Dzikir:

Kalimat ini mengandung:

  • Tauhid Uluhiyah: Lā ilāha illallāh — penetapan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
  • Tauhid Rububiyah: waḥdahu lā sharīka lah — Allah Maha Esa dalam kekuasaan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.
  • Pujian dan Pengakuan: lahul-mulku wa lahul-ḥamdu — milik Allah seluruh kerajaan alam semesta, dan segala pujian hanya bagi-Nya.
  • Kekuasaan Mutlak: yuḥyī wa yumītu — Allah yang menghidupkan dan mematikan, dan wa huwa 'alā kulli shai'in qadīr — Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

2. Makna "Pahala Memerdekakan Empat Budak dari Keturunan Ismail":

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa pahala yang disebutkan dalam hadits-hadits semacam ini adalah pahala yang setara dengan amalan tersebut, bukan berarti orang itu benar-benar harus memerdekakan budak. Ini adalah bentuk karunia Allah yang melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang berdzikir dengan ikhlas.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa dzikir adalah amalan yang ringan di lisan namun berat di timbangan. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa dzikir ini mengandung makna pembebasan dari segala bentuk perbudakan selain kepada Allah — baik perbudakan hawa nafsu, setan, maupun ketergantungan kepada makhluk.

3. Keutamaan Keturunan Ismail:

Penyebutan "budak dari keturunan Ismail" dalam hadits ini menunjukkan keutamaan budak-budak yang berasal dari keturunan Nabi Ismail 'alaihissalam, karena mereka adalah keturunan seorang nabi yang mulia. Ini juga menunjukkan bahwa pahala yang disebutkan adalah pahala yang sangat besar, karena memerdekakan budak keturunan Ismail lebih utama daripada memerdekakan budak lainnya.

4. Kedudukan Hadits:

Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan secara marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) dan juga secara mauquf (berhenti pada perkataan Abu Ayyub). Namun para ulama hadits seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menilai bahwa hadits ini shahih, dan riwayat marfu'-nya adalah yang lebih kuat untuk diamalkan.

5. Pelajaran dari Sanad:

Dalam sanad hadits ini terdapat Sufyan Ats-Tsauri — salah satu ulama besar tabi'ut tabi'in yang sangat alim dalam hadits dan fiqih. Ini menunjukkan bahwa hadits ini diriwayatkan melalui jalur ulama yang sangat terpercaya dan memiliki ilmu yang dalam.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Ayyub Al-Ansari radhiyallahu 'anhu — perawi hadits ini — adalah sahabat yang sangat mulia. Beliau adalah orang yang pertama kali menjamu Rasulullah ﷺ ketika beliau tiba di Madinah saat hijrah. Rumahnya menjadi tempat tinggal Rasulullah ﷺ selama beberapa waktu sebelum masjid dan kamar beliau dibangun.

Abu Ayyub juga dikenal sebagai sahabat yang sangat mencintai jihad di jalan Allah. Ketika usianya sudah lanjut, beliau tetap ingin berjihad. Beliau pernah berkata: "Aku akan tetap berjihad selama Allah masih memberiku kehidupan, karena Allah telah berfirman: 'Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat' (QS. At-Taubah [9]: 41)." Beliau akhirnya wafat di Konstantinopel (sekarang Istanbul) saat berjihad bersama pasukan Muslimin, dan makamnya di sana hingga kini.

Subhanallah, seorang sahabat yang mulia seperti Abu Ayyub meriwayatkan hadits yang sangat agung ini. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian untuk menyampaikan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ kepada umat.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan dan amalkan dzikir ini setiap hari, minimal sepuluh kali, agar mendapatkan pahala seperti memerdekakan empat budak keturunan Ismail.
  2. Perbanyak dzikir ini — jika dibaca seratus kali, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh budak, ditulis seratus kebaikan, dihapus seratus keburukan, dan dijaga dari setan.
  3. Renungkan maknanya — jangan hanya membaca lisan, tetapi hayati bahwa Allah Maha Esa, milik-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
  4. Amalkan secara istiqamah — dzikir yang sedikit namun rutin lebih dicintai Allah daripada yang banyak namun terputus, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin meskipun sedikit." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
  5. Ajarkan kepada keluarga — sebagaimana para sahabat mengajarkan dzikir-dzikir ini kepada anak-anak dan keluarga mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.