Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3550 tentang Umur umat Nabi antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa umumnya umur kebanyakan umat Nabi Muhammad ﷺ berkisar antara 60 hingga 70 tahun. Hanya sedikit dari mereka yang melewati usia tersebut. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ sebagai mukjizat dan tanda kenabian, sekaligus menjadi pengingat bagi kita agar tidak terlena dengan panjangnya angan-angan dan senantiasa mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, nomor 3550, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur Muhammad bin 'Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah.

Berikut teks hadits dalam bahasa Arab:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ "

Maknanya: "Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan yang paling sedikit di antara mereka adalah yang melebihi itu."

Hadits ini juga memiliki penguat dari jalur lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, sebagaimana disebutkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam komentarnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu mukjizat Nabi ﷺ yang memberitakan hal ghaib, dan terbukti hingga hari ini. Rata-rata umur manusia di dunia, khususnya di kalangan umat Islam, memang berkisar di angka tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah dalam beberapa kesempatan menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa kebanyakan umat Nabi ﷺ wafat di rentang usia 60-70 tahun. Ini bukan berarti tidak ada yang lebih tua, namun jumlah mereka sangat sedikit. Beliau juga mengingatkan bahwa hadits ini menjadi peringatan agar manusia tidak terlalu berangan-angan panjang (thulul amal), karena usia rata-rata memang tidak lama.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Ad-Da'u wad-Dawa' (Al-Jawab al-Kafi) menyebutkan bahwa umur umat ini pendek jika dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Namun, Allah memberi ganti dengan keutamaan lain, yaitu malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan, dan amalan-amalan ringan yang berpahala besar. Ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada umat ini.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan konsep umur dan rezeki bahwa manusia tidak mengetahui kapan ajalnya, namun hadits ini memberi gambaran umum tentang kebanyakan umur umat ini.

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Latha'if Al-Ma'arif banyak membahas tentang keutamaan umur dan bagaimana memanfaatkannya. Beliau mengingatkan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya bersegera dalam kebaikan dan tidak menunda-nunda taubat, karena kebanyakan umur manusia tidak sampai 70 tahun.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Mengingat kematian: Jika rata-rata umur kita hanya 60-70 tahun, maka kita harus sadar bahwa perjalanan kita di dunia ini singkat. Setiap hari yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada ajal.
  2. Tidak menunda taubat: Karena ajal bisa datang kapan saja, terutama di usia-usia tersebut, maka kita tidak boleh menunda-nunda untuk beribadah dan bertaubat dari dosa.
  3. Memanfaatkan waktu: Waktu adalah modal utama. Para salaf sangat menjaga waktu mereka. Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi."
  4. Bersyukur atas panjang umur: Bagi yang diberi umur melebihi 70 tahun, itu adalah keutamaan dan kesempatan tambahan untuk beramal shalih. Namun juga harus waspada, karena bertambahnya umur berarti bertambah pula tanggung jawab.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah menangis ketika mengingat kematian. Beliau berkata: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian diciptakan untuk kehidupan yang kekal, hanya saja kalian dipindahkan dari satu rumah ke rumah yang lain. Kalian diciptakan untuk negeri akhirat, bukan untuk negeri dunia. Kalian akan dipindahkan dari rumah yang fana ini menuju rumah yang kekal. Maka bersiap-siaplah kalian."

Beliau juga sering mengingatkan: "Perbanyaklah mengingat kematian, karena sesungguhnya orang yang banyak mengingat kematian akan dimuliakan di dunia dan di akhirat."

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami hakikat kehidupan dunia yang singkat ini. Mereka tidak terlena dengan dunia, justru menjadikan kesadaran akan kematian sebagai pendorong untuk beramal shalih.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari bahwa umur kita singkat — jangan menunda kebaikan dan taubat.
  2. Perbanyak mengingat kematian — karena itu akan menahan kita dari maksiat dan mendorong kita beramal.
  3. Manfaatkan waktu dengan hal bermanfaat — seperti menuntut ilmu, beribadah, dan berbuat baik kepada sesama.
  4. Bersyukur jika diberi umur panjang — jadikan sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal shalih.
  5. Jangan berangan-angan panjang — karena itu adalah pangkal kelalaian.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi