Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3542 tentang Siksaan dan rahmat Allah sebagai motivasi beramal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja') kepada Allah ﷻ. Jika seorang mukmin benar-benar membayangkan dahsyatnya siksa Allah, ia akan sangat takut dan tidak akan pernah merasa aman. Sebaliknya, jika orang kafir mengetahui betapa luasnya rahmat Allah, ia tidak akan pernah berputus asa dari surga. Hadits ini mengajak kita untuk tidak berlebihan dalam takut hingga putus asa, dan tidak berlebihan dalam berharap hingga lalai dari ketaatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, no. 3542, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan (baik).

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan lengkap dengan sanadnya. Berikut teks haditsnya:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ فِي الْجَنَّةِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدٌ"

Artinya: "Jika seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa siksaan, maka tidak ada seorang pun yang berharap kepada surga, dan jika seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang putus asa dari (mendapatkan) surga."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2755) dengan redaksi yang hampir sama. Ini menunjukkan bahwa hadits ini shahih, meskipun Imam At-Tirmidzi menilainya hasan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua poros besar dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah ﷻ: takut (khauf) dan harapan (raja'). Keduanya harus berjalan seimbang dalam hati seorang mukmin.

1. Makna "Jika seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa siksaan"

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat ini adalah bentuk tahdid (peringatan keras) bagi orang-orang yang beriman. Maksudnya, jika Allah ﷻ menampakkan kepada seorang mukmin betapa dahsyatnya siksa-Nya yang tersembunyi—yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia—maka ia akan sangat takut dan tidak akan pernah merasa aman dari murka Allah. Bahkan ia akan lupa pada surga karena saking takutnya. Ini menunjukkan bahwa siksa Allah itu sangat besar, melebihi apa yang bisa dibayangkan oleh akal manusia.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rasa takut yang benar adalah yang mendorong seorang hamba untuk menjauhi maksiat dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan. Rasa takut yang berlebihan hingga membuat putus asa justru tercela, karena itu adalah bisikan setan.

2. Makna "Jika orang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah berupa rahmat"

Ini adalah bentuk targhib (dorongan) agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Syeikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa rahmat Allah ﷻ sangat luas, melebihi apa yang bisa dibayangkan. Jika orang kafir yang selama ini ingkar kepada Allah mengetahui betapa luasnya rahmat-Nya, ia tidak akan pernah berputus asa untuk masuk surga. Ini menunjukkan bahwa pintu taubat dan rahmat Allah terbuka lebar bagi siapa saja, selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

3. Keseimbangan antara takut dan harap

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa hati seorang mukmin itu seperti burung: kepala dan badannya adalah cinta (mahabbah), sayap kanannya adalah takut (khauf), dan sayap kirinya adalah harapan (raja'). Burung tidak bisa terbang tanpa kedua sayapnya. Demikian pula seorang mukmin, ia tidak akan bisa terbang menuju Allah ﷻ tanpa keseimbangan antara takut dan harap.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga menjelaskan bahwa takut yang bermanfaat adalah takut yang mencegah seseorang dari maksiat, bukan takut yang membuatnya putus asa dari rahmat Allah. Beliau berkata: "Takut yang paling utama adalah takut yang menghalangi hamba dari perkara yang diharamkan Allah."

4. Pelajaran dari hadits ini

Para ulama mengambil beberapa pelajaran dari hadits ini:

  • Siksa Allah itu nyata dan dahsyat, melebihi bayangan manusia. Ini menjadi motivasi untuk menjauhi maksiat.
  • Rahmat Allah itu luas dan meliputi segalanya. Ini menjadi motivasi untuk tidak berputus asa dari ampunan-Nya.
  • Seorang mukmin harus berada di antara takut dan harap. Tidak boleh hanya takut hingga putus asa, dan tidak boleh hanya berharap hingga lalai dari ketaatan.
  • Hadits ini juga menjadi bantahan bagi orang-orang yang berlebihan dalam berharap sehingga meninggalkan amal saleh, dan bantahan bagi orang-orang yang berlebihan dalam takut sehingga berputus asa dari rahmat Allah.

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." (HR. Al-Bukhari no. 6486). Ini sejalan dengan hadits di atas, bahwa pengetahuan tentang hakikat akhirat akan mengubah cara pandang dan perilaku seseorang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah—salah seorang ulama tabi'in yang sangat terkenal dengan rasa takutnya kepada Allah—pernah berkata: "Seorang mukmin itu seperti orang yang berada di penjara, ia selalu dalam keadaan takut dan berharap. Ia takut kepada Tuhannya karena dosa-dosanya, dan ia berharap kepada rahmat Tuhannya karena kebaikan-Nya."

Beliau juga pernah menangis ketika membaca firman Allah ﷻ dalam QS. Maryam [19]: 71-72:

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ۝ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Artinya: "Dan tidak ada seorang pun dari kalian yang tidak melewatinya (neraka); hal itu adalah ketentuan yang pasti dari Tuhanmu. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut."

Al-Hasan al-Bashri berkata: "Bagaimana bisa seorang mukmin merasa aman dari neraka, sementara ia harus melewatinya? Dan bagaimana bisa ia berputus asa dari surga, sementara Allah menjanjikan keselamatan bagi orang-orang yang bertakwa?"

Ini menunjukkan bahwa para salafus shalih benar-benar menghidupkan keseimbangan antara takut dan harap dalam hati mereka. Mereka takut kepada siksa Allah, namun tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga keseimbangan antara takut dan harap dalam beribadah kepada Allah ﷻ. Jangan terlalu takut hingga putus asa, dan jangan terlalu berharap hingga lalai dari ketaatan.
  2. Renungkan dahsyatnya siksa Allah agar kita semakin berhati-hati dalam meninggalkan maksiat dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-Nya.
  3. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, sekalipun dosa kita banyak. Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
  4. Amalkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ agar diberi keseimbangan dalam beribadah, seperti doa: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya berupa perkataan dan perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya berupa perkataan dan perbuatan." (HR. Abu Dawud no. 5075, dari sahabat Abu Hurairah).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?