Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan adalah hadits yang sangat agung dan mencakup beberapa pelajaran penting: keutamaan mencari ilmu, kemudahan syariat dalam masalah mengusap khuf (sepatu) saat safar, keutamaan cinta karena Allah, dan yang terpenting adalah luasnya pintu taubat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hadits ini mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas dan pintu taubat terbuka lebar bagi hamba-Nya sebelum datangnya tanda-tanda besar kiamat, seperti terbitnya matahari dari barat.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang disebutkan dalam hadits:
Firman Allah tentang terbitnya matahari dari barat sebagai tanda taubat tidak lagi diterima:
يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ
"Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: 'Tunggulah olehmu sesungguhnya Kami pun menunggu.'" (QS. Al-An'am [6]: 158)
2. Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, Bab Tentang Keutamaan Taubat dan Istighfar, nomor 3536. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Hadits tentang pintu taubat di barat juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di malam hari, hingga matahari terbit dari barat." (HR. Muslim, no. 2759)
3. Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang tanda-tanda besar hari kiamat, dan beliau menukil pendapat para ulama bahwa yang dimaksud "sebagian tanda-tanda Tuhanmu" adalah terbitnya matahari dari barat. Saat itu, pintu taubat ditutup dan iman seseorang yang belum beriman sebelumnya tidak lagi bermanfaat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang perlu kita pahami:
1. Keutamaan Mencari Ilmu
Di awal hadits, Zirr bin Hubaish datang kepada sahabat Safwan bin 'Assal Al-Muradi untuk mencari ilmu. Safwan bin 'Assal menyambutnya dengan menyebutkan bahwa para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukannya.
Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang mencari ilmu syar'i. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah ditanya tentang orang yang lebih utama antara mencari ilmu atau berpuasa dan shalat sunnah, maka beliau menjawab bahwa mencari ilmu lebih utama, karena dengan ilmu seseorang bisa mengetahui bagaimana beribadah dengan benar.
2. Kemudahan Syariat: Mengusap Khuf
Zirr bertanya tentang keraguan yang ada di hatinya mengenai mengusap khuf (sepatu kulit) ketika safar. Safwan menjawab bahwa mereka diperintahkan untuk tidak melepas khuf selama tiga hari tiga malam ketika safar, kecuali karena junub (hadas besar). Adapun buang air besar, buang air kecil, dan tidur, maka cukup mengusap bagian atas khuf.
Ini adalah bentuk keringanan dari Allah bagi para musafir. Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya menjelaskan bahwa masa mengusap khuf bagi musafir adalah tiga hari tiga malam, sedangkan bagi orang yang mukim adalah satu hari satu malam. Ini adalah rahmat Allah yang memudahkan hamba-Nya dalam beribadah.
3. Keutamaan Cinta Karena Allah
Kemudian Zirr bertanya tentang cinta. Safwan menceritakan kisah seorang Badui yang memanggil Rasulullah ﷺ dengan suara keras. Orang-orang menegurnya karena memanggil Nabi ﷺ dengan cara yang kurang sopan, namun Rasulullah ﷺ menjawabnya dengan lembut dan suara yang mirip, menunjukkan kerendahan hati dan kelembutan akhlak beliau.
Orang Badui itu bertanya: "Seseorang mencintai suatu kaum tetapi belum bisa menyusul mereka?" Maka Rasulullah ﷺ menjawab: "Seseorang itu bersama dengan orang yang dicintainya."
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan mencintai orang-orang shalih, dan bahwa seorang mukmin yang mencintai para nabi dan orang-orang shalih akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat, meskipun amalnya tidak mencapai amal mereka. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi umat Islam.
4. Pintu Taubat yang Terbuka Lebar
Bagian terakhir hadits ini adalah yang paling agung. Safwan bin 'Assal menyampaikan bahwa Allah menjadikan di barat sebuah pintu taubat yang lebarnya sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Pintu ini tidak akan ditutup hingga matahari terbit dari barat.
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wa Al-Hikam menjelaskan bahwa pintu taubat ini adalah pintu yang terbuka bagi seluruh manusia untuk bertaubat. Selama pintu ini masih terbuka, Allah menerima taubat hamba-Nya. Namun ketika matahari terbit dari barat sebagai tanda besar kiamat, maka pintu taubat ditutup dan tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah bahwa pada hari datangnya tanda-tanda besar kiamat, tidak ada gunanya lagi keimanan seseorang yang sebelumnya tidak beriman, dan tidak bermanfaat pula amal kebaikan yang baru dilakukan setelah itu. Karena itu, kita diperintahkan untuk segera bertaubat sebelum datangnya hari tersebut.
Story Telling
Ada kisah yang sangat indah tentang luasnya rahmat Allah dan pintu taubat. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian ia bertanya kepada seorang alim: "Apakah masih ada taubat bagiku?" Orang alim itu menjawab: "Siapa yang menghalangimu dari taubat?" Maka orang itu pergi mencari orang yang lebih alim lagi.
Ia bertemu dengan seorang ahli ibadah dan bertanya lagi. Orang itu menjawab: "Tidak ada taubat bagimu." Maka orang itu membunuhnya dan melengkapinya menjadi seratus orang. Kemudian ia bertanya lagi kepada seorang alim yang sangat berilmu. Orang alim itu menjawab: "Siapa yang menghalangimu dari taubat? Sesungguhnya tidak ada penghalang antara kamu dan Allah. Pergilah ke negeri ini, di sana ada kaum yang beribadah kepada Allah, maka beribadahlah bersama mereka. Dan jangan kembali ke negerimu karena itu adalah negeri yang buruk."
Maka orang itu berangkat menuju negeri yang ditunjukkan. Di tengah perjalanan, ajal menjemputnya. Malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata: "Dia datang dalam keadaan bertaubat, menghadap kepada Allah dengan hatinya." Malaikat adzab berkata: "Dia belum pernah melakukan kebaikan sama sekali." Maka Allah mengutus malaikat yang datang dalam bentuk manusia untuk menjadi hakim di antara mereka. Malaikat itu berkata: "Ukurlah jarak antara dua negeri itu. Kepada negeri mana yang lebih dekat, maka itulah bagiannya." Mereka mengukurnya dan ternyata dia lebih dekat ke negeri tujuan (negeri kebaikan), maka malaikat rahmat mencabut nyawanya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri)
Kisah ini menunjukkan bahwa Allah menerima taubat hamba-Nya selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan selama matahari belum terbit dari barat. Rahmat Allah lebih luas dari dosa-dosa kita.
Kesimpulan Praktis
Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Bersemangatlah mencari ilmu syar'i, karena para malaikat mendoakan dan meridhai orang yang menuntut ilmu.
- Ambillah keringanan syariat yang Allah berikan, seperti mengusap khuf ketika safar, karena Allah menyukai hamba-Nya mengambil rukhshah (keringanan) yang Dia berikan.
- Cintailah orang-orang shalih dan para nabi, karena seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya di akhirat. Perbanyaklah cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
- Segera bertaubat sebelum terlambat, karena pintu taubat terbuka lebar hingga matahari terbit dari barat. Jangan menunda taubat, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
- Jangan berputus asa dari rahmat Allah, betapa pun besarnya dosa yang kita lakukan, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.