Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3513 tentang Doa malam Lailatul Qadar memohon ampunan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan doa yang paling utama dibaca ketika seseorang mengetahui atau menduga datangnya malam Lailatul Qadar, yaitu memohon ampunan dengan menyebut sifat Allah yang Maha Pemaaf dan Maha Mulia. Doa ini singkat, padat, dan mencakup inti kebutuhan hamba, yaitu ampunan. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih, sehingga layak diamalkan, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil utama adalah hadits riwayat Imam At-Tirmidzi (no. 3513) dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan beliau menyatakan: "هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ" (ini hadits hasan shahih). Hadits serupa juga diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah, sehingga maknanya kuat.

Lafaz doa yang diajarkan Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Terjemahan: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku."

Ayat yang berkaitan dengan keutamaan memohon ampunan dan sifat pemaaf Allah:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

QS. Thaha [20]: 82

Terjemahan: "Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi siapa saja yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di atas petunjuk."

Juga firman Allah:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

QS. An-Nisa' [4]: 43 (dan makna serupa di banyak ayat)

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun."

Kaitan ulama: Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dan menilai hadits ini; Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar memasukkan doa ini pada bab doa malam Lailatul Qadar; Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas keutamaan doa ini saat membahas Lailatul Qadar; Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan makna nama Allah "Al-'Afuww" dalam kitab Tafsir-nya bahwa Allah Maha Menghapus dosa dan tidak menyisakan bekasnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan adab bertanya 'Aisyah radhiyallahu 'anha kepada Nabi ﷺ: beliau tidak bertanya "apakah saya akan tahu malam itu?" tetapi "jika saya mengetahuinya, apa yang saya ucapkan?" Ini menunjukkan semangat salaf dalam memanfaatkan waktu mulia dengan amal, bukan sekadar ingin tahu tanda-tandanya.

Nabi ﷺ mengajarkan doa yang mengandung tiga hal penting:

Pertama, menetapkan sifat Allah: "إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ" — Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa mengenal nama dan sifat Allah adalah pintu doa; hamba memohon sesuai sifat yang sesuai dengan kebutuhannya. Karena kebutuhan terbesar di malam mulia adalah ampunan, maka beliau menyebut sifat "Al-'Afuww".

Kedua, "تُحِبُّ الْعَفْوَ" — Engkau mencintai ampunan. Ini menunjukkan bahwa memaafkan bukan sekadar kemampuan, tetapi juga dicintai oleh Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa menyebut sifat "mencintai ampunan" adalah bentuk tawassul (perantara) dalam doa, yaitu memohon dengan sifat yang Allah sendiri cintai.

Ketiga, "فَاعْفُ عَنِّي" — maka ampunilah aku. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa doa ini mencakup permohonan dihapusnya dosa dan dijauhkan dari akibat buruknya, bukan hanya sekedar pengampunan lisan.

Perbedaan pendapat kecil di antara ulama daftar: sebagian menambahkan lafaz "كَرِيمٌ" (Maha Mulia) dan sebagian riwayat tidak menyebutkannya. Imam At-Tirmidzi sendiri meriwayatkan dengan "كَرِيمٌ". Imam Ahmad dan An-Nasa'i meriwayatkan tanpa "كَرِيمٌ" dalam sebagian jalur. Yang paling kuat adalah menetapkan keduanya karena tsabit dalam riwayat At-Tirmidzi yang dinilai hasan shahih, dan menambah pujian kepada Allah tidak mengurangi keabsahan doa.

Syaikh as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa nama "Al-'Afuww" berarti Allah menghapus dosa hingga tidak tersisa, berbeda dengan "Al-Ghafur" yang menutupi dosa. Karena itu doa ini sangat tepat di malam Lailatul Qadar, malam penetapan takdir, agar catatan dosa dihapus.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha sangat antusias mencari malam Lailatul Qadar. Beliau tidak hanya beribadah, tetapi bertanya langsung kepada Nabi ﷺ tentang doa terbaik. Ini menunjukkan kecerdasan seorang mukminah: ketika tahu ada waktu mulia, ia bertanya amal apa yang paling utama, bukan sibuk dengan tanda-tanda. Nabi ﷺ pun tidak mengajarkan doa panjang, tetapi doa singkat yang penuh makna. Hikmahnya: amal yang sedikit tetapi ikhlas dan sesuai sunnah lebih baik daripada amal banyak tetapi tidak berdasarkan tuntunan. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa doa ini dianjurkan dibaca pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan dan amalkan doa ini, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, di malam ganjil, dan setiap kali berdoa.
  2. Perbanyak membaca: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
  3. Sadari makna "Al-'Afuww": Allah menghapus dosa, maka mohonlah dengan penuh harap, bukan putus asa.
  4. Ikuti sunnah Nabi ﷺ dalam berdoa: singkat, jelas, dan penuh pujian kepada Allah.
  5. Jangan hanya mencari tanda Lailatul Qadar, tetapi sibukkan diri dengan doa dan amal saleh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?