Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dalil utama tentang keutamaan menghafal, memahami, dan mengamalkan makna 99 Asmaul Husna (nama-nama Allah yang indah). Siapa yang "menghitungnya" — yaitu menjaga, menghafal, memahami maknanya, dan beribadah kepada Allah sesuai tuntunan nama-nama tersebut — maka dia dijanjikan masuk surga. Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, dan menjadi landasan bagi umat Islam untuk mempelajari dan mengamalkan Asmaul Husna dalam kehidupan sehari-hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi:
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ"
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, siapa yang menghitungnya (menjaganya) akan masuk surga." (HR. At-Tirmidzi no. 3508, beliau berkata: "Hadits hasan shahih")
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 180
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
Penjelasan Ulama:
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Badai'ul Fawaid menjelaskan bahwa "menghitung" nama-nama Allah (ihsha') memiliki tiga tingkatan:
- Menghafal lafazhnya — mengetahui nama-nama tersebut secara tekstual
- Memahami maknanya — mengerti arti dan kandungan setiap nama
- Beribadah sesuai maknanya — berdoa dan beramal dengan menyelaraskan hati kepada Allah sesuai tuntutan nama tersebut
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna ihsha' (menghitung) bukan sekadar menghafal, tetapi mencakup memahami makna dan beramal sesuai konsekuensinya.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kabar gembira yang besar bagi umat Islam. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi siapa yang mempelajari dan mengamalkan Asmaul Husna.
Penting untuk diperhatikan: Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi ini, tidak disebutkan daftar 99 nama tersebut. Imam At-Tirmidzi sendiri menegaskan: "Dan tidak ada dalam hadits ini penyebutan nama-nama tersebut." Ini menunjukkan bahwa daftar 99 nama yang masyhur beredar di masyarakat — yang dimulai dengan "Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim..." — adalah riwayat yang diperselisihkan keshahihannya oleh para ulama.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa nama-nama Allah tidak terbatas hanya 99, karena Allah memiliki nama-nama yang tidak diketahui oleh makhluk-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud "99 nama" adalah bilangan yang disebutkan dalam hadits, namun ini bukan pembatasan bahwa Allah hanya memiliki 99 nama. Justru Allah memiliki nama-nama yang lebih banyak lagi, dan 99 nama tersebut adalah yang disebutkan secara khusus karena keutamaannya.
Perbedaan pendapat tentang daftar 99 nama:
Sebagian ulama seperti Imam At-Tirmidzi dan Imam Al-Bukhari meriwayatkan daftar 99 nama dalam sebagian riwayat, namun para ulama hadits seperti Imam Ibnul Qayyim dan Syaikh Al-Albani menilai bahwa daftar tersebut tidak shahih dari Nabi ﷺ. Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Silsilah Ash-Shahihah menjelaskan bahwa hadits yang menyebutkan daftar 99 nama secara rinci adalah hadits dha'if (lemah), namun hadits pokok tentang 99 nama tetap shahih.
Cara mengamalkan hadits ini menurut para ulama:
- Menghafal nama-nama Allah — ini adalah langkah awal
- Memahami maknanya — mempelajari tafsir dan kandungan setiap nama
- Berdoa dengan nama-nama tersebut — sebagaimana firman Allah: "Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu"
- Beribadah sesuai konsekuensinya — misalnya, jika kita tahu Allah Maha Pengampun, kita banyak beristighfar; jika tahu Allah Maha Pemberi Rezeki, kita bertawakal dan berusaha
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan bin 'Uyainah — salah satu perawi hadits ini — pernah ditanya tentang makna firman Allah: "Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu." Beliau menjawab: "Maknanya adalah: bermohonlah kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya yang sesuai dengan kebutuhanmu. Jika engkau memohon rezeki, ucapkanlah: 'Ya Razzaq (Wahai Pemberi Rezeki), berilah aku rezeki.' Jika engkau memohon ampunan, ucapkanlah: 'Ya Ghaffar (Wahai Maha Pengampun), ampunilah aku.' Jika engkau memohon rahmat, ucapkanlah: 'Ya Rahim (Wahai Maha Penyayang), rahmatilah aku.'"
Ini menunjukkan bahwa mempelajari Asmaul Husna bukan sekadar hafalan, tetapi bagaimana kita menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap doa dan permohonan kita.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan 99 nama Allah yang masyhur, meskipun daftar rincinya diperselisihkan, namun menghafalnya tetap baik selama tidak meyakini bahwa daftar tersebut pasti dari Nabi ﷺ secara tekstual
- Pelajari makna setiap nama Allah dari kitab-kitab ulama seperti Tafsir Asma'ullah karya Imam Ibnul Qayyim atau Al-Qawa'idul Mutsla karya Syaikh Al-Utsaimin
- Gunakan nama-nama Allah dalam doa — sesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kita
- Amalkan konsekuensinya — jika Allah Maha Melihat, maka jaga diri dari perbuatan dosa; jika Allah Maha Pemberi, maka perbanyak bersyukur
- Jangan menyalahartikan nama-nama Allah — sebagaimana larangan dalam QS. Al-A'raf: 180, jangan menafsirkan nama-nama Allah dengan makna yang menyimpang
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.