Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita doa perlindungan dari tujuh perkara yang menjadi sumber kesulitan hidup: kesedihan, duka, ketidakberdayaan, kemalasan, kebakhilan, beban utang yang berat, dan penindasan dari manusia. Doa ini sering dibaca oleh Nabi ﷺ dan mengandung permohonan agar kita dilindungi dari gangguan batin, kelemahan fisik, dan masalah sosial yang dapat merusak iman dan kehidupan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Baqarah [2]: 286
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۚ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Terjemahan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'"
Hadits:
Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 3484, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Saya sering mendengar Nabi ﷺ berdoa dengan kata-kata ini: 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan, duka, ketidakberdayaan, kemalasan, kebakhilan, beban utang yang berat, dan penindasan dari manusia.'"
Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur Amr bin Abi Amr.
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar (bab doa-doa perlindungan) menyebutkan hadits ini dan menjelaskan bahwa doa ini mencakup perlindungan dari penyakit hati dan fisik. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/173) saat menjelaskan hadits serupa dalam Shahih Al-Bukhari, menekankan bahwa doa ini mengajarkan kita untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kelemahan yang menghalangi ketaatan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung tujuh permohonan perlindungan yang sangat penting:
- Al-Hamm (kesedihan/kecemasan): Perasaan gelisah tentang masa depan atau sesuatu yang belum terjadi. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kecemasan berlebihan dapat melumpuhkan hati dari tawakkal kepada Allah.
- Al-Hazan (duka): Kesedihan atas sesuatu yang telah berlalu. Ini berbeda dengan al-hamm yang tentang masa depan. Keduanya adalah penyakit hati yang menghalangi seseorang untuk bersyukur dan bersabar.
- Al-'Ajz (ketidakberdayaan): Kelemahan untuk melakukan kebaikan atau meninggalkan keburukan. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan doa ini karena ketidakberdayaan adalah pangkal segala keburukan.
- Al-Kasal (kemalasan): Sikap malas untuk beribadah dan beramal shalih. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sering berlindung dari kemalasan karena ia menghalangi seseorang dari kebaikan dunia dan akhirat.
- Al-Bukhl (kebakhilan): Sifat pelit yang menghalangi seseorang untuk berinfak dan berbagi. Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa kebakhilan adalah akhlak tercela yang bertentangan dengan sifat dermawan yang diajarkan Islam.
- Dhola' ad-Dain (beban utang yang berat): Utang yang menekan dan menyulitkan kehidupan. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/173) menjelaskan bahwa utang bisa menyebabkan seseorang berbohong, ingkar janji, dan sibuk memikirkan dunia sehingga melalaikan akhirat.
- Ghalabat ar-Rijal (penindasan dari manusia): Kekuasaan orang lain yang menzalimi atau menguasai seseorang secara tidak adil. Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini termasuk permohonan agar dilindungi dari penguasa zalim, tetangga buruk, atau siapa pun yang menyakiti.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (17/35) menekankan bahwa doa ini mengajarkan kita untuk memohon perlindungan dari hal-hal yang merusak agama dan dunia secara bersamaan. Beliau juga menjelaskan bahwa doa ini tidak berarti kita tidak boleh merasa sedih atau lemah secara manusiawi, tetapi kita memohon agar hal-hal tersebut tidak menguasai hati dan menghalangi ketaatan.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Rasulullah ﷺ sering mengucapkan doa ini. Beliau mengajarkannya kepada para sahabat sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur'an." (HR. An-Nasa'i, dishahihkan Al-Albani)
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya doa ini. Para sahabat sangat antusias menghafalnya karena mereka melihat langsung bagaimana Rasulullah ﷺ sendiri sering membacanya. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan doa-doa yang diajarkan Nabi, meskipun terlihat sederhana.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan doa ini dan bacalah setiap hari, terutama setelah shalat atau saat menghadapi kesulitan.
- Pahami maknanya agar kita benar-benar merasakan perlindungan yang dimohon.
- Jangan menganggap remeh masalah kecemasan, kesedihan, atau kemalasan karena bisa menghalangi ketaatan.
- Hindari utang yang tidak perlu dan jika berutang, segera lunasi agar tidak menjadi beban.
- Minta perlindungan dari penindasan dan berusahalah menjadi orang yang adil dan tidak menzalimi orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.