Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ tentang keutamaan dzikir setelah shalat Subuh. Barangsiapa yang mengucapkan dzikir yang mulia ini sebanyak sepuluh kali, dalam keadaan kakinya masih dalam posisi duduk (belum beranjak) dan sebelum berbicara dengan siapa pun, maka Allah akan mencatatkan baginya sepuluh kebaikan, menghapus sepuluh keburukan, mengangkat sepuluh derajat, menjaganya dari segala hal yang dibenci, dan melindunginya dari gangguan setan pada hari itu. Ini adalah amalan yang ringan di lisan namun sangat besar pahalanya di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa, no. 3474, dari sahabat Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi sendiri menilai hadits ini sebagai hadits hasan gharib shahih.
Berikut adalah teks hadits dalam bahasa Arab beserta artinya:
Teks Arab (potongan inti dzikir):
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam 'Amalul Yaum wal Lailah dan Imam Al-Bazzar, dengan lafaz yang semakna. Para ulama menjelaskan bahwa dzikir ini adalah dzikir yang agung dan termasuk dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca setelah shalat.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Fajar (Subuh): Waktu setelah shalat Subuh adalah waktu yang penuh berkah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa waktu pagi adalah waktu di mana para malaikat turun dan naik, dan dzikir di waktu ini memiliki keutamaan yang besar. Hadits ini secara khusus menyebutkan keutamaan dzikir setelah shalat Subuh, yang menunjukkan perhatian khusus syariat pada waktu ini.
- Makna "Di Akhir Shalat Fajar dan Kedua Kakinya Masih Terlipat": Maksudnya adalah dzikir ini dibaca setelah salam, dalam posisi duduk tasyahud, sebelum mengubah posisi kaki dan sebelum berbicara dengan siapa pun. Ini menunjukkan adab dan kesungguhan seorang hamba yang segera berdzikir kepada Allah setelah menunaikan ibadah shalat, tidak menunda-nundanya dengan urusan dunia. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa berdzikir setelah shalat secara umum adalah sunnah, dan hadits ini menegaskan keutamaannya secara khusus.
- Makna Dzikir "Laa ilaaha illallah..." (Tauhid dan Pengagungan kepada Allah): Kalimat ini adalah kalimat tauhid yang agung. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung penetapan keesaan Allah dalam rububiyah (ketuhanan), uluhiyah (ibadah), dan asma wa shifat (nama dan sifat). Frasa "Dia yang menghidupkan dan mematikan" menegaskan kekuasaan Allah atas kehidupan dan kematian, dan "Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu" mencakup seluruh kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Dengan mengucapkan dan meyakini makna ini, seorang hamba menghadirkan ketauhidan yang murni di hadapan Allah.
- Balasan yang Berlipat Ganda: Hadits ini menyebutkan balasan yang sangat besar:
- Sepuluh kebaikan ditulis: Ini adalah karunia Allah yang melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang berdzikir.
- Sepuluh keburukan dihapus: Ini adalah rahmat Allah yang menghapus dosa-dosa kecil dengan amalan-amalan baik.
- Sepuluh derajat diangkat: Ini adalah peningkatan kedudukan seorang hamba di sisi Allah.
- Dijaga dari segala yang dibenci dan dari setan: Ini adalah perlindungan khusus dari Allah sepanjang hari itu. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah menjelaskan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan yang nyata bagi yang mengamalkannya.
- Pengecualian Dosa Syirik: Kalimat "tidak ada dosa yang akan menimpanya pada hari itu, kecuali syirik kepada Allah" menunjukkan bahwa dzikir ini menjadi sebab terhindarnya seorang hamba dari dosa-dosa besar dan kecil pada hari itu, kecuali jika ia terjerumus ke dalam syirik. Ini adalah dorongan yang sangat kuat untuk menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil (seperti riya').
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat zuhud dan teguh dalam tauhid. Beliau dikenal karena kejujurannya dan kecintaannya yang mendalam kepada Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadanya banyak dzikir dan doa. Hadits ini adalah salah satu wasiat berharga yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar dan kepada seluruh umat.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para sahabat sangat antusias menghafal dan mengamalkan setiap ajaran Nabi ﷺ, terutama amalan-amalan yang ringan namun memiliki ganjaran yang besar. Mereka tidak meremehkan amalan kecil karena mereka yakin dengan janji Allah dan Rasul-Nya. Ini menjadi teladan bagi kita untuk tidak meremehkan dzikir-dzikir yang diajarkan, karena bisa jadi dzikir tersebut adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan kita.
Kesimpulan Praktis
Berikut adalah poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Niatkan dengan Ikhlas: Luruskan niat hanya karena Allah Ta'ala semata, bukan karena ingin dilihat atau didengar orang lain.
- Amalkan Setelah Shalat Subuh: Setelah salam dari shalat Subuh, dalam posisi duduk tasyahud (kaki masih terlipat), segera ucapkan dzikir ini.
- Baca Sebelum Berbicara: Usahakan untuk membaca dzikir ini sebelum berbicara dengan siapa pun atau melakukan aktivitas lainnya.
- Baca Sebanyak Sepuluh Kali: Baca dzikir "Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiitu, wa huwa 'alaa kulli syai-in qadiir" sebanyak sepuluh kali.
- Yakini Janji Allah: Tanamkan keyakinan yang kuat di dalam hati bahwa Allah akan menepati janji-Nya bagi hamba yang berdzikir kepada-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.