Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan dua kalimat dzikir yang sangat istimewa: "Subhanallah wa bihamdih, Subhanallahil 'Azhim" (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung). Dua kalimat ini ringan diucapkan, namun sangat berat timbangannya di sisi Allah pada hari kiamat, dan sangat dicintai oleh Allah Ar-Rahman. Ini adalah amalan yang mudah namun pahalanya luar biasa besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa dari Rasulullah ﷺ, Bab (tentang keutamaan dzikir), no. 3467. Beliau menilai hadits ini hasan gharib shahih. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 6406 dan Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 2694, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi (dalam Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa makna "ringan di lidah" adalah mudah diucapkan, tidak memberatkan, dan tidak memerlukan banyak tenaga. Sedangkan "berat di timbangan" maksudnya adalah besar pahalanya di sisi Allah pada hari kiamat.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menambahkan bahwa keutamaan ini menunjukkan betapa besarnya rahmat Allah yang memberikan pahala besar untuk amalan yang ringan. Ini adalah motivasi bagi kaum muslimin untuk memperbanyak dzikir ini.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menjelaskan bahwa kalimat "Subhanallah" berarti mensucikan Allah dari segala kekurangan dan aib. Sedangkan "Alhamdulillah" berarti memuji Allah dengan segala kesempurnaan-Nya. Gabungan keduanya dalam satu kalimat "Subhanallah wa bihamdih" mengandung makna pensucian dan pujian sekaligus.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung tentang keutamaan dzikir. Mari kita bedah maknanya:
- "KALIMATAIN" (Dua Kalimat): Yang dimaksud bukan dua kalimat terpisah, tetapi dua bentuk dzikir yang saling berkaitan, yaitu "Subhanallah wa bihamdih" dan "Subhanallahil 'Azhim". Keduanya sering diucapkan berurutan.
- "KHAFIFATAN 'ALAL LISAN" (Ringan di Lidah): Ini adalah sifat fisik dari dzikir ini. Tidak butuh waktu lama, tidak butuh gerakan tubuh, dan tidak butuh persiapan khusus. Cukup dengan menggerakkan lidah, seorang hamba bisa mendapatkan pahala yang besar. Ini menunjukkan kemudahan syariat Islam.
- "TSAQILATAN FIL MIZAN" (Berat di Timbangan): Ini adalah sifat pahala dari dzikir ini. Pada hari kiamat, amal perbuatan manusia akan ditimbang. Dzikir ini, meskipun ringan diucapkan, akan menjadi amal yang sangat berat timbangannya, melebihi amalan-amalan lain yang mungkin lebih berat secara fisik. Ini adalah karunia Allah semata.
- "HABIBATAN ILAR RAHMAN" (Dicintai oleh Ar-Rahman): Ini adalah puncak dari keutamaan. Allah Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) mencintai kalimat-kalimat ini. Ini menunjukkan bahwa dzikir ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi-Nya. Ketika Allah mencintai suatu amalan, maka amalan itu akan diterima dan dilipatgandakan pahalanya.
Perbedaan Pendapat Ulama:
Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan di kalangan ulama Ahlus Sunnah mengenai keutamaan hadits ini. Semua sepakat bahwa hadits ini shahih dan amalan ini sangat dianjurkan. Perbedaan hanya pada detail redaksi, seperti apakah cukup membaca salah satu atau harus keduanya. Pendapat yang lebih kuat adalah membaca keduanya secara berurutan sebagaimana dalam teks hadits.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ dan mengeluhkan beratnya amalan. Beliau ﷺ lalu mengajarkan dzikir ini. Sahabat itu pun mengamalkannya dan merasakan ringan di lidah namun berat di hati karena merasakan keagungan Allah. Ini menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya ucapan, tetapi juga penghayatan hati.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyaklah mengucapkan dzikir "Subhanallah wa bihamdih, Subhanallahil 'Azhim" setiap hari, terutama di waktu pagi dan petang, setelah shalat, atau di waktu senggang.
- Yakinilah bahwa dzikir ini sangat ringan namun pahalanya sangat besar. Jangan meremehkan amalan kecil karena bisa menjadi penentu beratnya timbangan amal kebaikan kita.
- Hayatilah maknanya saat mengucapkannya, yaitu mensucikan Allah dari segala kekurangan dan memuji-Nya dengan segala kesempurnaan.
- Ajarkanlah dzikir ini kepada keluarga, kerabat, dan teman-teman, karena ini adalah wasiat Nabi ﷺ yang sangat berharga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.