Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3460 tentang Keutamaan dzikir pengampun dosa sebanyak buih lautan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau mengabarkan bahwa siapa saja yang mengucapkan kalimat "Lā ilāha illallāh, wa Allāhu akbar, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan Allah), maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah, meskipun dosa-dosanya sebanyak buih di lautan. Ini menunjukkan betapa agungnya kalimat-kalimat ini di sisi Allah dan betapa luasnya rahmat-Nya bagi hamba-Nya yang mengucapkannya dengan ikhlas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Doa, Bab Keutamaan Tasbih, Takbir, Tahlil, dan Hamd, nomor 3460. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib (baik dan hanya diriwayatkan melalui satu jalur tertentu).

Teks Hadits (bagian inti):

مَا عَلَى الأَرْضِ أَحَدٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Makna: "Tidak ada seorang pun di bumi ini yang mengucapkan: 'Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah', kecuali dosanya akan diampuni, meskipun dosanya sebanyak buih di lautan."

Catatan Penting: Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan bahwa Imam Syu'bah meriwayatkan hadits ini dari Abu Balj dengan sanad yang sama, namun tidak memarfu'kannya (tidak menyandarkannya langsung kepada Nabi ﷺ, melainkan hanya perkataan Abdullah bin Amr). Ini adalah catatan penting yang menunjukkan adanya perbedaan dalam periwayatan, namun jalur yang marfu' (sampai kepada Nabi ﷺ) tetap dinilai hasan oleh At-Tirmidzi.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Kalimat-kalimat Ini

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa kalimat Lā ilāha illallāh adalah kalimat tauhid yang merupakan inti dakwah para rasul. Adapun Allāhu akbar adalah pengagungan kepada Allah, dan lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh adalah kalimat yang mengandung pengakuan bahwa segala daya dan kekuatan hanyalah milik Allah. Gabungan ketiga kalimat ini mengandung tauhid, pengagungan, dan kepasrahan total kepada Allah.

2. Makna "Dosa Diampuni"

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa pengampunan dosa di sini adalah untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar membutuhkan taubat yang khusus. Namun, jika Allah berkehendak dengan rahmat-Nya yang luas, Dia bisa mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki. Beliau juga menekankan bahwa pengampunan ini terkait dengan keikhlasan hati dalam mengucapkannya.

3. Makna "Seperti Buih di Lautan"

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perumpamaan "buih di lautan" adalah untuk menunjukkan betapa banyaknya dosa yang bisa diampuni. Ini adalah bentuk mubalaghah (penekanan) dalam bahasa Arab untuk menunjukkan sesuatu yang sangat banyak. Ini juga menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan betapa agungnya kalimat-kalimat ini.

4. Syarat Pengampunan

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pengampunan dosa dengan kalimat-kalimat ini harus disertai dengan keikhlasan dan keyakinan yang benar. Beliau menekankan bahwa yang dimaksud adalah orang yang mengucapkannya dengan hati yang yakin, bukan sekadar di lisan saja. Ini sejalan dengan hadits lain yang menyebutkan bahwa siapa yang mengucapkan Lā ilāha illallāh dengan jujur dari hatinya, maka dia akan masuk surga.

5. Perbedaan Riwayat

Sebagaimana disebutkan At-Tirmidzi, Imam Syu'bah meriwayatkan hadits ini tanpa memarfu'kannya (hanya sebagai perkataan Abdullah bin Amr). Namun, jalur yang marfu' tetap dinilai hasan oleh At-Tirmidzi. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits yang marfu' ini tetap bisa diamalkan karena jalurnya hasan, dan maknanya juga didukung oleh hadits-hadits lain tentang keutamaan dzikir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang sangat bersemangat dalam beribadah dan berdzikir. Beliau termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadits tentang keutamaan dzikir. Suatu ketika, beliau menyampaikan hadits ini kepada murid-muridnya, yaitu Amr bin Maimun dan para tabi'in lainnya. Mereka sangat antusias mendengar kabar gembira ini, karena ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kemudahan bagi hamba-Nya untuk mendapatkan ampunan melalui dzikir yang ringan di lisan namun berat di timbangan.

Hikmah: Para sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan dzikir-dzikir ringan yang memiliki keutamaan besar. Mereka tidak meremehkan amalan-amalan kecil, karena mereka tahu bahwa Allah bisa memberikan pahala yang besar untuk amalan yang ikhlas dan ringan. Ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan dzikir-dzikir pendek, karena bisa jadi itulah sebab utama kita mendapatkan ampunan Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah mengucapkan kalimat "Lā ilāha illallāh, wa Allāhu akbar, wa lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh" setiap hari, karena ini adalah dzikir yang ringan namun memiliki keutamaan yang sangat besar.
  2. Ucapkan dengan ikhlas dan yakin, bukan sekadar di lisan. Hati harus meyakini makna kalimat-kalimat ini.
  3. Jangan meremehkan dosa-dosa kecil, namun juga jangan berputus asa dari rahmat Allah. Dzikir ini adalah salah satu sarana untuk menghapus dosa-dosa kecil.
  4. Amalkan dzikir ini di berbagai kesempatan, seperti setelah shalat, di pagi dan petang hari, atau saat sedang beraktivitas.
  5. Tetap berhati-hati dari dosa-dosa besar, karena dosa besar membutuhkan taubat yang khusus dengan menyesali, meninggalkan, dan bertekad tidak mengulanginya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.