Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ketika marah, bacalah “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim” (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Kalimat ini dapat meredakan kemarahan karena marah berasal dari bisikan setan, dan dengan berlindung kepada Allah, setan akan menjauh sehingga kemarahan pun hilang.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur’an:
QS. Al-A’raf [7]: 200
وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ ۚ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Dan jika setan datang menggodamu dengan suatu godaan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Hadits:
Hadits riwayat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu dalam Jami’ At-Tirmidzi no. 3452, dari jalur Sufyan ats-Tsauri dari Abdul Malik bin Umair dari Abdurrahman bin Abi Laila. Meskipun sanadnya terdapat kemursalan (karena Abdurrahman bin Abi Laila tidak mendengar langsung dari Mu’adz), namun hadits ini memiliki syawahid (penguat) dari riwayat lain, seperti dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya membaca ta’awudz saat marah. Beliau berkata, “Marah itu dari setan, dan setan dikalahkan dengan isti’adzah (berlindung kepada Allah).” (Al-Adzkar, bab ma yaqulu ‘indal ghadhab)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu’ al-Fatawa (10/635) menegaskan bahwa marah adalah api yang ditiupkan setan ke dalam hati manusia, dan obatnya adalah isti’adzah serta diam.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengajarkan tuntunan praktis saat marah. Ketika dua orang saling mencaci di hadapan Nabi ﷺ, beliau melihat kemarahan tampak jelas di wajah salah seorang. Maka beliau bersabda bahwa ada satu kalimat yang jika diucapkan, kemarahan akan hilang, yaitu “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim.”
Para ulama menjelaskan bahwa marah adalah salah satu pintu masuk setan. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Marah adalah pangkal segala keburukan.” (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah, yang menjadi salah satu perawi hadits ini, dikenal sebagai ulama yang sangat menekankan pentingnya mengendalikan amarah. Beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak bisa mengendalikan amarahnya, maka setan akan mempermainkannya.”
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa marah adalah ujian bagi keimanan seseorang. Beliau mengutip hadits, “Orang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa isti’adzah efektif?
Karena marah adalah bisikan setan yang ingin memecah belah persaudaraan. Dengan membaca ta’awudz, seorang muslim secara sadar memohon perlindungan kepada Allah, dan setan akan menjauh. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf [7]: 200 di atas.
Praktik tambahan dari ulama:
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam Al-Musnad meriwayatkan bahwa jika marah, dianjurkan juga untuk:
- Duduk jika berdiri, berbaring jika duduk (karena marah cenderung membuat tegang).
- Diam, tidak banyak bicara.
- Berwudhu, karena air mendinginkan api amarah.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menambahkan bahwa membaca ta’awudz adalah langkah pertama yang paling ringan namun sangat besar pengaruhnya, karena langsung melibatkan hati kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku duduk di samping Nabi ﷺ, dan ada dua orang laki-laki saling mencaci. Salah seorang dari mereka memerah wajahnya dan urat lehernya menonjol karena marah. Maka Nabi ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya aku tahu satu kalimat, jika ia mengucapkannya, niscaya kemarahannya akan hilang. Jika ia mengucapkan: A’udzu billahi minasy syaithanir rajim, niscaya kemarahannya akan hilang.’” (HR. Bukhari no. 3282 dan Muslim no. 2610)
Kisah ini menunjukkan kasih sayang Nabi ﷺ yang mengajarkan solusi sederhana namun dahsyat. Beliau tidak menyuruh orang itu berdebat atau melawan, tetapi cukup berlindung kepada Allah. Ini adalah obat yang paling ringan namun paling mujarab.
Kesimpulan Praktis
- Baca ta’awudz saat marah: “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim.”
- Diam dan jangan banyak bicara saat marah, karena ucapan saat marah sering menyesatkan.
- Ubah posisi jika memungkinkan: duduk jika berdiri, berbaring jika duduk.
- Berwudhu karena air dapat meredakan panasnya amarah.
- Ingatlah bahwa marah adalah bisikan setan, dan setan akan lari saat kita menyebut nama Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.