Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan doa yang diucapkan Nabi ﷺ ketika kembali dari perjalanan (safar): "Ā’ibūna tā’būna ‘ābidūna lirabbinā ḥāmidūn" — yaitu kita kembali dengan keadaan bertaubat, beribadah, dan memuji Allah. Doa ini menunjukkan adab seorang muslim yang selalu mengaitkan perjalanan dengan taubat dan syukur kepada Allah, bukan sekadar kesenangan duniawi. Imam at-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama (perawi: Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, dari jalur putranya Ar-Rabi'):
> حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ، أَنْبَأَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ سَمِعْتُ الرَّبِيعَ بْنَ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ قَالَ "آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ"
Terjemahan: "Ar-Rabi' bin Al-Bara' bin 'Azib menceritakan dari ayahnya, bahwa Nabi ﷺ apabila datang (kembali) dari safar, beliau mengucapkan: Ā’ibūna tā’ibūna ‘ābidūna lirabbinā ḥāmidūn (kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah, dan kami memuji Rabb kami)."
Imam at-Tirmidzi berkata: "Hadits ini hasan shahih." Beliau juga menyebutkan bahwa Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan hadits ini dari Abu Ishaq dari Al-Bara' tanpa menyebut Ar-Rabi', namun riwayat Syu'bah lebih shahih. Hadits ini juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, Anas, dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhum.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan — perintah berdzikir dan kembali kepada Allah:
QS. Al-Baqarah [2]: 186
> وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bab doa safar dan bahwa dzikir ini disunnahkan saat kembali. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa doa ini mengandung empat makna: kembali (ā’ibūn), taubat (tā’ibūn), ibadah (‘ābidūn), dan pujian (ḥāmidūn). Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad memasukkan doa ini dalam bab dzikir safar.
Penjelasan Rinci
Makna kalimat doa:
- Ā’ibūn (آيِبُونَ) — bentuk jamak dari ā'ib, artinya orang-orang yang kembali. Maksudnya: kami kembali ke kampung halaman kami, dan lebih dalam lagi, kami kembali kepada Allah dengan hati yang sadar.
- Tā’ibūn (تَائِبُونَ) — orang-orang yang bertaubat. Perjalanan sering membuat hati lalai, maka saat kembali seorang muslim menutup safarnya dengan taubat.
- ‘Ābidūn (عَابِدُونَ) — orang-orang yang beribadah. Yakni kami kembali bukan untuk berhenti beribadah, tetapi tetap dalam keadaan menghamba kepada Allah.
- Lirabbinā Ḥāmidūn (لِرَبِّنَا حَامِدُونَ) — bagi Rabb kami, kami memuji. Pujian atas keselamatan, kesehatan, dan kemudahan selama safar.
Pemahaman ulama:
- Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini dalam Jami' at-Tirmidzi, Kitab Doa, Bab "Apa yang diucapkan ketika kembali dari perjalanan", dan menilainya hasan shahih. Beliau juga menegaskan bahwa riwayat Syu'bah (yang menyebut Ar-Rabi' dari ayahnya) lebih shahih daripada riwayat ats-Tsauri.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa doa ini diucapkan Nabi ﷺ ketika kota (Madinah) sudah terlihat saat kembali dari safar. Beliau juga menyebutkan bahwa doa ini mengandung pengakuan bahwa safar adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.
- Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar memasukkan doa ini dalam bab "Dzikir ketika kembali dari safar", dan menganjurkan membacanya saat perjalanan pulang, terutama ketika kampung halaman mulai tampak.
- Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan doa ini saat kembali, dan beliau juga bertakbir tiga kali ketika melihat kota, lalu membaca doa ini. Ini menunjukkan adab safar yang lengkap: takbir, dzikir, dan doa.
Perbedaan riwayat: Sufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari Abu Ishaq dari Al-Bara' secara langsung (tanpa Ar-Rabi'), sedangkan Syu'bah menyebutkan Ar-Rabi' dari ayahnya. Imam at-Tirmidzi menegaskan riwayat Syu'bah lebih shahih karena lebih lengkap sanadnya. Ini menunjukkan ketelitian ulama dalam menilai sanad.
Story Telling
Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits. Beliau pernah ikut dalam banyak peperangan bersama Nabi ﷺ. Suatu ketika, beliau menceritakan kepada putranya, Ar-Rabi', tentang kebiasaan Nabi ﷺ saat kembali dari safar. Ar-Rabi' kemudian menyampaikan kepada murid-muridnya, termasuk Abu Ishaq as-Sabi'i, yang kemudian diriwayatkan oleh Syu'bah bin al-Hajjaj dan Sufyan ats-Tsauri.
Hikmahnya: seorang sahabat tidak menyimpan sendiri sunnah yang beliau lihat, tetapi mengajarkannya kepada anak dan murid-muridnya. Inilah cara sunnah terjaga hingga sampai kepada kita. Imam at-Tirmidzi, Imam Bukhari, dan Imam Muslim kemudian mencatatnya dalam kitab-kitab mereka.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan doa ini dan baca ketika kembali dari perjalanan, terutama saat kampung halaman mulai terlihat.
- Sertakan taubat dalam setiap akhir perjalanan — karena safar sering membuat kita lalai.
- Ucapkan dengan hati yang hadir, bukan sekadar lisan, karena maknanya sangat dalam.
- Ajak keluarga untuk bersama-sama mengamalkan doa ini saat pulang safar.
- Ikuti pemahaman ulama dalam menilai hadits — sebagaimana at-Tirmidzi menilai hasan shahih dan membandingkan riwayat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.