Penjelasan Hadits Tirmidzi No. 3434 tentang Doa penutup majelis memohon ampunan dan tobat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat sering beristighfar dan bertaubat kepada Allah, yaitu sampai seratus kali dalam satu majelis, dengan doa: "Rabbighfirlī watub 'alayya innaka antat-Tawwābul-Ghafūr." Ini menunjukkan kerendahan hati beliau, padahal dosanya telah diampuni. Kita dianjurkan meneladani beliau dengan memperbanyak istighfar, terutama saat hendak berdiri dari majelis.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. An-Nur [24]: 31 (potongan yang relevan):

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Terjemahan: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 3434) dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dan beliau menilainya hasan shahih gharib. Hadits ini juga memiliki syahid (penguat) dari riwayat lain, di antaranya hadits Abu Hurairah dan Al-Agharr bin Yasar dalam kitab-kitab sunan, yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ beristighfar lebih dari tujuh puluh atau seratus kali dalam sehari.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ yang sangat banyak bukan karena beliau berdosa, tetapi sebagai bentuk syukur, tawadhu', dan pengajaran bagi umat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perintah bertaubat dalam Al-Qur'an mencakup seluruh mukmin, dan Nabi ﷺ sebagai imam mereka menjadi yang paling dahulu mengamalkannya.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa taubat yang diterima adalah taubat yang dilakukan dengan ikhlas, menyesali perbuatan, dan bertekad tidak mengulangi.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma menceritakan bahwa dalam satu majelis, beliau menghitung Rasulullah ﷺ mengucapkan doa istighfar ini sebanyak seratus kali sebelum beliau berdiri. Doa yang diucapkan adalah:

"Rabbighfirlī watub 'alayya innaka antat-Tawwābul-Ghafūr"

(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengampun.)

Pemahaman ulama:

  1. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ telah diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang, beliau tetap memperbanyak istighfar sebagai bentuk kesempurnaan ibadah, syukur, dan tawadhu' kepada Allah. Ini menjadi teladan bagi umat agar tidak merasa cukup dengan amal yang sedikit.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa istighfar adalah ibadah yang paling mudah namun sangat besar pahalanya, karena ia mengandung pengakuan atas kelemahan diri dan kebutuhan kepada Allah.
  3. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa memperbanyak istighfar di akhir majelis adalah sunnah yang dianjurkan, sebagai penutup majelis dari kelalaian dan dosa yang mungkin terjadi selama berbicara.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa At-Tawwāb (Maha Penerima Taubat) dan Al-Ghafūr (Maha Pengampun) adalah dua nama Allah yang menunjukkan luasnya rahmat-Nya bagi hamba yang kembali kepada-Nya.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang jumlah pasti istighfar Nabi ﷺ dalam satu majelis. Ada riwayat yang menyebutkan tujuh puluh kali, ada yang seratus kali. Namun, tidak ada pertentangan yang signifikan; semuanya menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat banyak beristighfar. Yang paling kuat adalah riwayat seratus kali sebagaimana dalam hadits ini, karena shahih dan sharih (jelas).

Story Telling

Dikisahkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau adalah seorang sahabat yang sangat teliti dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau memperhatikan setiap gerak-gerik dan ucapan Nabi ﷺ, termasuk ketika beliau duduk dalam majelis.

Suatu hari, Ibnu Umar duduk bersama Nabi ﷺ dan para sahabat lainnya. Beliau memperhatikan bahwa sebelum berdiri, Nabi ﷺ mengucapkan istighfar berulang-ulang. Ibnu Umar pun menghitungnya, dan ternyata mencapai seratus kali. Beliau tidak hanya menghitung, tetapi juga meriwayatkan hal ini kepada umat setelahnya, agar kita semua meneladani Nabi ﷺ.

Hikmahnya: Kesungguhan para sahabat dalam mencatat sunnah Nabi ﷺ, sekecil apa pun, menjadi sebab terjaganya ajaran Islam hingga kini. Dan betapa besar kerendahan hati Nabi ﷺ, yang meski telah dijamin surga, tetap memperbanyak istighfar.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak istighfar, terutama saat hendak berdiri dari majelis, dengan membaca: "Rabbighfirlī watub 'alayya innaka antat-Tawwābul-Ghafūr."
  2. Teladani kerendahan hati Nabi ﷺ yang tidak pernah merasa cukup dengan amal, meski telah diampuni.
  3. Jadikan istighfar sebagai penutup majelis untuk menghapus dosa-dosa kecil yang mungkin terjadi selama berbicara.
  4. Yakini bahwa Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengampun bagi hamba yang kembali dengan ikhlas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?